
Langkah Kinan sempat terhenti di tengah ruangan, bola matanya membulat melihat apa yang kini ada di hadapannya. Itu hanya bagian atas tubuh Piter, dia juga sudah pernah melihatnya, bahkan keseluruhan nya, tapi kenapa melihat nya saat ini membuat jantung nya berdegub sangat kencang ya?
Waktunya nya untuk menikmati tubuh gagah Piter berakhir sudah. Suara Saga yang datang dari arah belakang, mengagetkan nya. "Tante Kinan.." teriak anak itu berlari menghambur memeluk pinggang Kinan.
"Ssssst..nanti om kamu bangun" bisik nya yang diangguk Saga.
"Kita main aja yok" tawar nya sambil mengangkat buku gambar dan cat air yang di pegang nya.
Kinan mengangguk, dengan berat mengikuti tarikan anak itu, walau sebenarnya hati nya masih ingin ada di sana. Menikmati pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat.
Setengah jam berlalu, keduanya sibuk menggambar di meja belajar yang ada di kamar Bintang. Tanpa sadar, seseorang masuk tanpa suara berdiam di dekat pintu memandangi keduanya.
"Om Piter.." teriak Saga kala melihat om nya sudah ada di sana berdiri melipat tangan di dada.
"Lagi ngapain?" Piter maju mendekat, berdiri tepat di belakang tubuh Kinan. Pria itu bahkan tidak berbuat apa pun juga tapi bulu kuduk di tengkuk Kinan bisa berinding.
"Lagi gambar ini om, tante Kinan jago loh gambar pohon, lihat nih batangnya besar dan kuat" Saga menyodorkan gambarnya.
"Dia bukan cuma jago gambar batang, pegang batang aja lihai"
Mendengar kalimat ambigu Piter membuat wajah Kinan memerah, malu setengah mati. Dia tahu kemana arah pembicaraan Piter. Kinan hanya bisa mengutuk mulut pria itu karena sudah mengingatkan nya pada malam-malam panas mereka saat menjadi suami istri.
Piter bisa melihat itu, dua kali dengan gerakan ragu-ragu dia mengusap tengkuknya. Piter memberi ketenangan untuk wanita itu dengan memilih duduk di samping Saga. Setelahnya, Piter yang menemani Saga menggambar, seolah hanya mereka berdua yang ada di sana, Kinan hanya dia, memfokuskan tatapannya pada gambar Saga.
Tidak lama keadaan sunyi tanpa ada suara yang terdengar. Kinan hanya menunduk, tepat ketika jemarinya di genggam oleh Piter tiba-tiba, Kinan mengangkat wajahnya. Jari mereka saling bertaut di belakang punggung Saga. Kinan tidak menarik jemari nya, ingin melihat kearah Piter, tapi tidak berani. Pegangan itu hanya lima menit, setelahnya Piter melepas tangan Kinan, gadis itu pikir karena Piter bosan, tapi ternyata pria itu ingin mengangkat tubuh Saga yang sudah jatuh tertidur di atas meja.
Kinan mengikuti gerakan Piter, anak itu dibaringkan di ranjang, tertidur dengan lelapnya. Keresahan Kinan berlanjut, saat Piter kini duduk di dekat nya.
"Kau kesini?"
"Hah? oh iya, tadi Bee nelpon, minta tolong jaga Saga di rumah ibu" suara Kinan terdengar begitu lembut di telinga Piter. Kinan adalah kebalikan Bee. Kalau kakak iparnya itu tegas, berani dan keras kepala, Kinan sebaliknya, lembut, penakut dan sedikit plin-plan.
Paham lah Piter kini. Semua ini akal-akalan Bee untuk mempertemukan mereka.
"Kamu apa kabar?" tanya Kinan mengangkat sedikit wajahnya, lalu buru-buru menunduk lagi karena mata elang Piter begitu intens menatap nya.
"Aku..aku ga jadi nikah" suara itu begitu pelan, tapi itu adalah kalimat terindah dan ternyaring di telinga Piter.
