Sold

Sold
Candle light dinner



Beberapa pelayan yang melihat kedatangan nyonya muda mereka sedikit terkejut. Ada dua alasan. Pertama Bee pulang dengan tampang kacau dan aut-autan, kedua ini masih jam sekolah.


Gadis itu menerobos masuk tanpa mengatakan apa pun, berlari kecil menuju kamar nya di lantai dua. Pak Jarwo sempat melihat mata merah nyonya muda nya dan merasa khawatir hingga memutuskan untuk mengabari tuan mudanya.


Secepat mendapat kabar, Bintang langsung menugaskan Riko turun langsung mengurus masalah itu. Perasaan Bintang yang campur aduk, khawatir terjadi hal buruk padanya, meminta Riko langsung turun ke sekolah, sementara dia bergegas pulang ke Jakarta detik itu juga.


Sepanjang jalan berdoa agar Bee baik-baik saja. Karena Bintang meminta pak Jarwo menjelaskan secara mendetail keadaan Bee, pak Jarwo spontan menggambarkan tampang Bee yang aut-autan persis seperti gadis yang baru di perkosa.


Raungan Bintang terdengar hingga menembus gendang telinga pak Jarwo. "Jaga lidahmu, atau aku akan mencekik mu" ucap nya memutus sambungan sepihak.


Setelahnya Bintang bergegas pulang. Dengan kesal dia melempar ponselnya ke dashboard mobil setelah ke lima belas kali panggilan telponnya pada Bee tidak diangkat gadis itu yang membuat hatinya semakin tak karuan di Serang rasa cemas.


Deerrrrrt... deerrrrrt..


"Katakan.." raung nya saat menjawab panggilan Riko.


"Nyonya Bee bertengkar lagi tuan. Saya akan mengirimkan detail nya melalui rekaman cctv kelas. Saya sudah meng-convert hingga bisa anda buka di ponsel anda tuan"


Tup! Kembali Bintang menutup sambungan telpon secara sepihak. Lalu membuka file video yang di kirim Riko. Dengan Earphone Bintang mendengarkan dengan seksama tiap ucapan pertikaian mereka dan melihat bagaimana acara baku hantam itu berlangsung.


Dengan kepalan tinju yang besar, Bintang menahan emosi nya. Dulu dia sudah meminta untuk mengeluarkan gadis bodoh itu dari sekolah pada pertengkaran pertama mereka, tapi kepala sekolah memohon belas kasih dan mengatakan dampaknya tidak akan baik pada Bee.


Bee akan di bully teman-temannya kalau sampai tahu penyebab kepindahan gadis itu karena dirinya. Itu lah sebab nya Bintang membiarkan gadis itu.


Walau sudah dengan kecepatan penuh melakukan mobil nya, tapi Bintang masih merasa belum puas karena belum sampai di rumah.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua jam, Bintang sampai di rumah. Begitu memasuki halaman, Bintang yang melempar jas nya ke dada pak Jarwo. "Sudah berapa lama dia tidak keluar kamar? apa dia sudah makan?" ucap nya penuh emosi.


"Saya sudah minta Mira membawa makan siang nyonya, tapi kata Mira, nyonya hanya diam, tidak menyentuh makanannya. Beliau meminta Mira keluar tuan" ucap Par Jarwo ketakutan.


Semakin merasa sedih Bintang segera berlari naik ke atas kamar. Pintu kamar tidak di kunci, dan kosong. Bintang sempat panik. Dia melihat nampan berisi makanan masih tergeletak utuh di atas meja.


Suara gemericik air yang pelan menyadarkan Bintang untuk membuka pintu kamar mandi. Bayangan saat Bee menyayat pergelangan tangannya dulu melintas di pelupuk mata hingga membuat jantung nya hampir berhenti berdetak.


Tangannya gemetar memutar knop pintu, menggeser daun pintu hingga dia bisa melihat objek yang dia cari.


Gadis itu duduk meringkuk, di bawah siraman shower yang mengalir pelan. Membenamkan wajahnya di atas lututnya. Bintang melangkah perlahan. Suara derap kaki yang di tangkap telinga nya membuat Bee mengangkat wajahnya. Mata gadis itu sembab, walau tersamarkan oleh air shower, tapi Bintang tahu gadis itu sedang menangis.


Tak tahu apa yang harus dia lakukan pertama setelah melihat gadis itu. Memeluknya? mematikan keran, atau bersyukur kepada Tuhan karena gadis itu baik-baik saja. Dia memilih yang ketiga, lalu mematikan air sebelum kini bersimpuh di hadapan gadis itu.


