Sold

Sold
Lamaran



Setiawan sudah mendengar semuanya apa yang diminta Piter. Kedatangannya hari itu ke kantor pria itu juga berkenan dengan permintaan putrinya, walau sekalian memang ingin membayar jasa Piter yang sudah membelanya.


Tapi sehari sebelum ke kantor Piter, Kinan sudah mengajak ayah nya bicara. Kinan tahu kalau masalah ayah nya sudah selesai, tapi hanya sampai di situ, dia sama sekali tidak tahu kalau Piter lah yang ada di balik semua pertolongan itu. Setiawan juga tidak mengatakannya, takut nanti di ledek Kinan.


"Papa, aku turut senang masalah kita telah selesai" ucap nya malam itu. Duduk di samping Setiawan yang duduk di ruang baca nya. Kinan yang memang selalu bersikap manja, duduk di samping Setiawan lalu memeluk lengan pria itu dan merebahkan kepalanya di sana.


"Yah, kita patut bersyukur. Terlebih karena Tuhan sudah mengirimkan kita penolong yang bisa pasang badan untuk masalah ini"


"Karena itu papa, aku mau membicarakan sesuatu pada papa" Kinan bermain dengan kuku tangannya, selalu seperti itu kalau sedang gugup.


"Katakan" sebenarnya Setiawan sudah tahu apa yang akan Kinan bicarakan. Jauh sebelum putri nya datang meminta hal yang dia ingin kan, Setiawan sudah menyetujui nya. Melihat kesungguhan Piter yang tidak pantang menyerah mendapatkan putrinya membuat nya yakin, Piter benar-benar mencintai Kinan, dan pasti nya hanya dia lah yang bisa membahagiakan putrinya nanti.


"Papa, aku mohon, papa jangan marah. Aku mohon papa mengabulkan permohonan ku kali ini"


"Jangan berbelit-belit, katakan. Papa bingung ini" Setiawan memasang wajah serius. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya ingin mengerjai pasangan itu.


"Papa, aku ingi menikah dengan Piter"


"Kau sudah pernah menikah dengan nya!" ucap nya tegas.


Kinan menegakkan tubuhnya, memberi jarak dengan Setiawan, menarik buku yang sejak tadi di baca pria itu dan meletakkannya di atas meja.


"Kita harus bicara serius pa. Aku ingin menikah lagi dengan Piter. Dan aku akan tetap menikahinya walau papa tidak merestui nya" ucap nya berusaha berani.


"Kau tidak akan menikahinya"


"Papa, aku mencintai Piter, dan aku tidak aka. menikah dengan siapa pun selain dia. Papa pernah memutuskan untuk menjodohkan ku dengan Kevin, lihat apa yang terjadi saat keluarga kita jatuh, dia menghindar kan pa?"


Itu lah yang menjadi pertimbangan Setiawan menyetujui hubungan Kinan dan Piter sekarang. Piter memang memiliki sikap menyebalkan, sombong dan kurang sopan, tapi ternyata justru anak brengsek itu yang punya hati mulia mau menolong nya meski sudah di tolak berapa kali pun. Bahkan dari Kinan, Setiawan tahu kalau Piter mengira kinan sudah menikah dengan pria lain awal bulan ini. Nyatanya, pria itu tapi tetap mau menolong mereka.


Berbeda dengan Kevin yang tampak sopan, santun dalam berujar, tapi nyatanya adalah pria yang tidak punya prinsip, tidak punya tanggung jawab. Hidup Kinan akan sangat menderita kalau sampai menikah dengan pria seperti itu.


"Ga usah di kaitkan dengan masalah itu. Papa tahu Kevin memang pria brengsek yang tidak bisa di harapkan, tapi papa punya calon baru untuk mu"


Wajah Kinan memerah, air bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Sekali berkedip saja, buliran bening itu akan jatuh di pipinya. Setiawan sebenarnya sudah tidak tega, tapi masih ingin menguji cinta pasangan itu.


