Sold

Sold
Pria setia



Dugaan Piter tepat. Saat tiba di sana, tidak hanya Bima dan Asri yang ada, seperti perkataan mereka di awal. Ada tiga orang penyanyi dangdut teman Asri Linggis yang ada di sana bersama Bima dan juga Arman, teman seprofesi Piter.


"Nyampe juga lo, kirain ke sasar" goda Bima.


"Maklum Bim, sekarang iblis tanah udah tobat, jadi suami yang baik tiap malam ngelonin bini nya mulu" timpal Arman yang se-frekuensi dengan Bima, lalu keduanya tertawa terbahak.


Begitu Piter masuk tadi, Asri dan ketiga teman nya langsung pasang gaya untuk memikat Piter. "Sorry gue ga lama, mana buktinya?" ucap Piter pada Asri tanpa memperdulikan ejekan Bima dan Arman.


"Santai dulu dong Ter, minum dulu" Asri sudah berdiri, dengan tubuh sexy dan pakaian ketat nya mengambil satu botol dan menuang ke dalam gelas, menyerahkan pada Piter.


"Gue serius. Istri gue nungguin di rumah. Mana buktinya?" desak Piter mulai kesal.


Mendengar perdebatan keduanya, Bima bangkit dan duduk di samping Piter. "Jangan gitu Ter, lama-lama lo ga asik. Minum bentar aja, masih jam 8 ini" ucap Bima menepuk pundak Piter.


Akhirnya Piter mengalah. Dia menyesal menaruh simpati melihat permasalahan yang di hadapi Asri, ternyata wanita ini juga bukan jenis wanita yang baik untuk menjadi sosok seorang ibu.


Satu teguk, rasa panas menyerang tenggorokan nya. Jelas-jelas saat ini kesabarannya sangat di uji.


"Ter, makasih loh kamu udah mau datang" ucap Asri mendekat kan tubuhnya pada Piter, tapi dengan cepat Piter mengelak, menjaga jarak dengan wanita binal itu.


"Asri, aku mohon, kau bisa menjaga sikap mu. Aku tidak ingin orang lain menilai kedekatan kita dengan adanya affair diantara kita" tegur Piter mengingatkan.


"Aku salah apa sih Ter? apa aku salah kalau menyukai mu?" Asri tetap saja memaksakan pendapat nya pada Piter.


"Aku sudah punya istri. Dan aku sangat mencintai. Maaf, aku bukan pria yang seperti yang kau pikirkan" tegas Piter kembali menenggak minuman nya.


"Aku tahu, dan aku tidak keberatan jadi yang kedua. Sudah lah Ter, aku tahu bagaimana kelakuan para pengacara. Noh, dua orang itu buktinya" ucap nya tertawa sembari menunjuk Bima dan Arman yang sedang mencumbu dua sahabat Asri yang juga ada di ruangan itu.


Bima dan Arman sudah menikah dan memiliki anak. Tapi kelakukan mereka yang suka menikmati apem wanita lain, sudah biasa bagi mereka. Piter memang tidak pernah mengatakan rasa tidak suka nya akan kebiasaan para sahabatnya itu, tapi bukan berarti Piter mendukung.


"Itu mereka, jangan sama kan dengan ku. Ayo lah Asri, aku harus pulang mana bukti yang kau katakan? lagi pula, kenapa kau tidak pulang? siapa yang menemani anak mu?"


"Ah..ga usah bahas hal itu di sini. Anak gue juga pasti udah tidur" ujarnya sembari menyalakan rokok, menghisapnya dalam dan menghembuskan asap nya ke wajah Piter. Pria itu bergeming, tidak terpancing oleh aksi Asri.


"Sudahi semua ini. Aku akan pergi. Mana buktinya atau aku pulang?"ancam Piter kesekian kalinya.


"Nih, habis kan dulu satu gelas ini, baru aku keluarkan" pancing Asri dengan tertawa sembari mengerling.


