
Dengan lelah mereka akhirnya pulang dan kini sudah memasuki perumahan mereka. Bee memaksa agar ketiga sahabatnya itu ikut bersama mereka.
Setelah mengantar Lala, penumpang yang terakhir ke rumahnya, mobil mewah itu berhenti di depan rumah Bintang.
"Kenapa berhenti di sini? rumah gue masih ke depan lagi ya.." ucap nya dengan angkuhnya. Namun Bintang tak perduli, membuka seatbelt nya dan turun dari mobil.
Dengan kesal Bee ikut turun, membuka pintu mobil secara paksa dan menghempaskan nya dengan keras.
Terserah deh..gue bisa jalan ini..
Tapi langkah nya kini terhenti, saat pergelangan tangannya di tarik oleh Bintang, dan menyeret langkah gadis itu ke arah pintu rumahnya.
Ingin teriak, tapi Bee malu pada tetangga serta yang paling membuat Bee seolah terbodoh, adalah ketika melihat sorot tajam mata Bintang yang penuh amarah. Kilat merah itu begitu menakutkan dan belum pernah dia lihat sebelumnya.
Bee mengikuti langkah pria itu, saat membawanya masuk kedalam rumahnya, dengan keras menghempaskan pintu agar tertutup kembali.
Sontak asisten rumah tangga nya keluar untuk melihat suara gaduh dari daun pintu yang di banting.
"Masuk! jangan keluar walau gempa sekalipun!" salak nya penuh kesetanan.
Masih tidak menyadari apa yang sudah membuat Bintang seperti itu, Bee hanya menatap dengan takut. Wajah teduh pria itu yang selama ini dia lihat entah kemana perginya. Berubah seperti wajah orang yang kesurupan dalam film barat yang sering dia tonton.
Setelah beberapa menit diam, dan Bee yang terkurung oleh tubuhnya di tembok, Bintang akhirnya angkat bicara dengan suara dingin yang sangat menakutkan.
"Apa yang sudah kau lakukan dan katakan pada teman mu di toko sepatu tadi adalah bentuk pembalasan mu padaku, ingin mempermalukan ku dan melukai harga diriku, dan kau berhasil melakukan nya!" ucap Bintang dingin dengan hembusan nafas berat menerpa wajah gadis yang kini ketakutan itu.
"Tapi jangan lampaui batas mu Bellaetrix Elaina. Kalau tadi adalah hukuman dari mu untuk ku, maka ini adalah hukuman ku untuk mu!"
Sesudah nya, tak ada suara. Hanya aksi. Bintang melahap bibir gadis itu penuh amarah, tuntutan, yang siap membakar jiwa gadis itu. Bintang ingin berbagi luka pada gadis itu, melalui ciuman dan gigitan pada bibir Bee hingga berdarah.
Tak memberi ampun, Bintang sudah turun, menjelajah leher jenjang nan mulus itu, dengan tangan bergerilya meremas bukit indah milik Bee.
Bee bisa merasakan rasa sakit hati yang coba di tunjukkan Bintang padanya. Pria itu tersakiti oleh hinaan nya. Dia sedih di perlakukan Bintang seperti ini, namun sorot mata terluka Pria itu yang dia lihat tadi seolah menjelaskan betapa jahatnya perbuatannya pada pria itu.
Pria itu bisa saja membalasnya, mempermalukannya juga di depan sahabatnya. Toh, yang salah papa nya yang seorang penjudi. Tapi Bintang tak melakukannya, jadi dia akan terima hukuman ini. Ikut merasakan sakit yang Bintang rasakan malam ini karena ulahnya!
Ciuman itu kian panas, dan semakin menuntut. Hingga hilang kendali, Bintang terus menjelajah, hingga tangannya menyusup ke balik gaun gadis itu, meremas puncak miliknya.
Tangisan panik Bee menjadi alarm penyadaran dirinya. Baru lah tersadar akan apa yang sudah dia lakukan pada Bee.
