Sold

Sold
Saga Demam



Panjang lebar sudah tante Di memberi kan nasehat pada keduanya. Terlebih pada Elang. Tante Di berpesan agar bisa membahagiakan Bee. Karena gadis itu sudah banyak berkorban untuk nya.


Si cuek Elang hanya mengangguk dan dengan cepat menjanjikan pernikahan untuk Bee. Sempat tante Di menaruh curiga, tapi segera di tepis. Dia hanya bisa mendoakan pernikahan keponakan nya itu bersama Elang akan menjadi yang terakhir.


Sepulang dari rumah tante Di, Elang mengajak Bee untuk singgah makan dulu. Tapi dengan tegas gadis itu menolak. "Aku harus pulang Lang. Udah terlalu lama aku meninggalkan Saga"


"Sebenar aja yang. Masa Saga terus sih yang di perhatikan, aku juga butuh perhatian kamu loh. Aku ini calon suami kamu"


Ini lah sifat Elang yang membuat Bee jengkel. Pria itu terlalu kekanak-kanakan, tanpa merasa bersalah membandingkan dirinya dengan bayi tujuh bulan.


"Lang..aku mohon kamu mengerti. Kamu penting buat kamu, Tapi Saga juga sangat penting buat aku. Sudah sejak pagi aku ninggalin dia, sekarang udah jam lima sore"


"Ya udah, aku ngalah. Jangan bilang aku ga pengertian. Tapi kita singgah dulu, beli makan buat di bungkus. Boleh kan numpang makan di rumah mu?" sindirnya.


Rumah makan seafood itu ramai di penuhi pengunjung. Bahkan ini sudah lewat makan siang dan terlalu dini untuk makan malam, tapi pengunjung seolah tidak ada habisnya.


Sementara Elang meminta Bee memesan, pria itu duduk menunggu di salah satu meja kosong.


"Hei..lo di sini?" tegur suara dari belakang punggung nya. Spontan Elang berbalik melihat kearah suara itu. "Eh..elu den..sama bos juga" ucap nya berdiri.


Pria yang di sapa nya bos tadi, pria keturunan yang jadi produser rekaman album mereka.


"Dari mana bos, bisa bareng Deni?" tanya Elang ikut duduk setelah bos dan Deni, gitaris dalam band nya duduk.


"Kita nemuin sponsor yang mau biayai album kedua kita" potong Deni.


"Terus gimana?" Elang mulai tertarik. Jika ada sponsor berarti sebentar lagi mereka akan rekaman, dan itu artinya akan ada uang yang mengucur ke kantongnya.


"Gagal" seru si bos dingin.


Ketiga nya mendadak diam. Hingga Bee datang menemui Elang. "Lang, ini udah siap, yuk"


Si bos yang melihat Bee tertegun. Mencoba mengingat wajah cantik Bee dia lihat dimana.


"Saya kayaknya kenal kamu deh. Tapi siapa ya"


"Dia pacar aku bos. Model terkenal, Bellaetrix Elaina" ucap Elang bangga. Bee bisa melihat ekspresi wajah Elang yang gembira memperkenalkan dirinya.


Hidup ini kadang emang lucu..dulu aja kamu malu buat ngenalkan aku sama teman-teman mu, jangan kan ngenalkan. Negur aku aja kamu malu Lang. Sekarang..wajah kami begitu gembira mengakui aku sebagai pacar..


"Candra.."


"Bella" Bee menerima uluran tangan pria gemuk itu yang tidak ada habis nya menatap lekat tubuh Bee. Rasa nya ingin memaki pria itu, yang sudah bersikap tidak sopan, tapi Bee malas untuk berurusan dengan pria seperti itu. Yang membuat nya jengkel, Elang yang juga melihat cara pria itu melihat tubuhnya, cuek seolah tidak tersinggung miliknya di pandangi buas bak penjahat kelamin.


Lagi-lagi saat itu, Bee ingat Bintang. Kalau Bintang yang bersama nya, mungkin bandot tua itu akan masuk rumah sakit, di hajar oleh Bintang.


Tapi ini Elang. Pria yang hanya perduli pada dirinya dan karir band nya.


"Lang, kita pulang" ucap Bee lembut. Masih mencoba bersikap sopan pada teman-teman nya.


