
Berbeda dengan Bintang yang tampak tenang, Bee justru panik mendengar ucapan ibu. Tak ada nada bercanda, dan sorot mata ibu tajam menatap Bintang.
"Ibu..tenang lah.. ibu ingin menantu kan? ini udah aku bawakan, jadi lupakan gadis bernama Lilis itu" ucap Bintang santai.
Mata Ibu menatap Bee lalu ke arah Bintang, begitu sampai dua kali. Masih belum percaya. Bukan apa, anak nakal nya itu sudah terlalu sering memberi harapan palsu pada ibu nya setiap membahas Soal pernikahan.
"Katakan pada ibu, apa kamu di minta anak nakal ini untuk pura-pura jadi pasangannya?"
Bee yang masih belum kembali dari keterkejutannya, hanya bisa menggeleng gugup.
"Dia mengancam mu untuk menjadi pacar gadungan nya? jangan takut nak, ibu akan melindungi mu" cerca ibu tak memberi kesempatan pada Bee untuk sekedar melihat ke arah Bintang.
"Ti-dak Bu" ibu sudah mengunci tatapan Bee hingga hanya wajah ibu yang dapat dia lihat. Sementara Bintang, menahan tawa nya yang begitu ingin dia lepaskan.
Sesaat ibu menyandarkan punggungnya ke kursi. Berfikir sesaat. "Bintang maksud kamu apa? siapa gadis ini?" hardik ibu serius. Pandangannya bahkan seperti ingin menguliti Bintang.
"Dia Bellaetrix.." sahutnya pendek.
"Lalu?" susul ibu yang kesabarannya sudah level terendah.
"Dia istriku Bu, sah! sudah mau dua bulan" ucap Bintang masih tenang. Mengedipkan sebelah matanya pada ibu bermaksud menggoda.
"Kamu jangan bicara sembarangan. Mengklaim anak gadis orang sebagai istri hanya agar bisa menghindari perjodohan yang ibu buat? terlalu kamu!"
Bintang berdiri, duduk di samping ibunya. "Kamu minta maaf Bu, terlebih aku sendiri. Sudah menjadi anak durhaka, menikah tanpa meminta restu dari ibu" Bintang mengangkat kedua tangan ibu lalu membawa ke bibirnya untuk di cium.
Dia tahu, ibu belum percaya dan masih akan terus bertanya, maka Bintang mengeluarkan buku nikah mereka dari kantong jasnya.
Dengan tangan gemetar, Ibu menerima benda itu, lalu sejurus menatap Bintang. Pria itu mengangguk untuk menyakinkan ibu nya kembali. Ibu pun tak lepas menatap Bee, ingin memastikan bahwa tak ada permainan.
Hati seorang ibu begitu sensitif mengenai yang berhubungan dengan anak nya. Apa lagi masalah sebesar ini. Air mata ibu turun, pandangannya hanya tertuju pada benda di tangannya itu.
"Ibu, aku mohon jangan menangis. Keadaannya saat itu begitu mendesak, hingga aku tidak sempat memberitahukan ibu. Dan lagi, aku kenal ibu bagaimana, alih-alih merestui dengan cepat, ibu malah akan membuat pesta besar-besaran, mengundang media dan semua kenalan ibu. Dan itu pasti butuh waktu lama" ucap Bintang mengelus pundak ibunya, menarik dalam pelukannya.
Ada rasa bersalah hinggap di sanubari. Ibu nya pasti menginginkan pesta pernikahan anak nya dengan meriah, bukan malah terkesan di tutup-tutupi seperti ini.
"Apa dia hamil, hingga kau harus menikahi nya dengan terburu-buru?" sela ibu diantara Isak nya.
Wajah Bee seketika memerah. Ada perasaan malu, lalu berubah takut. Bagiamana kalau ibu marah dan menganggap dirinya wanita menjijikkan, karena mau dinikahi demi uang?!
"Tidak Bu, Bee tidak hamil. Doakan saja biar ibu segera punya cucu"
Kini Ibu bisa bernafas lega. Dia sedang tidak lagi di permainan kan putranya. Dia benar-benar punya menanti sekarang. Bukan kah itu yang terpenting? dengan punggung tangannya, Ibu menghapus jejak air matanya.