Dengan cepat Piter meneguk minuman nya. Rasa panas menjalari tenggorokannya. Minuman itu begitu tinggi kadar alkoholnya. Piter harus segera mengakhiri ini semua dan cepat pulang. "Done. Sekarang mana berkas nya?" tangan Piter sudah terulur ke hadapan Asri meminta sesuai janjinya. Tapi wanita itu justru membalas dengan senyuman dan beranjak ke pangkuan Piter.


Sontak Piter merasa keberatan. Memaksa Asri untuk turun, tapi gadis itu bergeming, memeluk leher Piter sembari melayangkan ciuman di bibir pria itu. Piter marah, dan menghempaskan Asri ke kursi dan berdiri.


Pintu ruangan itu di hempaskan dengan kasar saat Piter keluar dari ruangan itu. Rasa kesal dan amarah yang memuncak membuatnya mengutuk Bima yang memberikan kasus ini pada nya.


"Lo udah mereka semua?" tanya Asri penuh senyum kemenangan. Pikirannya sudah di kuasai ambisi untuk memiliki Piter. Semua sudah di rencanakan nya dan salah satu sahabatnya yang sembunyi diminta merekam semua tindakannya tadi.


"Beres. Tapi apa lo ga takut kalau nanti di tuntut sama dia?"


"Gue ga perduli. Yang penting dia sama istrinya ribut. Selepas itu gue akan buat skandal dan kembali merayunya" ucap nya penuh percaya diri.


***


Melihat wajah Kinan yang ketiduran di sofa menunggu nya ternyata mampu menjadi peredam amarahnya. "Hei, kenapa tidur di sini?"


"Kau sudah pulang? hoam..aku akan menyiapkan makan malam" ucap Kinan di sela mulut nya yang menguap.


"Sini.." Piter menarik tangan Kinan agar kembali duduk, dan kali ini di pangkuannya. "Aku sudah makan, jangan bilang kau belum makan?"


Kinan merebahkan kepalanya di ceruk leher Piter kembali memejamkan matanya. Perutnya memang terasa lapar karena menunggu Piter untuk makan bersama, tapi ngantuk nya juga tidak terlawan.


"Aku ngantuk. Kita tidur aja ya" cicit nya masih terpejam. Piter memapah tubuh istrinya, merebahkan di ranjang. Begitu menyentuh kasur, Kinan langsung kembali pada pusat mimpinya.


Piter tidak ingin membawa bekas sentuhan Asri ke atas ranjangnya, memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum bergabung dengan istrinya.


Melalui pesan singkat pada Aspri nya, Piter meminta untuk membatalkan kasus Asri linggis dari badan hukum miliknya. Dia tidak sudi membela wanita yang memang tidak pantas mendapatkan hak asuh untuk anaknya. Bisa saja pejabat itu menceraikan Asri linggis karena kelakuan wanita itu memang tidak benar.


Besok, Piter akan mencari perhitungan pada Bima. Bila perlu melayangkan satu pukulan karena sudah memberikan kasus itu padanya yang jelas-jelas Bima tahu kelakuan buruk Asri.


Malam ini dia hanya butuh memeluk istrinya, agar amarah nya tadi hilang. Cukup mencium wangi dari tubuh Kinan saja menjadi aroma therapy buatnya.


Pagi hari nya, saat Piter masuk ke dalam ruangannya, di atas meja nya sudah ada satu kotak kecil. Piter menekan tombol 1 pada pesawat telepon nya meminta sekertaris nya Tia untuk datang keruangan nya.


"Siapa yang ngirim?" ucap nya mengangkat kotak itu.


"Kang paket pak" sahut Tia.


"Sudah keluar sana"


Penuh tanda tanya dia membuka kotak nya. Sebuah flashdisk ada di dalam. Segera Piter membuka file yang tersimpan di dalamnya.


Sebuah rekaman video saat Piter di dalam ruang karaoke bersama Asri dan yang lainnya semalam. Kening nya berkerut menyaksikan setiap adegan dalam video itu yang merekam kedekatannya dengan Asri dan juga tindakan Asri yang duduk di pangkuan nya, tak sampai di situ, saat Asri memeluk dan mencium bibir nya pun terekam di sana.