"Sebentar lagi ya Bee. Ga enak sama bos aku"


"Kamu ga papa pulang sendiri?" secepat kilat Bee mengangguk, lalu pamit pada mereka bertiga.


"Gue punya ide. Cewek Lo kan model terkenal, mana tubuhnya juga bagus banget. Gila, beruntung banget Lo punya cewek kayak dia. Boleh gue pake ga? semalam aja.. transfer deh buat Lo" ucap di bandot genit.


"Ah..si bos ini. Jangan dong bos. aku juga belum ngerasain" sahut Elang di barengi tawa nya.


"Gue tunggu antrian deh" lanjut nya


"Duh..bos, nanti aja bahas begituan. Tadi bos bilang punya ide bagus, apa bos?" potong Deni yang sedari tadi diam.


"Kita buat single baru kalian, dengan Bella sebagai model video klip nya. Pasti booming tuh"


***


Ada yang aneh dengan perasan Bee. Melow yang menyerangnya membuat mata Bee memanas ingin menangis. Taxi yang membawa nya pulang menjadi tempatnya untuk menumpahkan rasa sedihnya. Pak supir yang melirik dari kaca spion hanya bisa diam.


Betapa kosong jiwa nya kini. Rasa sedihnya bermula sejak bos Elang yang menatap nya dengan buas, seolah dirinya makanan siap di santap, dan puncak nya Elang sama sekali tidak membela kehormatannya.


Dia rindu Bintang. Hampir empat bulan, dia tidak bertemu pria itu. Dan rasa rindunya membuat dada nya terasa sesak.


Harus nya dia ikhlas, sudah sebulan ini pemberitaan mengenai Bintang dan Stella semakin memanas. Bahkan dalam infotainment kemarin, saat Stella di undang di salah satu talk show, gadis itu memamerkan cincin yang melingkar di jarinya, yang menurut pengakuannya, itu adalah pemberian Bintang.


Harus nya, hatinya tidak sehancur ini. Tidak ada jalan untuk mundur. Hanya tangan Elang satu-satu nya yang ada di hadapannya kini.


Taxi berhenti tepat di depan rumah mewah itu. Mira yang datang menyambutnya mengabarkan Saga sedang tidur sehabis mandi dan makan."Terimakasih Mir" ucap nya menyentuh lengan asisten pribadinya.


Secepat yang dia bisa, Bee membersihkan dirinya. Lalu merangkak ke tempat tidur, memeluk Saga yang pulas. Hanya anak itu lah yang dia miliki sebagai penyambung hati nya dengan Bintang. Tak lama Bee jatuh ke dalam buaian mimpinya.


Pukul sembilan Bee terbangun karena Saga merengek. Bee terkejut ketika hendak menggendong Saga, suhu panas dari tubuh anak itu menyentuh kulit nya.


"Anak mama kenapa sayang" cepat di buka nya kancing piama nya mengeluarkan nen untuk Saga, tapi hanya sebentar anak itu menghisap, kembali menangis.


"Mira.. Mira.." teriaknya membuka pintu berlari menuju bibir tangga.


"Tuan muda kenapa Nyah?"


"Ga tahu Mir. Badan nya panas. Kita harus apa?" kepanikan semakin melanda Bee setiap tangis Saga semakin kencang.


"Kita bawa ke rumah sakit aja Nyah" usul Mira yang di rasa masuk akal.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Dokter sudah memeriksa dan Saga sudah mulai tenang.


Dokter bilang demam Saga hal yang wajar karena gigi seri bawah nya tumbuh. Tidak ada hal yang serius, karena semua bayi mengalami hal serupa. Dokter anak itu maklum, atas kecemasan Bee yang biasa dialami ibu muda.


Getar pada saku piama nya membuat Bee tersadar. Setelah menerima resep dari dokter Bee menyerahkan pada Mira, meminta untuk menebus nya. Bee tidak berniat mengangkat telpon itu karena dari nomor tidak di kenal, tapi saat kedua kali dering ponselnya bunyi, Bee pun mengalah.


"Halo..siapa ini?" tanya Bee menyeka air matanya. Saga masih tertidur dalam gendongannya.


"Kamu dimana? kenapa kamu menangis?" tanya suara di seberang panik.