
Omongan Bintang yang melarang Kinan untuk mendekati Bee ternyata berbuntut panjang. Tidak hanya Bintang kan yang menggilai istrinya setengah mati. Piter pun demikian. Dia merasa marah saat mendapati Kinan menangis sesenggukan di ruang tamu. "Kamu kenapa sayang?"
Dengan polos Kinan menceritakan kesedihan hati nya. Merasa sedih kalau sampai dilarang untuk bertemu dan berteman dengan Bee lagi, karena hanya dia teman yang Kinan punya.
"Dasar abang brengsek, seenaknya menyalahkan mu" geram Piter tidak terima.
"Aku memang salah Ter, aku kan yang ngajak Bee ke mall hari itu?" ucap Kinan dengan tangisnya.
"Udah, jangan nangis lagi. Kau juga kan ga menginginkan kejadian itu terjadi. Lagi pula menolong wanita itu juga adalah ide Bee, harusnya aku yang marah karena sudah membahayakan dirimu. Kalau memang ga di bolehkan berteman dengan Bee, ya udah ga usah" ucap Piter mengamuk.
Tangis Kinan berhenti, dahinya berkerut, kenapa suaminya jadi ikutan melarangnya berteman dengan Bee. "Kok jadi ikut ngelarang sih Ter?"
"Iya, pokoknya mulai sekarang kamu ga usah ketemu sama Bee lagi. Aku ga terima istri aku di salah-salah kan"
Ingin menyambung omongan Piter, tapi pria itu sudah masuk ke dalam kamar untuk mandi.
***
Saat di kantor Kinan mendapat telepon dari Bee. Dia sudah tahu dari Bintang kalau dia memarahi Kinan untuk bertemu dengan nya lagi. Malam dimana Bee membaik dari demam nya, Bee mengajak Bintang bercerita setelah pertarungan indah mereka.
"Kakak kok bisa ngomong gitu sih sama Kinan? dia ga salah apa-apa" ucap Bee duduk dari baringan nya di dada Bintang. Selimut yang tadinya menutupi dadanya merosot hingga mempertontonkan bagian atasnya.
"Ya aku kan kesal karena dia kan yang ngajak kamu pergi yang"
Bee tidak menjawab lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria itu. Memilih diam dan memutuskan untuk menghubungi Kinan besok.
"Halo Bee" sapa Kinan lewat benda pipih yang ada di pipinya. Dia begitu gembira saat melihat panggilan masuk nama Bee yang tampil.
"Hai Nan. Lagi sibuk?"
"Ga, ini cuma periksa berkas masuk, paling juga tanda tangan, udah"
"Kalau gitu, kita ketemuan ya. Aku boleh ke sana?"
***
Setengah jam kemudian, Bee sudah tiba di kantor Kinan, tidak susah bagi Bee mencari ruangan Kinan tanpa bertanya karena dia juga pernah ke sana. Di lantai tempat ruangan Kinan, Bee bertemu dengan Elang. Pria itu menyapa nya dengan senyum manis nya.
"Hai, lama ga jumpa"
Tidak menyangka akan bertemu Elang di sini. Dia bahkan lupa kalau pria itu bekerja di kantor Kinan dan atas rekomendasi nya.
"Hai, apa kabar Lang?" basa basi yang acap kali terjadi demi menghilangkan rasa canggung.
"Baik. Kamu?"
"Baik"
"Kamu ke sini mau ketemu dengan bu Kinan?"
"Iya..mmmm..kalau begitu aku ke sana dulu ya" pamit nya meninggalkan Elang yang masih tetap menatap punggung Bee yang menjauh.
Rasa itu mungkin sudah terlambat. Kini mereka hanya teman, bahkan terasa menjadi orang asing. Elang menyesal pernah menyia-nyiakan gadis itu, yang suda melakukan hal besar untuk nya, begitu banyak pengorbanan yang dilakukan wanita itu untuknya yang tidak mungkin bisa dia balas sampai kapan pun.
"Masuk Bee" pinta Kinan saat kepala Bee muncul dari balik pintu setelah mengetuk pintu sebelum nya.
