Sold

Sold
Skin to Skin



Hiiiiks...huaaaaaa...... Tangisan cengeng bak anak kecil itu kini bergema bersahutan dengan suara hujan dan petir yang sesekali menggelar.


Setengah berlari, Bintang menghampiri, segera mengangkat batang pohon itu agar bisa menarik kaki Bee. Setelah berhasil, dan masih saling menatap, yang satu masih menangis, yang satu masih menimbang jadi marah apa ga, namun pria itu memilih untuk memeluknya. Tangisan yang memekakkan telinga itu mampu membuatnya luluh. Bukan kah yang terpenting gadis bodoh itu selamat?Bukan kah tadi dia hampir gila memikirkannya akan terjadi hal buruk pada Bee?


Segera di rengkuhnya tubuh gadis itu, di dekap erat. "Sudah, jangan menangis. Aku sudah menemukanmu..sudah..sudah aman" Bintang semakin memeluk gadis yang tubuhnya bergetar ketakutan. Sembari menghapus punggung gadis itu agar menjadi lebih tenang.


"Huaaaa..gue takut..dasar om mesum ga bertanggung jawab, kenapa lama nyariin gue?" masih terisak.


"Iya..sudah Bee, jangan takut lagi" Bintang benar-benar seperti om gadis itu, yang saat ketakutan menenangkan dan mendiamkan tangisnya. Sebenarnya yang cari pasal siapa?yang lari bersembunyi menjauh siapa? lalu saat musibah itu datang, kenapa dia yang di salahkan? tunggu dulu, gadis itu tadi menyebut nya dengan om mesum.


Rasanya Bintang ingin sekali menjitak kepala si cengeng itu, tapi dia harus bersabar agar bisa memenangkan hati gadis itu. Hanya hembusan nafas berat yang bisa dia keluarkan kali ini.


Cinta memang kadang membuat pikiran jadi dangkal, naif. Segarang- garang nya mafia aja kalau udah jatuh cinta, pasti bertekuk lutut di hadapan sang gadisnya.


Hujan semakin deras, langit pun mulai menggelap, padahal ini masih jam lima sore. "Naik.." ucap Bintang yang sudah jongkok agar gadis itu bisa naik ke punggung nya.


"Ogah..ngapain juga gue naik di punggung lo, najis.." cibirnya. Sombong, setelah bisa berdiri yang itu pun di bantu Bintang, Bee merasa dirinya sudah bisa berjalan ke arah pondok.


Dengan kesabaran yang masih di paksakan, Bintang berdiri, melihat bagaimana makhluk cantik itu akan berjalan hingga sampai pondok, dengan medan yang sangat licin dan hujan deras.


Dua langkah aman, tapi setelahnya, Bee merintih kesakitan.


"Huff.." dengus an Bintang masih sempat dia dengar sebelum pria itu kembali jongkok di hadapannya. "Naik..atau lo gue tinggal!" ucap nya dengan suara tinggi.


Dia bukan malaikat, yang setiap detik persediaan kesabarannya selalu ada. Hari ini kesabarannya udah pada ambang batas. Besok baru di isi lagi.


Dengan ogah-ogahan, Bee naik ke punggung pria itu, dan saat tangan Bintang harus menyentuh paha telanjangnya, ada perasaan aneh yang menyambar hatinya.


Pun dengan Bintang. Gadis itu tidak berat, sama sekali tidak, tapi yang buat Bintang sedikit lemas, hingga jalannya sedikit oleng adalah selain karena jalanan memang licin, ini kali pertama mereka bersentuhan, skin to skin.


Kulit mulus Bee terus membayang di pelupuk matanya, emang dasar mesum seperti gelar yang di sematkan Bee padanya, Bintang terus saja memikirkan benda kenyal yang terasa terhimpit di punggungnya.


Entah alam seolah ingin menghukum mereka atau malah memberikan kesempatan untuk mereka lebih lama bersama, hujan turun semakin lebat, hingga pandangan Bintang mengabur. Jalanan pun semakin licin.