Tidak perduli apa pun alasan pembatalan pernikahan itu, yang Piter ingin kan adalah kenyataan Kinan belum menikah. Dengan cepat, Piter mengikis jarak mereka, menarik tubuh Kinan dan mendudukkan nya di pangkuannya lalu memegang tengkuk gadis itu yang masih terus meremang. Selanjutnya yang bisa Kinan rasakan adalah rasa manis pada mulut nya. Lidah Piter bahkan sudah merajai rongga mulutnya, mengh*sap dan menj*lati bibirnya. Tidak puas sampai di situ, Piter yang mendapat lampu hijau dari Kinan, sudah menyusupkan tangannya ke dalam balik blouse Kinan. Menangkup salah satu benda sintal itu untuk dia nikmati.
Piter melepaskan Kinan, dan memberi ruang diantara mereka. "Menikah lah dengan ku Nan, aku mohon. Aku tidak sanggup berpisah lagi dengan mu. Kalau kau tidak jadi menikah entah dengan si brengsek yang mana pun itu, maka menikah lah dengan ku" Piter menyatukan kening mereka. Hati nya begitu menginginkan gadis ini. Sangat!
"Aku sangat merindukan mu. Tau kah kau, dua minggu tidak bicara dengan mu membuat seperti orang gila. Aku bisa melihatmu, tapi tidak bisa menyentuh mu, sakit di sini" Piter menarik tangan Kinan, meletakkan telapak tanga gadis itu di dadanya"
"Aku juga merindukan mu. Sangat merindukanmu" ucap Kinan dengan bulir air mata menetes di pipi, begitu terharu mendengar perkataan Piter, ternyata tidak hanya dia yang merasakan kehampaan saat mereka berpisah.
"Kalau begitu, ayo kita menikah"
"Aku mau, tapi papa.." Kinan tidak meneruskan.
"Kau masih takut untuk berjuang bersama ku? kita sama-sama bisa membujuk papa mu agar memberikan restu nya pada kita" Piter menangkup wajah Kinan, menatap pada netra gadis itu, berusaha meyakinkan Kinan bahwa tempat terbaik adalah di sisinya.
"Aku mau. Tapi aku mohon kamu bersabar ya. Saat ini papa mengalami masalah serius dengan perusahaannya. Waktu dan pikirannya sudah tersita untuk memikirkan hal itu. Aku ga mau menambah beban pikirannya dengan masalah kita. Kamu mau kan?" berganti, kali ini Kinan yang menelusuri wajah pria itu. Bulu-bulu halus kini mulai tumbuh di rahang pria itu. Kinan tidak suka, lebih menyukai wajah Piter yang bersih.
Mendengar perkataan Kinan, Piter yakin bahwa gadis itu tidak tahu kalau Piter lah yang menjadi pengacara ayahnya.
"Baik lah. Aku akan ikut kata tuan putri, asal please jangan lagi meninggalkan ku dalam kecewa dan kesedihan"
"Iya, aku janji. Aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain kamu" Kinan mencubit ujung hidung mancung Piter.
Lalu sisa waktu yang ada mereka habiskan bergulat asmara, memadu kasih. Piter sebenarnya sudah tidak tahan lagi, miliknya bahkan sudah mengeras di balik celana nya. Sementara leher dan dada Kinan sudah di lebelin oleh Piter. H*sapan nikmat itu bahkan terasa membakar tubun Kinan, hingga miliknya berdenyut. Saat Piter sampai pada ujung gunung kembar nya, Kinan harus merapatkan pahanya Karen merasa miliknya berdenyut dan basah.
Pakaian Kinan sudah acak-acakan, begitu pun rambutnya. Tidak punya pilihan lain, mereka melakukan nya di lantai agar tidak terlihat oleh Saga yang tidur di ranjang.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Nan" bisik nya di atas bibir Kinan.
Sayup-sayup dari luar terdengar suara langkah kaki orang yang mulai mendekat ke arah pintu kamar.