"Maaf ya, kalau aku udah ganggu waktu kamu" Bee memilih duduk di kursi yang ada di depan meja Kinan.
"Jangan gitu dong. Udah kayak orang lain aja"
"Aku kemari karena merasa tidak enak atas ucapan kak Bintang pada mu tempo hari" Bee benar-benar malu mengingat kelakuan kekanak-kanakan suaminya. Bagaimana tidak, yang dia larang ditemui Bee adalah iparnya sendiri, masih keluarga. Bee tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai ibu tahu suaminya melarang Bee bertemu dengan Kinan.
"Iya Bee, ga papa. Aku paham kok. Semua ity Bintang lakukan karena khawatir padamu. Tapi.." Kinan tampak ragu untuk meneruskan kalimatnya. Bee menunggu, satu alisnya naik menerka apa yang mengganggu pikiran Kinan.
"Tapi apa Nan? kenapa? ngomong dong" paksa Bee tidak sabar. Dia tidak ingin mendapati kenyataan ada hal lebih serius yang Bintang katakan pada Kinan.
"Aduh, gimana ya Bee ngomong nya. Anu.. Piter juga minta hal yang sama pada ku" ucap nya tampak sedih sekaligus malu.
Punggung Bee merosot di kursi mendengar kenyataan itu. Kedua pria penuh emosi itu melakukan hal yang mereka pikir dan anggap benar saja. Memutuskan sesuka mereka tanpa memikirkan perasaan mereka, para istri.
"Memang darah itu kental ya Nan. Ga abang, ga adik, sama aja bego nya" umpat Bee kesal.
"Itu dia. Apa mereka ga mikir gimana kalau sampai ibu tahu?" Kinan ikutan bersandar di kursi kebesarannya.
"Pokoknya ya, kita ga usah dengerin omongan gila mereka. Mana ada keluarga yang bermusuhan hanya karena masalah ini" Bee mengepal tinjunya dan menghentakkan di pegangan kursi. Kedua pria Danendra itu orang hebat, orang dengan sekolah yang tinggi, tapi Bee tidak habis pikir kenapa bisa memiliki pemikiran sempit seperti itu.
"Tapi aku takut sama Piter, Bee. Dia benar-benar serius dengan ucapannya"
Hanya hembusan nafas berat yang Bee keluarkan. Kenapa masalah sepele bisa jadi seribet ini. Dia tetap ingin menjalankan apa yang dianggap dia benar, menentang keinginan abang adik itu, tapi kasihan Kinan. Wanita itu tidak punya keberanian menentang suaminya seperti yang Bee lakukan.
"Ok gini aja deh. Di depan mereka kita seolah tidak berkomunikasi lagi. Untuk sementara kita ketemuan diam-diam dulu, sampai kita bisa duduk di meja yang sama"
Kinan mengangguk. Saran dari Bee benar. Biarkan lah mereka main kucing-kucingan sampai saat nya bisa bertemu untuk bisa berdamai lagi.
Rasa kesal Bee berimbas sampai ke rumah. Dia jadi uring-uringan. Harus nya senam ibu hamil yang biasanya menyenangkan, sore ini jadi terasa membosankan baginya. Namun sebaik mungkin dia mengikuti dengan benar dan serius. Hitungan dokter, awal bulan depan dia akan melahirkan. Berat tubuhnya semakin membuatnya kesusahan untuk menaiki tangga. Instruktur senam nya sudah pulang sepuluh menit lalu yang tak lama Bintang pun tiba.
"Kok manyun, kenapa?"
Bee hanya mendelik. Memutar bola matanya pada Bintang. Alih-alih menjawab, Bee masuk ke kamar mandi. Mungkin berendam dengan ekstra mawar segar mampu membuat tubuh nya menjadi ringan, segar dan pasti nya wangi. Aroma therapy yang juga dia bubuhkan ke dalam bathtub mampu membuatnya rileks.
"Hah..lupakan semua yang membuat kepala ini sakit" ucap nya masuk ke dalam bak mandi.