
"Kak..aku jangan pakai yang ini dong kak?" ulang Bee memohon sebelum mereka keluar dari ruang ganti.
"Kenapa sih memang nya? bagus lagi. Lo kelihatan cantik dan mempesona. Lagian ya Bee ini gaun tidur pamungkas. Ini model utama dari semua koleksi gaun tidur yang di produksi. Udah, yuk..biar cepat selesai" Seba sudah menarik tangan Bee keluar. Pria itu sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Bintang.
Gue pengen lihat, gimana reaksi si tampan dan bossy itu..lo bisa mengalihkan pandangan dari mantan bini lo ini ga bos..
Mendengar cekikikan tertahan dari Seba, Bee menoleh ke belakang, melihat ada hal lucu apa yang membuat pria tambun itu terkikik.
"Napa kak?"
"Nothing..yuk"
Satu cup capuccino menemani Bintang mengamati jalan nya pemotretan. Di sampingnya tentu saja ada si cantik Kinan yang tidak lepas menemani. Senyum sumringah gadis itu sedari tadi tidak lepas dari wajah nya. Seolah ingin bersikap bak bidadari yang penuh kehangatan.
Hera baru saja menyelesaikan pemotretan single nya, begitu pun dengan Zen sebelumnya. Kini giliran Bee. Kegugupan nya sedikit berkurang, setelah di semangati Seba tadi, dan kini Bee melangkah lebih percaya diri. Menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu nya menatap ke depan.
Itu semua karena kekesalannya melihat Bintang begitu mesra dengan Kinan, seolah tidak canggung akan keberadaan Bee di sana. Jika pria itu bisa bersikap biasa tidak terpengaruh akan hadir nya, lalu kenapa dirinya ambil pusing?
Cup Kopi yang ada di genggaman Bintang hampir saja terjatuh ke lantai, saat ekor matanya melihat Bee berjalan menuju studio. Wajah nya menegang bersamaan urat-urat di tubuh nya yang tiba-tiba kaku.
Apa maksudnya dia mengenakan pakaian itu? sama aja dia t*lanjang. Dan tubuhnya akan di potret dengan pakaian seminim itu? Dasar gila!!
Tatapan nya masih terpaku di sana. Bahkan ucapan Kikan yang sedari tadi ngoceh di sampingnya sama sekali tidak di dengar.
Seba semakin tergelitik. Ini adalah momen yang sangat menyenangkan, bisa mengerjai bos nya itu. Bola mata pria itu bahkan hampir lepas dari tempatnya.
Jika saja Seba tidak takut di keluarkan dari manajemen Danendra's corp, dapat di jamin dia sudah tertawa sepuasnya.
Bintang menoleh pada orang tepat di minta pertanggungjawaban. Apa maksudnya membiarkan Bee menggunakan gaun itu. Siapa pun yang melihat Bee dalam gaun tidur itu, pasti akan menegang, kepala atas dan bawah.
Geraman Bintang semakin mengencang, kala melihat Seba yang terkikik geli.
Dasar gendut sialan, gue b*nuh lo nanti. Lihat aja!
"Tang, kamu dengar ga apa yang aku omongin?" Kikan menarik dagu Bintang agar menghadap ke wajahnya.
"Hah? eh..kamu bilang apa?"
"Iiih..Bintang. Aku bilang, Bella tampak cantik dan menawan dengan gaun tidur itu. Tampak cantik, aku iri dia bisa memiliki tubuh sebagus itu" ujar Kinan memuji.
"Tidak. Aku ga sependapat. Bisa kah kita mengganti modelnya untuk pakaian yang satu itu?" Bintang berharap Kinan akan langsung setuju tanpa harus bertanya ini itu. Tapi tentunya saja itu hanya ada dalam harapnya.
"Memang nya kenapa Tang? bagus kan. Cocok banget malah sama Bella. Ini gaun pamungkas dari koleksi kita musim ini. Udah, Bella aja yang pake. Aku puas banget malah sama pose dia pakai gaun itu"
"Please Kinan, kita ganti aja ya.." Bintang masih merayu. Hatinya semakin panas melihat pose Bee yang menantang di depan photographer itu.
