Sold

Sold
Pengganggu



"Ngapain lo kemari? ga ada kerjaan lo?" hardik Bintang duduk dengan enggan di depan adik nya. Bintang begitu kesal karena Mira mengetuk pintu kamar mereka, menyampaikan kalau Piter datang dan ingin bertemu dirinya. Padahal saat itu, Bintang baru saja menyelesaikan pemanasan nya dengan Bee, landasan sudah di siapkan dan tinggal mendarat masuk. Ketukan itu tentu menghentikan segala kenikmatan di dunia yang bisa di raih Bintang malam itu.


"Kak.." ucap Bee menahan dada Bintang yang tengah berbaring di atas nya.


"Lanjut aja sayang, aku udah di ujung" ucap Bintang memohon. Wajah nya begitu tersiksa.


"Ga. Nanti aja. Temui dulu Piter, mungkin ada hal yang penting. Siapa tahu ini masalah ibu" ucap Bee tetap bertahan. Padahal milik mereka saja sudah bertemu dan saling menyapa di bawah sana, tapi gara-gara pemberitahuan sialan itu, akhirnya keduanya tidak jadi menyatu.


"Yakin yang? nanti Pino ngambek loh" pinta Bintang masih berharap Bee mau menyelesaikan misi membuat baby girl.


"Tenang kak, aku kan pawang nya si Pino, di kecup-kecup sedikit juga nanti dia ga ngambek lagi" kerling Bee mengedipkan mata.


Merasa tidak bisa negosiasi lagi, Bintang menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka, turun dari tempat tidur dengan rahang mengeras.


Kalau bukan demi menyenangkan hati Bee , Bintang tidak akan menemui Piter, yang ada dia malah akan menghajar adik sialannya itu.


"Kak pakai baju dong, masa cuman pake boxer aja sih" Bee sudah ikut turun, mencarikan baju dari lemari dan memberikan pada Bintang.


"Nanti aku nyusul, aku pakaian dulu" ucap Bee mengecup sekilas bibir pria yang sedang manyun itu.


"Punya Abang kok kayak ga ada otak nya gini ya. Gue jauh-jauh datang, sambutan lo justru gini? sakit hati gue" ucap Piter sarkas memegang dadanya dan perlahan menjatuhkan diri di sofa, berbaring pura-pura mati.


"B*ngke, ga usah banyak drama lo, pengacara busuk, cepat mau lo apa?" umpat Bintang melempar sendal nya ke arah Piter, yang tepat mendarat di dada Piter.


"Sensi amat lo bang. Kenapa? kedatangan gue ga tepat ya? jangan bilang tadi lo lagi ada di atas perut kakak ipar?" goda Piter yang semakin membuat Bintang jengkel karena adiknya bisa menebak dengan tepat.


"Ini kopi nya tuan" ucap Wati membawa nampar berisi kopi capuccino pesanan Piter tadi. "Tuan mau kopi atau teh?"


"Ga usah Bi. Tuan kalian ini ga minum yang begituan lagi, sekarang lagi doyan nyusu" timpal Piter tersenyum dan semakin cekikikan saat kembali Bintang melempar sendalnya ke arah Piter. Wati nya mengulum senyum melihat kekompakan kedua abang adik itu, sebelum berlalu pergi.


Hingga Bee tiba di sana, Piter masih belum bisa menghentikan tawanya. "Meriah banget, ada apa?" ucap nya melihat ke arah Piter, lalu berganti pada suaminya yang wajah nya bertolak belakang dengan Piter.


"Yang itu ngakak gembira, yang ini kok manyun?" lanjutnya duduk di samping Bintang. Tak ingin menjelaskan pada istri nya, justru Bintang menyeruak memeluk tubuh Bee, mengendus-endus leher istrinya.


"Kak, malu ah, ada Piter" bisik Bee merah merona.


"Biarin aja yang. Biar dia rasain gimana kentang. Siapa suruh cerai sama istrinya" timpal Bintang cuek.


"Ter, malam-malam begini kemari, apa ibu baik-baik aja kan?" tanya Bee mengalihkan pembicaraan. Dia perlu mengalihkan topik agar bisa mengurangi rasa malunya.