Ini aneh. Harusnya dia marah dan memaki pria itu, karena sudah menggerayangi nya. Alih-alih marah, dia justru mau di peluk, dan yang paling buat Bee tak habis pikir, pelukan Bintang begitu nyaman, hangat dan menenangkan.
Ga! dia ga bisa seperti ini terus. Selalu terbuai, terlena akan pesona dan sentuhan memabukkan pria itu di atas kulitnya. Dia sudah gila, itu pasti!
Tak ada kata, kedua nya hanya terdiam. Menyimpan semua dalam hati dan pikiran masing-masing. Dengan saling menggenggam tangan, Bintang mengantar Bee kerumahnya yang tepat di sebelah rumah pria itu.
"Beristirahat lah.." hanya itu yang di ucapkan Bintang, sebelum membuka pintu rumah Hutomo, menyuruh Bee masuk melalu gerakan matanya, lalu setelah nya pulang.
Seperti menginjak paku, Bee berjalan dengan sangat perlahan. Harus nya dia sudah tidak kaku dan takut lagi. Dia sudah aman. Kini dia ada di rumah. Tapi mungkin tubuhnya, bukan jiwa nya yang kini melanglang entah kemana. Bukan..bukan pergi mengikuti pria itu. Dia tak sebodoh itu kan??!
Di kamar, Bee duduk bersandar pada tempat tidur. Entah bagaimana pikirannya saat ini. Harusnya yang ada di pikirannya saat ini Elang. Ya Elang.. bagaimana perlombaan yang dia ikuti malam ini? apa dia menang? Bee coba terus membuang sosok yang kini tengah bersarang di pikirannya.
***
Suara kicau burung di luar sana, tak mampu membangun kan tubuh letih itu. Semalaman dia hanya merenung, tanpa bisa terpejam sedikitpun. Saat suara adzan subuh berkumandang, baru lah dia bisa mendayung mimpinya.
"Bangun sayang.." ucap tante Di membelai wajahnya, namun sang empunya tetap tak bergeming.
Dua kali mencoba namun Bee tidur seperti mayat, tak bergerak sama sekali, hingga tante Di memutuskan untuk membiarkan nya tidur lagi, meninggalkan dirinya.
Pukul satu siang baru lah Bee bisa membuka matanya, itu pun karena dorongan ke kamar mandi.
Desakan cacing dalam perutnya yang sedari tadi demo menyeret kaki nya turun ke dapur untuk melihat apa yang bisa dia makan karena rasa lapar nya seperti sudah tak menjamah makanan selama seminggu.
Santai menyantap makanannya, Bee di kejutkan oleh suara tante Di yang ikut bergabung dengannya. Bukan untuk makan, hanya menemani Bee makan sembari berbincang.
"Kamu tadi malam apa ga tidur Bee? tante bangunkan, kamu sama sekali ga bergerak. Udah kaya mayat hidup tahu ga" ucap tante Di.
"Ga bisa tidur aku tan, subuh baru bisa terlelap. Lagian kan libur tan, ga papa dong bangun siang" celetuk nya menyuap nasi ke mulut.
"Iya, tapi jadi ga enak kan sama Bintang, lama dia nungguin kamu bangun, ada kali tiga jam nunggu di sini sebelum berangkat ke Jakarta"
Hampir saja air yang tengah dia tenggak dari gelas, kembali muncrat keluar ketika mendengar ucapan tante Di.
Bintang balik ke Jakarta? apa dia udah ngelepas gue? apa rencana pernikahan nya di batalkan?
Harus nya sih Bee gembira, bebas dari cengkeraman pria itu. Kini dia bebas untuk melanjutkan hubungannya dengan Elang. Tapi kenapa ada yang berbeda yang dia rasakan..sedetik kemudian, tanpa sadar tangannya meraba dadanya yang terasa hampa.