Mata keduanya saling menatap. Tanpa suara ataupun gerak. Seolah dari tatapan itu sudah cukup menjelaskan tentang kepedihan Bee dan kepanikan Bintang.


Merasa menemukan tempat berlindung paling aman setelah melihat manik mata Bintang, Bee kembali menangis dan kali ini tidak perlu susah payah menahan di hati.


Huaaaaaaaaa.....huaaaaaa..hiks...


Huaaaaaaaaa...


"Sudah sayang..jangan nangis lagi. Aku sedih melihat kamu begini" bisik Bintang. Dia berjanji akan membuat perhitungan pada gadis-gadis itu yang sudah melukai gadis nya.


"Sa-kit kak. Ha-ti aku sakit" Isak nya terbata-bata.


"Iya Sayang. Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak akan mengampuni mereka" Bintang semakin mengeratkan tubuh Bee yang bergetar hebat saat menangis. Luka hati nya pasti sedang menganga. Tak pernah dia melihat gadis itu sesedih ini.


Bintang sudah menawarkan untuk membantu wanita itu mandi, tapi Bee menolak. Memastikan dia bisa melakukannya sendiri.


Demi menghibur hati sang permaisuri yang sedang gundah gulana, Bintang berinisiatif untuk membuat candle light dinner dadakan di roof top mereka. Saat dirinya di papah naik ke atas, di sana sudah di hidangkan jamuan makan malam yang romantis.


Ternyata ide Bintang membuat perubahan mood Bee kembali membaik. Makan malam berjalan lancar dan sesekali dia akan tersenyum saat menyaksikan atraksi chef yang menyajikan makanan di atas piring nya dengan unik.


Bintang dalam diam nya terus mengamati Bee yang tertawa. Bagi nya cukup melihat wajah itu bisa tersenyum, sesulit apa pun hidup yang kelak dia jalani, dia akan ikhlas. Air mata Bee adalah satu-satunya kelemahan dirinya.


"Apakah kamu sudah tidak bersedih lagi?" ucap Bintang menatap Bee yang sedari tadi membelai buket bunga yang di berikan Bintang pada awal makan malam mereka. Itu adalah kali pertama dia mendapat bunga dari pria.


"Iya, terimakasih." balas nya tersenyum malu. "Tapi aku masih tetap marah padamu" lanjutnya.


"Kenapa? apa ini semua salah ku?" balas Bintang menggoda Bee. Dia suka perdebatan kecil yang kadang mereka lakukan. Menambah keakraban diantara mereka. Bintang benci kalau harus bertengkar dengan gadis itu.


"Pertama, aku tahu aku salah masalah..kemarin. Dan aku ingin minta maaf. Aku tidak akan mengulangi lagi"


Bintang mengangguk. Tanda permintaan maaf gadis itu di terima.


"Kedua, aku kesal..kau menghukum ku dengan mendiami ku. Aku tidak suka. Dan kau bersalah padaku karena pergi ke Bandung tanpa memberitahukan padaku" seru nya meletakkan buket bunga nya di sisi meja.


"Baik lah, aku minta maaf. Maaf kan hamba tuan putri. Kedepannya aku akan memberitahu kemana langkah ini pergi" sahut Bintang bak dalam Opera.


Masih ada yang mengganjal di hati Bee. Tapi dia ragu untuk bertanya. Walau mereka sudah akur, tapi masih ada rasa segan.


"Ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tebak Bintang melihat mimik wajah Bee yang masih gelisah.


"Tak penting. Lupakan saja.."


"Benar ga penting? kamu ga mau tahu aku ke Bandung ngapain?" goda Bintang. Gadis itu terlalu tinggi harga dirinya.


"Mmmm..."


"Hahahahaha..aku bisa mati kegelian kalau melihat tingkah kamu ini, Bee" Bintang masih tak bisa menghentikan tawa nya yang membuat Bee jengkel.


Tangan Bintang sigap menarik tangan Bee, tak kala gadis itu beranjak pergi karena kesal. Bintang membawanya ke duduk ruangan itu. Tempat yang bisa melihat suasana perumahan yang tertata indah dengan banyak lampu hias pada malam hari. Bintang memeluk Bee dari belakang. Mencium puncak kepala Bee.


"Aku ke Bandung, untuk melihat kondisi Bumi yang kini tengah pingsan pasca kecelakaan"


Lalu cerita itu mengalir, membuang semua keraguan yang sempat singgah di hatinya saat kepergian Bintang saat itu.