
Proyektor sudah di pasang, sudah terpantul pada layar. Bee juga sudah berdoa di dalam hati sebelum persentase nya di mulai. Satu demi satu di tatapnya tim penguji. Ada dia di sana. Pak Yosep yang entah kenapa, perjaka tua itu tidak pernah bersikap ramah pada Bee.
Di kelas pun pada saat mengajar, pak Yosep selalu punya alasan untuk menegur nya. Sejak saat itu Bee menyimpulkan bahwa pria itu tidak menyukainya.
"Silahkan di mulai.."suara moderator tegas membuat Bee sedikit terkejut karena pikirannya terbagi pada tatapan serigala di depan nya.
Tapi Bee melakukannya dengan sebaik-baiknya. Semua kemampuan dan pengetahuan yang dia miliki di kerahkan untuk berbicara di bawah tekanan. Dari isi skripsi nya dia juga sebenarnya sudah bisa memprediksi pertanyaan apa yang akan di ajukan oleh para penguji, hingga dia bisa menjawab nya penuh percaya diri. Tapi lagi-lagi di Yosep ini tidak melepaskannya. Hal sekecil tanda baca dan isi dari paragraf yang kurang padat pun menjadi bahan pertanyaan nya untuk menggoyang Bee.
"Menurut saya, kalau hal itu, masih bisa di maklumi prof." sambar dosen pembimbing Bee yang memang berkewajiban membela anaknya. Karena jika isi skripsi yang di bedah banyak di protes, maka dia sebagai dosen pembimbing akan di pertanyakan kredibilitas nya.
Suasana memanas. Justru bukan Bee lagi yang adu argumen di dalam sana, tapi dosen pembimbing dan pak Yosep, si cadas.
Akhirnya masa menegangkan itu berakhir. Bee bisa bernafas lega, bahkan sampai menetes kan air mata saat dinyatakan lulus, walau untuk pak Yosep masih banyak revisi. Tapi Bee tidak perduli, yang penting dia tidak gagal. Dari hasil pendapat dari keempat penguji lainnya, tentu saja di luar pak Yosep, Bee yakin mereka akan memberikan nilai yang bagus.
Setelah menyalami semua penguji, Bee keluar dengan senyum penuh kemenangan. Senyum nya lebih lebar lagi saat melihat siapa yang menyambut nya di depan pintu. Tanpa sadar air mata haru menetes di pipinya. Gadis itu berlari menghambur ke pelukan pria itu dan menangis di dadanya. "Bu dokter jangan nangis dong" goda Bintang yang semakin membuat Bee terisak. Bintang mengurai jarak mereka, menangkup dagu Bee dan menatap mata wanita nya yang berkabut air mata.
Di hapus nya sisa air mata di mata dan di pipi Bee. Lalu di depan teman-teman Bee yang lain, Bintang mengecup mesra mata kedua kelopak mata Bee yang terpejam, lalu kening istrinya yang di sambut sorak sorai dari teman-teman yang ada di sana.
"Ada apa ini, kenapa begitu berisik?" hardik pak Yosep yang baru saja keluar dari ruangan masih dengan wajah kakunya. Mendadak suara yang tadi heboh jadi hening. Semua orang di sana menunduk takut, hanya Bintang yang menatap tajam pada wajah pria itu.
Bintang mengamati penampilan absurd pak Yosep, dan dia bisa menebak mungkin ini pria yang di ceritakan Bee tempo hari sebagai salah satu penguji yang dia takuti. Bintang memperhatikan, usia mereka mungkin seumuran, atau kalau pun sang dosen lebih tua, paling juga lima tahun dari nya.
"Ga usah norak. Kamu mau selebrasi gimana aja terserah, tapi jangan di sini. Ini kampus. Jangan sementang kamu sudah selesai meja hijau jadi merasa hebat tidak menghargai almamater mu ya" hardiknya pada Bee yang dia lihat tengah di rangkul Bintang.