"Iya kenapa dulu. Padahal cocok kok, iya kan kak Seba. Cantik banget malah.." sikut Kinan pada lengan Seba. Mata Bintang semakin membulat ke arah Seba, meminta pria itu untuk setuju pada saran Bintang.
Seba tahu, niat Bintang ingin mengganti Bee karena tidak terima tubuh mulus dan sexy gadis itu di lihat banyak orang, terlebih dengan gaun tidur itu. Pria serakah itu hanya memperbolehkan dirinya saja yang melihat tubuh mantan istrinya.
Dasar lelaki gagal move on!
"Nan, aku kan punya hak juga beri masukan untuk project kita ini. Dan aku minta, untuk mengganti model nya. Pakai saja salah satu dari dua model sebelumnya" pinta nya tegas. Kali ini nada suara nya tidak ingin terbantahkan.
"Kamu kok ngotot banget. Alasan kamu apa Tang?" Kinan tak habis pikir. Padahal semua orang yang ada di studio itu berdecak kagum melihat penampilan Bee.
"Model nya terlalu jelek, tidak menarik. Tidak sesuai. Gaun itu harus di bawakan oleh model yang lebih lugas dan lebih menonjolkan rasa menawarkan, bukan seperti dia" ucap Bintang.
Kalimat Bintang sedari tadi dengan jelas dapat di dengar Bee. Hatinya sakit. Hancur. Bahkan sekarang ini, Bintang menganggap dirinya sudah tidak menarik lagi. Mata Bee panas. Ingin menangis, tapi sekuat mungkin dia tahan.
Dia tidak ingin menunjukkan kegetiran hati nya atas ucapan pria itu. Seandainya dia tahu kalau Bintang juga salah satu investor dalam projects ini, pasti Bee tidak akan mau tanda tangan kontrak.
Masa nya dengan pria itu sudah usai. Bee tahu, kini pria itu menganggapnya hanya masa lalu. Bahkan hanya butiran debu yang tidak ada harga nya.
Bee menganggap, sikap pria itu yang menghina dirinya, karena sudah ada gadis lain yang mengisi hatinya.
"Ok deh. Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat"
"Apa?" sambar Bintang. Apa pun akan dia lakukan, asal bisa menyelamatkan tubuh sang mantan.
"Malam Minggu, kamu ke rumah, ketemu orang tua aku"
Tanpa pikir panjang, Bintang langsung mengangguk.
"Stop dulu deh Rio" ucap Kinan pada photographer.
"Loh kenapa?" tidak hanya Rio, tapi yang lain juga bingung kenapa sesi photo itu di hentikan. Bee tidak melakukan pose yang salah, bahkan mereka semua bisa menikmatinya.
"Iya nih. Sorry ya Bee. Kamu ganti pakaian yang berikutnya aja. Biar yang ini, Zen yang pakai" terang Kinan mendekati Bee.
"Loh kenapa Nan? ini bagus kok. Malah hasilnya sangat memuaskan. Bella bisa mengekspresikan kemewahan dan keindahan gaun ini. Kenapa harus di ganti?" Rio tidak mengerti.
"Sorry deh Yo, ini permintaan Bos kita, tuh.." Kinan menunjuk kearah Bintang yang menatap mereka. Pria itu pun bisa mendengar perdebatan mereka.
"Alasan nya apa?"
"Maaf ya Bella, Bintang bilang kamu kurang cocok dengan gaun itu. Biar Zen aja yang pakai"
"Kenapa? bukan nya ini gaun utama nya?" sambar Rio. Pasalnya kalau ganti model, belum tentu sesuai apalagi yang dipilih Zen.
"Iya, tapi bos utama kita bilang Bella ga cocok. Tubuhnya kurang bagus, maaf ya Bella. Aku udah bela kamu di depan Bintang, tapi dia ngotot, bukan kamu yang pakai gaun ini"
Di luar tidak hujan, bahkan tidak mendung, tapi kenapa hati nya begitu gelap, dingin dan terasa basah di pelupuk matanya. Sakit dan kecewa. Bee hanya mengangguk seraya beranjak menuju ruang ganti.