Melihat ada pondok kecil, terbuat dari ijuk pelepah pohon sawit, Bintang memutuskan untuk berteduh sebentar. Toh sudah setengah perjalanan mendekati pondok para pekerja.


"Heh..mau apa kita di sini?jangan ngambil kesempatan ya, atau gue teriak?" ancam Bee saat Bintang menurunkannya perlahan.


"Teriak aja, teriak sekencang nya, paling juga babi hutan yang nyahutin!" salak Bintang kesal, melangkah masuk ke dalam pondok itu. Lumayan bisa melindungi dari air hujan agar tidak membasahi tubuhnya sedari tadi.


Gimana kalau dia nanti ngambil kesempatan saat gue lengah? ogah!


Bintang tak perduli lagi, apa gadis itu mau masuk atau tetap dengan sikap konyol dan pikiran bodohnya tentang diri Bintang, hingga masih berdiri diluar, menahan angin dan hujan yang membuatnya kini menggigil.


Dengan sigap, Bintang menyalakan api dengan sisa bekas pembakaran jagung yang di lakukan oleh orang sebelum mereka. Masih ada sisa kayu dan batok kelapa sebagai bahan bakarnya.


Susah payah api itu akhirnya menyala. Untung ada mancis di saku jaket jeans nya. Perlahan api kecil itu sudah terasa memberi rasa hangat, Jaket yang sudah basah dia lepas dan di sampirkan di atas tumpukan pelepah pohon sawit.


Sedang kan tokoh utama kita masih tetap berdiri di depan, menggigil hingga terdengar suara gigi yang gemeretak.


"Please, masuk ke dalam Bee.."


Masih tak perduli dan cuek. Berdiri dengan memeluk tubuhnya sendiri. Berharap hujan bisa berhenti. Namun denyut kaki nya yang sakit membuatnya merintih. Dan duaaaar..


Suara petir itu menghantar nya berlari masuk kedalam dan spontan memeluk Bintang. Menyembunyikan wajah takutnya di lengan pria itu. Sebaris senyum tersungging di wajah tampan sang Casanova.


Setelah petir yang lima kali bersahut-sahutan itu Reda, Bee sadar akan posisinya dan segera menjauh. Namun tidak semudah itu Munaroh!


Bintang menarik tubuh basah gadis itu untuk tetap di pelukannya. Lengan kekar itu sudah membelenggu lengannya. "Tetap begini, agar kita bisa saling berbagi kehangatan. Kita harus kerja sama, agar bisa tetap bertahan terjaga hingga hujan reda" ucap Bintang menatap manik indah gadis itu.


Kini usaha melepaskan diri Bee sudah berhenti. Dia tidak meronta lagi. Nyatanya begini memang membuatnya hangat..dan mengantuk. Namun perut nya lapar pasti akan membuat nya tetap terjaga. Dia baru ingat, gara-gara ingin membuat Bintang kesal, dia lupa untuk makan.


Kini yang hanya bisa dia lakukan, menunduk memandangi api, dan memikirkan menyantap semangkok besar mie instan pedas buatan bi Jum. Tanpa sadar di lap nya air liur nya yang menetes dari sela bibirnya.


Dan semua yang di lakukan gadis itu di perhatikan oleh Bintang yang membuatnya tersenyum. "Apa lo ngeliatin gue?" salak nya kesal, kali ini sekali gerak, pelukan Bintang terlepas dari tubuhnya.


Bintang mengalah, yang penting gadis itu ada di dekatnya. "Kamu lapar?"


"Urusannya sama lu apa?" raung nya.


Sok iyes banget ngomong ke gue pake kamu-kamu, ga ngaruh, gue tetap ga terpikat pesona lo omes!


"Bee, mumpung kita lagi berdua gini, aku mau ngobrol sama kamu. Ini serius" ucap Bintang selembut mungkin. Dia sadar perbedaan umur mereka yang jauh, harus membuatnya lebih bersabar menghadapi gadis itu.


Tapi reaksi Bee malah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, pertanda tidak ingin mendengar apa pun dari Bintang.