"Oooww..santai prof. Jangan marahi istri saya. Saya tidak akan bisa menolerir siapa pun berkata kasar pada istri saya ya" hardik nya menatap tajam dan menantang pada pak Yosep.
"Udah kak, ayo pergi. Maaf pak, kami salah. Kami pamit pak" ucap Bee buru-buru menyeret Bintang pergi dari situ sebelum pria itu membalas lebih sakit pada Yosep.
"Ngapain di tarik sih yang, biar aku hajar pria aneh itu" umpat Bintang kesal. Tidak ada yang boleh membentak Bee.
"Itu dosen aku kak. Segila gimana pun dia, kamu jangan berpikir buat menghajar nya. Aku juga butuh revisi dari dia, butuh tanda tangan nya biar skripsi aku bisa di cetak"
"Ini buat kamu sayang. Sampai lupa ngasih" ucap Bintang sesampainya mereka di parkiran kampus. Satu buket bunga rose pink yang indah, diambil dari dalam mobil dan di persembahkan pada Bee.
"Makasih banyak sayang.." dan Bintang pun mencuri cium dari bibir Bee sebelum mereka melangkah pergi dari sana.
***
Nyatanya Bintang ingin merayakan keberhasilan Bee dengan membawa gadis itu ke hotel miliknya. Bee hanya menurut, dia juga ingin berbagi kebahagiaan dengan jadi istri penurut pada suami bucin nya.
"Tapi jangan nginap ya kak. Kasihan Saga di rumah nungguin kita"
Pergulatan keduanya sudah di tebak Bee tidak akan berlangsung lama. Bintang terus mengulang reka adegan hingga empat kali sebelum keduanya benar-benar harus pulang.
"Kamu mau hadiah apa yang, buat kelulusan mu?" tanya Bintang tanpa menoleh ke samping. Sejak tadi tangan Bee selalu di genggam nya, kalau butuh dua tangan untuk memegang stir, dia akan meletakkan tangan Bee sementara di atas pahanya.
"Aku ga mau minta apa-apa, karena semua sudah aku miliki dalam hidupku. Yang terpenting ada Saga dan cinta kamu kak buat aku" itu bukan gombalan, karena berasal dari dalam hatinya Bee. Hidupnya terasa begitu di berkahi dengan segala kebahagiaan yang bisa dia dapat. Tugasnya hanya bersyukur dan jangan lupa untuk berbuat baik.
"Tapi aku akan tetap memberikan mu hadiah, dan kamu ga boleh nolak" ucap Bintang menutup pembicaraan mereka.
***
Besok nya, Bintang mengadakan jamuan makan malam di rumah mereka. Hanya ada ibu, Tante Di sekeluarga, dan juga Piter. Tapi tanpa sepengetahuan Piter, Bee juga mengundang Kinan. Entah mengapa hati Bee bilang, kalau kedua manusia itu punya rasa cinta hanya saja malu untuk mengungkap satu sama lain. Jadi Bee ingin memberikan jalan pada mereka untuk kembali dekat.
Dekorasi taman di buat sangat indah. Bintang bahkan sampai mendatangkan event organizer untuk mendekor nya.
Yang pertama kali tiba adalah tante Di dan om Edo. Lalu ada ibu bersama Piter yang tampak memasang wajah masam, pasti baru di ceramahin di sepanjang jalan ke mari.
Tapi wajah bosan dan malas-malasan itu tiba-tiba berubah ceria kala melihat kedatangan Kinan. Piter sudah berdiri akan menyambut wanita yang sudah berminggu tidak dia temui. Terakhir kali bertemu sejak kedatangan Kinan ke apartemennya malam itu, setelah mengantar pulang ke rumah nya, nomor Kinan sudah tidak bisa di hubungi lagi.
Piter berdiri, penuh semangat ingin melangkah ke arah Kinan, tapi niat nya di urungkan karena melihat sosok pria botak di belakang gadis itu. "Sial!"