"Ibu baik kak. Aku kemari justru butuh bantuan kakak"


"Aku ga mau cerai dengan Kinan. Aku mau mempertahankan rumah tangga kami. Bantu aku kak, bicara pada Kinan untuk mencabut gugatan cerainya"


"Lo lakuin sendiri. Lo harus berjuang buat mendapatkan wanita mu. Lo jangan Cemen! Lo lihat sendiri gimana gue dulu berjuang buat mendapatkan kembali kakak ipar lo" timpal Bintang masih tidak memandang kesal pada Piter karena sudah menggangu kesenangan nya malam ini.


"Gue ga ngomong sama lo, raksasa!" alis Piter bertaut, jijik melihat abang nya yang pamer kemesraan dengan menciumi puncak kepala Bee.


"Iya, nanti aku akan ngomong sama Kinan ya"


Setelahnya, mereka bertiga ngobrol ngalor-ngidul hingga pagi. Pada dasarnya kedua bersaudara itu saling menyayangi hanya tidak saling menunjukkan dengan kata-kata. Lama kelamaan pundak Bintang semakin terasa berat, diliriknya wanita di sebelah nya ternyata Bee sudah tertidur.


"Lo nginap di sini aja. Udah jam dua pagi" ucap Bintang lebih ke sebuah perintah. Piter mengangguk setuju. Lagian dia enggan berkeliaran di jalanan, pulang ke apartemen juga hanya akan sendirian. Sekuat tenaga dia menghalau bujukan Kirei yang meminta nya untuk datang ke apartemen gadis itu.


"Aku antar dulu Bee ke kamar" Bintang berdiri menggendong istri tercintanya ala bridal menuju kamar mereka.


Perlahan dia membaringkan Bee agar wanita itu tidak terbangun, nyatanya Bee tersadar saat menyentuh bantal. "Piter sudah pulang kak? mau di lanjut yang tadi?" ucap Bee meracu, matanya masih terpejam sementara tangannya sudah mulai membuka kancing piama nya.


Sigap tangan Bintang menahan laju tangan Bee yang di dada, senyum nya mengembang melihat istrinya begitu memikirkan hasrat dan keinginan Bintang. "Ga usah sayang. Besok aja kita lanjutkan. Kamu tidur yang nyenyak. Aku temani Piter sebentar. Dia nginap di sini malam ini. Kamu ga papa tidur duluan kan?"


Bee hanya mengangguk, dan Bintang kembali mengancing bagian yang sempat di buka istrinya tadi, menyelimuti dan mengecup kening Bee sebelum keluar.


***


Dua hari belum ada kabar berita dari Kinan yang menyatakan gadis itu telah menarik tuntutan perceraian mereka, yang artinya mereka tetap akan bercerai.


Melalui aspri nya yang di tugaskan ke pengadilan agama, Piter mendapatkan kabar bahwa perceraian mereka memang masih terdaftar di sana.


Piter semakin gelisah memikirkan kalau Kinan masih tetap pada pendiriannya. Berpikir sejenak, Piter memutuskan untuk menemui Kinan kembali. Tapi saat datang ke kantornya, Kinan tidak ada di tempat.


Sekretaris nya bilang, Kinan akan kembali pukul tiga sore, jadi Piter memutuskan untuk menunggu Kinan.


Tepat pukul tiga sore, Kinan datang, dan lagi-lagi bersama Kevin yang katanya asisten nya. Mata Piter memicing melihat Kevin yang begitu dekat dengan Kinan, bahkan Kevin membuka kan botol air mineral untuk Kinan saat tepat di depan lift. Mereka belum sadar kalau Piter mengamati mereka.


"Thanks Vin, ucap Kinan yang menunggu lift terbuka, sembari membaca berkas di tangannya.


"Kamu jangan terlalu kelelahan, pekerjaan itu tidak akan ada habisnya" ucap Kevin lembut menyeka keringat di kening Kinan dengan tisu. Tidak hanya Kinan yang kaget akan perbuatan spontan Kevin, tapi Piter juga. Pria itu berdiri, dengan kepalan di tangannya dia menghampiri keduanya.


"Jangan pernah menyentuh istri ku lagi" hardik Piter mencengkram kerah baju Kevin, menarik nya dan mendorong nya menjauh dari Kinan.