
Setelah lebih setengah jam menenangkan Kinan, akhirnya gadis itu bisa tenang. Bee sudah mengatakan perintah Bintang tidak perlu di dengar apa lagi di pikiran kan.
"Dia cuma lagi kesal aja dengan ku, karena ga pernah nurut. Semua yang terjadi kemarin bukan salah mu, jadi jangan pikirkan macam-macam"
"Kita tetap berteman kan Bee? masih bisa ketemu?" Kinan memastikan bahwa tidak ada yang berubah diantara mereka. Dan setelah Bee kembali meyakinkan nya baru lah Kinan dapat tenang tidak menangis lagi.
Kalau Bintang memilih mendiaminya, kini Bee tidak perduli lagi. Setelah apa yang dia dengar dari Kinan, Bee menganggap sikap Bintang sudah keterlaluan. Kekhawatiran yang berlebihan juga tidak baik.
Bee memutuskan untuk tidur. Walau pun akan susah tanpa pelukan suaminya, tapi dia akan mencoba.
Pagi menjelang, seperti dejavu, saat Bee bangun, Bintang sudah tidak ada di tempat tidur, dan ini masih jam 7 pagi. Bergegas dia turun, berharap Bintang masih ada di meja makan. Dia ingin bicara, memintanya jangan bersikap dingin dan terlalu posesif padanya. Tapi meja makan sudah kosong. Hanya tersisa bekas kopi milik Bintang yang tinggal setengahnya.
"Pagi Nyah" sapa Wati, koki di rumah itu.
"Pagi, bi. Suami aku udah lama pergi kerja?" ucap nya menopang wajah dengan tangan di atas meja.
"Baru aja Nyah. Mau saya siapkan sarapan nyonya sekarang?"
"Eh..ini aja deh Bi" ucap Bee yang menyadari perhatiannya di tarik oleh nasi goreng yang ada di atas meja. Di sajikan di piring putih lengkap dengan telur mata sapi nya. Dengan lahap Bee menikmati sarapannya. Ludes seketika. Tapi dia masih menginginkannya lagi. Rasa nya sama seperti kemarin, nikmat.
"Bi..bi Wati.." panggilnya menatap ke arah dapur. Tidak lama dengan tergopoh-gopoh Wati menghampiri.
"Maaf Bi, aku mau lagi dong nasi goreng nya" pinta nya malu-malu. Nasi goreng itu memang enak. Biasanya selapar apa pun dia, tidak pernah sampai nambah makanan yang sama, tapi beda dengan yang satu ini.
"Baik. Sebentar bibi siapkan ya Nyah"
Hanya butuh 10 menit buat Wati untuk menyajikan nasi goreng pesanan Bee. Hidung Bee mencium sesuatu yang berbeda.
Satu suapan besar nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Perlahan mulutnya mengunyah, dahi nya berkerut. Ada yang beda.
"Kenapa Nyah?" tanya Wati yang masih di sana, mengamati reaksi nyonya nya.
"Maaf bi, ini kok beda ya rasanya"
"Beda sama yang mana nyah?"
"Sama yang tadi aku makan, yang kemarin aku makan juga sama dengan yang tadi, tapi yang ini agak beda ya bi" ucap nya melihat wajah bi Wati. Sebenarnya tidak enak hati mengatakan hal itu, takut kokinya itu akan tersinggung.
"Oh..ya ga sama nyah, yang nyonya makan kemarin sama yang tadi, yang masak tuan besar. Kata tuan, belakangan ini nyonya ga selera makan, jadi tuan pagi-pagi sudah masuk dapur buatkan nasi goreng untuk nyonya"
Mata Bee memanas. Jantungnya berdegub kencang. Perasaannya menghangat. Mulut Bintang memang masih menghukumnya, tapi perhatian dan kasih sayang nya masih setia menemani dirinya.
"Loh kok nangis nyah? maaf ya, kalau bibi ga bisa buat seperti masakan tuan"
"Iya ga papa bi. Makasih"
Pelayannya sudah kembali ke dapur, dan nasi goreng itu pun tidak bisa Bee habiskan. Ada hal lain yang dia lakukan kini di meja makan. Menangis. Dari bi Wati juga Bee tahu, suaminya lah yang menyiapkan susu untuk nya.