Sesaat ibu mengingat sesuatu, ditatap nya jemari nya, lalu tersenyum. "Kini saat nya kau pindah pada pemilik baru mu" ucap ibu membuka cincin di jari nya. Cincin itu begitu indah. Bee belum pernah melihat cincin dengan hiasan berlian biru.
"Ibu ini.." Bee takjub menatap indah nya cincin itu ada di jemarinya yang putih.
"Ini cincin turun-temurun yang di berikan nenek nya Bintang pada Ibu, yang juga dulu di dapat beliau dari mertuanya. Dan kini, cincin ini ibu berikan padamu. Selamat datang di keluarga Danendra, nak.." ucap ibu membelai pipi Bee.
Air mata Bee tak kuasa turun. Dia begitu terharu. Dia kira dirinya akan di caci maki ibu Bintang, tapi kini justru di sambut dan di terima dengan hangat.
Entah mengapa, hati Bintang selalu gelisah setiap melihat air mata Bee. Dia begitu lemah, tak ingin gadis itu bersedih. Bintang ingin meraih wajah gadis itu, menyapu air mata di pipinya, tapi ibu sudah lebih dulu menarik Bee ke dalam pelukan wanita tua itu.
"Pergi, ambilkan air hangat untuk istrimu" hardik ibu pada Bintang.
"Kenapa aku bu, ada banyak pelayan di rumah ini" tolak Bintang masih tak mau bergerak. Matanya terus menatap Bee.
"Pergi lah, ibu ingin bicara berdua dengan Bee. Kalau bisa kau ambil minum nya ke Kalimantan, biar lama!"
"Jangan menangis. Mulai saat ini kamu mantu sekaligus putriku. Ibu berharap kalian bahagia, dan cepat memberiku cucu. Dan kamu harus lebih bersabar pada anak nakal itu" ucap Ibu setelah Bintang berlalu.
Setelah melerai pelukannya, Bee membersihkan air matanya.
"Kamu nyaman dengan Bintang? kenapa kamu mau menikahi nya? Bintang adalah anak sulung ibu. Dia adalah pria yang baik, walau pun sikap cueknya lebih dominan, dia adalah pria yang penyayang. Terlebih pada wanita yang ada dalam hidupnya"
Ibu masih asik bercerita, dan Bee mendengarkan dengan senang hati. Entah mengapa hatinya menghangat. Dia begitu senang mendengar masa kecil Bintang, seolah saat ini apa yang berhubungan dengan Bintang begitu dia sukai.
"Apa kamu mencintai anak ku?"
Pertanyaan yang sama sekali tidak di duga Bee akan di tanyakan oleh Ibu. Bagaimana Bee akan menjawab. Dia sudah jatuh hati dengan Ibu, dan tak ingin berbohong pada beliau. Tapi Bee juga sadar, jika dia jujur hati ibu juga akan sakit.
"Aku..aku..ibu kami.."
"Sudahlah. Tak masalah kalau saat ini kamu belum mencintai anak ku sepenuhnya. Kalian memutuskan untuk menikah, berarti ada satu keinginan untuk bersama. Terlepas apa alasan kalian awalnya"
"Aku minta maaf Bu" ucap Bee menatap manik wanita itu. Benar kan, ada riak kesedihan.
"Tapi kamu mau kan memberikan aku cucu?" desak sang ibu. Dengan wajah malu, Bee mengangguk, lalu menunduk.
Malam itu, Bee makan dengan lahap. Masakan ibu sangat lezat. Dia bahkan tambah hingga dua kali. Bintang begitu bahagia melihat wajah riang ibu dan istri nya. Mereka tampak seperti keluarga bahagia seutuhnya.
Dengan perut kekenyangan, Bee masih dirangkul ibu duduk di sofa, saling bercerita seru melupakan Bintang yang juga ada di sana bersama mereka.
"Selamat malam semua, ada tamu istimewa rupanya" suara pria yang baru masuk tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Piter, kamu ngapain di sini?"