"Aku kecewa padamu papa. Aku tidaka akan mau menerima lamaran itu" Kinan bangkit setelah menyapu air matanya yang berhasil lolos, dan segera berlari ke kamarnya. Setiawan hanya mengulum senyum melihat putrinya. "Sabar..maka kebahagiaan akan mendatangi mu" ucap nya bermonolog.


***


Kinan bangun dengan rasa kesal yang masih tertinggal. Dua hari dia mendiami papanya. Sebenarnya dia sangat merindukan pria itu, tapi ego nya memaksanya untuk tetap mendiami pria itu.


"Udah sore, kok belum mandi" ujar Setiawan duduk di ayunan tepat di samping Kinan.


Gadis itu masih menunduk. Membenamkan wajah diantara lututnya.


"Nan..papa ngomong loh. Dosa mendiami orang tua. Gimana kalau papa besok mati, kau akan menyesal karena udah ga bisa ngajak papa ngobrol lagi"


"Nantikan akan ada yang menjaga mu, suami mu. Papa tidak mungkin menemani mu selamanya kan" Setiawan menepuk-nepuk punggung Kinan, agar tangis wanita itu mereda.


"Pokoknya aku mau papa bersama ku" isak nya menahan sedih.


"Sudah, ga usah bahas ini lagi. Sekarang kamu nurut sama papa. Mandi, dandan yang cantik, karena malam ini kita kedatangan tamu"


"Siapa pa?" Kinan menghapus sisa air mata nya dengan punggung tangan nya.


"Pria yang akan melamar mu"


"Jangan protes. Kau harus nurut kalau mau papa tetap hidup. Kau lihat dulu, kalau kau suka, terima tapi kalau kau memang ga suka sama orang nya, kau bisa menolak nya" sambar Setiawan saat melihat Kinan bersiap untuk membantah.


"Janji ya, kalau aku ga suka, papa ga boleh maksa" ucap Kinan sebelum berlalu.


***


Pukul tujuh malam, Kinan masih enggan untuk turun walau pelayannya sudah menyampaikan kalau papa nya sudah menyuruhnya untuk turun.


Untuk kedua kalinya Setiawan meminta pelayannya untuk memanggil Kinan. Dengan malas Kinan turun. "Mana tamu papa?"


"Bentar lagi juga nyampai. Kamu duduk di sini, temani papa. Jangan pasang cemberut begitu dong, Nan. Nanti calon mu ga mau sama mu loh"


"Biarin. Kalau bisa gitu dia lihat aku, langsung putar balik"


Setiawan mengulum senyum. Ingin sekali segara melihat reaksi Kinan saat mengetahui yang datang untuk melamarnya malam ini adalah Piter.


Tidak berapa lama, obrolan mereka terhenti saat salah satu pelayan membawa Piter masuk. Kinan langsung berdiri. Dia menyongsong Piter dan berdiri di depan tubuh Piter. Dia ingin menjadi tameng buat Piter. Tidak akan mengizinkan kekasih nya di hina oleh papa nya seperti dulu.


"Papa, jangan usir Piter" ucap Kinan membelakangi Piter.


"Kamu ngapain ke sini?" ucap Kinan panik, berbalik menatap Piter.


"Aku.." Piter menatap Kinan lalu beralih melihat Setiawan tidak mengerti akan sikap Kinan. Kenapa gadis nya malah justru bertanya untuk apa dia datang? tentu saja mau melamarnya.


"Kamu pulang dulu ya Ter. Besok aku janji akan datang menemui mu" ucap nya mendorong dada Piter.


"Tapi aku.."


"Pulang dulu ter, aku mohon" Kinan tidak mau Piter tahu malam ini akan ada pria yang datang melamar dirinya. Pria itu pasti tidak akan senang dan pasti akan buat kekacauan.


Setiawan berdiri, menghampiri keduanya yang tengah berdebat. "Om, aku.."


"Papa ga boleh marah apa lagi maki Piter. Aku ga akan memaafkan papa kalau sampai bertengkar kali dengan Piter" ucap Kinan tegas sebelum Setiawan buka mulut.


Kegaduhan itu berakhir saat dari ruang tamu Bu Salma dan rombongan menghampiri mereka.