Bibir Bintang boleh terkunci untuk nya, tapi pria besarnya itu tetap memperhatikannya.
***
Pasien yang kini sedang ditangani Bee adalah pasiennya yang terakhir untuk hari ini. Dia ingin cepat pulang dan menunggu suaminya pulang.
Tapi sebelum itu terjadi, perawat nya mengatakan kalau ada seorang pria di ruang tunggu ingin menemui nya.
Pastinya itu bukan Bintang, karena Mita, si perawat kenal dengan suaminya.
"Siapa Mit?" tanya Bee mencuci tangannya dengan sabun di wastafel.
"Katanya teman ibu. Siapa tadi ya..lupa saya Bu. Maaf ya Bu" ucap perawat merapikan data para pasien yang masuk hari ini.
Menjawab rasa penasaran nya, Bee bergegas melihat keluar. Ternyata tamu yang di maksud Mita adalah Kiano. Tapi Bee menghentikan langkahnya saat melihat Kia asik berbincang dengan dr. Citra.
Tampak keduanya begitu asik bercerita. Bee bisa melihat tatapan Kia begitu lembut pada Citra, berbeda saat menatap wanita lain.
"Ehem.." suara Bee membuat keduanya salah tingkah. Wajah Citra memerah bak tomat saat melihat senyum Bee yang penuh arti padanya.
"Itu, Bella udah datang, aku tinggal ya" ucap Citra pamit.
"Cie..yang udah kena panah asmara.." goda Bee. Tidak tahan membiarkan momen ini berlalu begitu saja tanpa menggoda orang paling cool sejagat raya ini.
"Apaan sih lo"
"Udah ga usah ngeles. Kalau lo ga jujur, gue ga mau bantuin dapatin si Citra" Bee memasang wajah serius hingga Kia terkecoh.
"Jangan gitu dong. Tega amat sama teman sendiri"
"Nah, kan lo ngaku juga. Ngomong-ngomong lo ngapain ke sini?" tanya Bee.
"Nih, titipan Kiki. Gue jadi kang paket dimintai tolong sama dia. aMana minta tolong nya maksa lagi" jawab Kia menyerahkan satu box yang sudah di hias berbentuk parcel dengan isi banyak kue kering, coklat dan buah segar.
"Banyak amat" Bee menatap parcel itu lalu ke wajah Kia.
"Please ya, jangan bilang lo nolak, gue ga mau bawa balik, kalau lo ga terima buang ke tempat sampah. Udah, gue mau balik" ucap Kia bangkit di temani Bee berjalan menuju halaman klinik.
"Jangan lupa, bantu gue deketin Citra" bisik Kia mendekat ke telinga Bee agar tidak kedengaran orang. Bee terkikik geli melihat Kia yang begitu ngebet pada Citra. Tanpa mereka ketahui, seseorang sedang memperhatikan mereka dari seberang jalan. Kepalan tangan pria itu menandakan amarahnya yang memuncak. Ingin segera mendatangi keduanya, tapi niatnya di urungkan. Dia tidak ingin emosi yang berlebihan yang kini menguasai membuat keadaan bertambah buruk, semakin kacau, terlebih mempermalukan Bee.
Lagi pula tidak lama, pria itu pergi. Bayangan wajah gembira Bee saat mendengar kata yang di bisikan pria itu membuat darah Bintang mendidih. Dia memutuskan untuk pergi dari sana sebelum emosinya mengambil alih yang mana akan dia sesali nantinya.
Rumah bukan tempat yang Bintang tuju. Dia pergi ke Rock cafe dan bertemu Agus di sana. Meminta nya memberikan minuman yang alkohol nya tinggi, dia ingin lari dari kenyataan yang dia lihat tadi untuk sementara waktu.
"Kenapa lagi lo?" sapa Agus menemaninya duduk. "Ini terlalu pagi untuk mabuk"
"Aku hanya ingin mati suri sesaat!"