Sold

Sold
Sidang Cerai



Panggilan pertama untuk persidangan perceraian nya dengan Kinan, pria itu sudah mangkir. Dia masih bersikeras untuk tidak mau bercerai. Tapi Kinan tidak perduli. Dia tetap pada keputusannya.


Tapi saat di gelarnya persidangan ketiga, Piter akhirnya mau menghadiri nya. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah pisah rumah hampir tiga bulan.


Kenapa akhirnya Piter mau datang, bukan kah dia tidak ingin bercerai dengan Kinan? justru itu, dia datang hanya untuk bertemu dengan gadis itu. Dia ingin mencoba peruntungannya sekali lagi.


Terbukti, walau dia hadir di sana, dia tidak mau masuk ke dalam ruang persidangan hanya pengacara nya yang mewakili seperti biasanya. Dia tetap di mobil menunggu hingga Kinan keluar.


Kinan berjalan keluar gedung beriringan dengan Kia. Piter bisa melihat jelas mereka tampak begitu akrab bicara satu dengan yang lain. Bahkan entah apa yang di bisik kan pria itu hingga mampu membuat Kinan tertawa segembira itu.


Ah..kau tampak sangat cantik tertawa seperti itu Nan. Kenapa baru sekarang aku menyadari keberadaan mu di hatiku, saat ujung jalan untuk kita bersama sudah sampai akhirnya?


Kinan akan segera masuk ke dalam mobil Kia saat tangan wanita itu di tahan Piter. Kinan tersentak kaget, begitu pun Kia di seberang mobil.


"Piter, lepasin. Kamu apa-apaan sih?" bentak Kinan menyentak tangannya yang di pegang Piter.


"Aku mau bicara dengan mu" ucap Piter tegas, tidak membiarkan Kinan beradu kontak mata dengan Kia.


"Aku ga mau" jawab gadis itu tetap meronta.


"Lepaskan dia, Piter!"


"Tutup mulut lo! Siapa lo? ga usah ikut campur. Lo cuma pengacara nya, sementara gue masih suami nya!"


Kia sudah mengitari mobil, berdiri menantang di hadapan Piter. Bagi Kia yang memang hobby berkelahi, momen ini bisa dia gunakan untuk memuaskan kekesalannya pada keluarga Danendra. Tidak dapat abang nya, adik nya pun jadi. Toh dua-duanya juga buaya yang buat istri mereka hidup sengsara.


"Gue saat ini memang pengacaranya, tapi enam bulan ke depan, gue bisa aja jadi suaminya kan?" pancing Kia. Dia benar-benar bern*fsu menghajar salah satu Danendra ini, walau pun sebenarnya lebih baik lagi kalau yang menerima pukulannya adalah Bintang karena sudah merebut Bee dari nya.


"Bacot lo" Piter sudah akan melepaskan satu pukulan di rahang Kia, tapi Kinan dengan cepat menghalangi.


"Kau mau bicara kan? ayo" Kinan menatap garang sebelum melangkah menuju mobil Piter.


Alasan Kinan melerai perkelahian itu juga muncul begitu saja. Sebenarnya lebih baik kalau Kia memukul Piter, tapi tiba-tiba pemikiran Piter bisa di tuntut balik oleh Kia atas penganiayaan akan membuat Piter di proses secara hukum dan karirnya juga bisa tamat. Dia tidak tega kalau sampai hal itu terjadi.


Bukan nya Kinan tidak tahu, kalau Kia sengaja memancing Piter untuk memukulnya.


"Gue setuju bantuin lo. Gue punya dendam tersendiri sama abang adik itu. Yang mana duluan bisa gue beresin juga ga ada masalah, asal bisa menghajar mereka." Ucapan Kia waktu menerima permintaan Kinan jadi pengacaranya tiba-tiba terlintas, hingga refleks hati nya tidak tega jika Piter masuk dalam perangkap Kia.


***


"Cepat kata kan apa yang ingin kau bicarakan, aku harus segera kembali ke kantor" ucap Kinan.


"Baik lah kalau begitu, aku antar kau ke kantor" Kinan menutup mulutnya, membatalkan niat nya untuk protes. "Tidak ada gunanya membantah pria gila ini" batinnya.


"Apa sebenarnya nya yang mau kau katakan padaku, aku sibuk, banyak kerjaan" ucap Kinan duduk di salah satu sofa di ruang kerjanya.


"Aku rindu kamu" ucap Piter duduk di meja di hadapan Kinan. Saat melihat reaksi jengah Kinan dan niat nya untuk beranjak, Piter menahan tangan Kinan, bahkan pahanya mengempit paha Kinan agar tidak bisa bergerak.


Bola mata Kinan membulat. Penyesalannya datang, harus nya dia biarkan saja Kia memukul pria itu, siapa tahu otak nya jadi lurus.


"Nan, ayo kita coba lagi dari awal"


"Pernikahan bukan untuk coba-coba" ujar Kinan tampak garang. Padahal debar jantung nya kencang. Dia yakin Piter pasti bisa mendengarnya.


"Kasih aku satu kesempatan lagi Nan, buat aku menunjukkan keseriusan ku"


"Aku ga bisa. Aku tetap ingin bercerai" ucap Kinan bersandar ke sofa.


"Kenapa ga bisa?"


"Kamu aneh ya Ter. Bukan nya kamu dulu menolak pernikahan ini. Kenapa sekarang kamu malah ingin mempertahankan nya?" hardik Kinan semakin kesal. Piter seolah ingin mempermainkan dirinya.


"Karena baru aku sadari, aku ga bisa menjalani hari-hari ku tanpa mu. Nan, aku sudah terlalu nyaman di sisimu. Justru aku akan gelisah kalau kau jauh dari ku" ucap Piter mengulurkan telapak tangannya untuk menyentuh pipi Kinan.


Pacuan jantung Kinan semakin kencang. Hati nya bergetar, sentuhan pria itu di wajahnya bisa dia rasakan hangat hingga seluruh tubuhnya.


"Kenapa kamu menyiksaku Ter? untuk apa kamu mengatakan semua ini? aku tahu kamu berbohong" bulir bening itu lolos dari menara pertahanan. Piter sigap menghapusnya dengan jemarinya.


"Jangan menangis. Aku mohon jangan menangis Nan. Aku tidak bermaksud menyiksamu. Aku hanya ingin bersama mu"


"Untuk apa? bukan kah kau lebih bahagia bersama kekasihmu itu?" ucap Kinan semakin larut dalam kesedihannya.


"Kekasih apa?" Piter mengerutkan kening tak mengerti.


"Hari dimana aku meminta mu untuk menemaniku ke dokter untuk yang terakhir kalinya, saat itu kau mengatakan sedang sibuk dengan pekerjaan yang tidak bisa kau tinggalkan. Tahu kah kau Ter, saat aku menghubungi mu, aku berdiri tidak jauh dari mu. Dari tempat ku aku bisa melihat kau bersama wanita itu, merangkul dengan mesra. Jadi apa kah aku harus percaya pada mu kali ini?" pipi Kinan semakin basah, air matanya bak air bandang, terus turun tiada henti.


Piter kaget bukan main. Tidak menyangka peristiwa itu bisa Kinan simpan selama ini. Seandainya hari itu atau esoknya Kinan menanyakannya, pasti dia akan menjelaskan dengan senang hati.


Tubuh Piter merosot lemas. Kebodohannya yang tidak menjelaskan pada Kinan perihal hari dia ingin pisah dengan Kirei justru menjadi bumerang buat rumah tangganya. Awalnya Piter kira, setelah memutuskan Kirei dia bisa menikmati rumah tangganya dengan tenang dengan Kinan. Tapi nyatanya..


"Nan, aku minta maaf sudah berbohong pada mu hari itu. Tapi yang sebenarnya, hari itu aku bertemu dengan Kirei untuk mengatakan niatku berpisah dengan nya. Tentu saja dia tidak terima, tapi aku tidak perduli, aku tetap ingin berpisah dengannya, lalu dia meminta syarat untuk menemaninya seharian, agar dia mau berpisah. Maaf kan aku, Kinan. Aku sudah tidak punya hubungan apa pun dengan Kirei"


"Semua sudah terlambat, Ter.." Kinan menatap penuh sedih kearah Piter. Kenapa baru sekarang pria itu menjelaskan hal itu, setelah proses perceraian terjadi, terlebih setelah papa nya bersumpah tidak akan memaafkan Piter lagi!