
Tidak ada yang tidak dapat di bereskan seorang Riko. Bagaimana pun cara, hanya dia lah yang tahu. Yang pasti, saat ini Bintang sedang mempelajari isi kontrak yang kini sudah di tandatangani Bee.
Secara keseluruhan, kontrak itu tidak ada yang memberatkan Bee. Hanya enam bulan, lalu kontrak itu akan berakhir. Royalti yang di berikan pada Bee selama wajah nya di gunakan sebagai brand ambassador mereka pun lumayan fantastis.
Setelah tidak mendapati ada hal yang bisa merugikan atau mencelakai gadis bodoh, Bintang baru bisa bernafas lega.
"Jam berapa dia akan datang?" delik nya dari balik laptopnya.
"Sebentar lagi tuan. Dia sudah memasuki kawasan ini" sahut Riko yang berdiri di hadapan Bintang. Tidak berapa lama, ponsel Riko berbunyi.
"Permisi tuan, saya jemput dulu orang nya ke bawah" Bintang hanya mengangguk. Mata nya kembali sibuk memandangi wallpaper layar ponselnya.
Photo yang sudah hampir tiga bulan lalu dia pasang. Photo Bee yang tampak memeluk erat tubuh Saga saat memberikan ASI pada putranya.
Tak bisa kah kita bersama selama nya Bee? aku begitu menyayangi mu. Rasa begitu berat jika harus berpisah dengan mu..
Bintang mengusap layar ponselnya dengan jari telunjuknya. Ada kabut menutupi pandangannya. Gadis itu sungguh mampu mengobrak-abrik jiwanya.
"Tuan.."suara Riko membuyarkan lamunannya. Seorang pria bertubuh tambun berdiri di belakangnya.
"Sore bos.."
"Silahkan" Bintang mengayunkan tangan mempersilahkan pria itu duduk.
"Riko sudah menjelaskan semua nya kan?" Ajitoto mengangguk. Pagi ini sehabis meeting dengan PT. Buana, Aji mendapat telepon dari seseorang yang mengatasnamakan asisten Bintang Danendra. Mendengar nama itu tentu saja Aji begitu gembira.
Jangan kan untuk bekerjasama, menjadi bawahan dan punya hubungan dengan lingkungan Bintang Danendra pun adalah suatu kehormatan bagi sebagian orang.
"Jadi, kamu sudah mengerti?" lanjut Bintang dingin.
"Sudah tuan. Saya akan menjaga nya tanpa dia tahu anda yang minta" ucap nya penuh hormat.
Yang membuat Aji tidak paham, seberapa berartinya gadis itu bagi seorang Bintang, hingga harus menjaga nya bak bayi yang tidak boleh di sentuh orang lain apalagi seorang pria.
Aji kenal dengan Bee. Sudah sejak lama, bahkan pernah gadis itu dia pakai untuk pagelaran busananya. Gadis cantik yang punya attitude baik, tapi sedikit cuek dan tertutup pada orang lain.
Kalau biasanya model baru pasti akan mencari sponsor atau back up orang hebat di negeri ini, gadis itu berbeda. Ada beberapa kali setelah melakukan pertunjukan, pengusaha kaya menaksir nya untuk one night stand, tapi mentah-mentah gadis itu menolak.
"Maaf, boleh kah saya bertanya bos" ucap nya ragu.
"Silahkan"
"Dia siapa nya bos?" tanya nya penasaran. Begitu gatal ujung lidah nya ingin tahu. Kalau benar gadis ini adalah salah satu simpanan Bintang, ini adalah berita besar. Karena khalayak ramai tahunya Stella lah kekasih Bintang. Tapi kalau ternyata gadis ini adalah saudara atau keponakannya, dia harus menjaga lebih ekstra, jika kecolongan lehernya jadi taruhan.
"Kau boleh mengajukan pertanyaan, tapi saya tidak berniat menjawabnya. Kau hanya perlu ingat, jaga dia dengan nyawamu! aku akan menempatkan banyak pengawal dan mata-mata. Sedikit pun dia terluka atau ada seseorang yang berniat untuk menjahati atau ada pria yang mendekatinya maka aku akan menghabisi mu!"
Di rumah, Bee sudah menyiapkan berbagai keperluannya. Lalu setelahnya, dia memeriksa stok ASI dalam kulkas. Semua aman dan steril.
"Mira, aku mohon jaga Saga selama dua hari ini ya. Jangan sampai dia nangis karena kelaparan. Kalau ada apa-apa kamu langsung kabari aku ya" ucap Bee membelai kepala Saga yang tumbuh rambut lebat dan hitam. Anak itu masih belum juga melepas nen nya walau sudah sejak setengah jam lalu di mulai.
"Baik Nya. Tapi apa tuan sudah kasih izin nyonya pergi?"
"Aku ga perduli Mir. Mau setuju atau tidak, aku akan tetap pergi"
Mira paham Memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan itu. Baik tuan atau pun Nyonya sama-sama keras. Walau Mira tahu mereka saling cinta. Hanya saja keduanya punya ego yang tinggi.
Malam ini, Bee melewatkan makan malam. Tidak ingin meningkatkan berat badannya hingga membuat penampilannya besok akan tidak sempurna. Bee menimbang, akan memberitahu akan keberangkatan besok atau pergi diam-diam.
Tapi hingga pukul sepuluh mala, Bintang tak juga pulang. Bee memutuskan untuk tidur memeluk Saga.
Tapi saat pukul satu pagi, Saga merengek minta nen, Bee terjaga. Baru lah setelah Saga kembali terlelap, Bee turun untuk mengambil minum. Ya benar, itu hanya alasannya. Nyatanya air minum tersedia di kamarnya. Itu hanya alasan untuk memastikan Bintang sudah pulang atau tidak.
Mobil sport pria itu tidak ada di garasi yang menandakan Bintang belum pulang. Sebisa mungkin dia tidak menangis, karena pikirannya mengarahkan dirinya beranggapan bahwa Bintang saat ini ada di pelukan Stella atau wanita lain.
Bee berusaha untuk memejamkan matanya, tapi nyatanya tetap tidak bisa. Kebencian yang dulu sudah sirna dari hatinya, kini justru muncul kembali pada pria itu.
Cemburu? sayang nya Bee tidak mengakuinya. Bagi nya amarahnya hanya karena merasa jijik Saga harus punya ayah seperti itu.
Pada kenyataannya, pria itu memang tidak pulang. Tepatnya menghindar. Dan kini dia sedang duduk di balkon apartemen nya berteman dengan minuman di tangan. Dia ingin lihat, apakah Bee akan tetap pergi tanpa izin dari nya. Jika memang gadis itu tetap melakukan ingin nya tanpa perduli pada anak mereka, maka Bintang sudah siap untuk melepasnya.
Pagi hari nya, pukul sembilan Bee sudah siap untuk berangkat ke bandara. Tapi tangannya begitu berat menyerahkan Saga dari dekapannya.
"Kita berangkat Nya" ujar sang supir yang sudah memasukkan kopernya ke bagasi.
"Mir, titip Saga ya. Kalau ada apa-apa kabari aku." dengan berat Bee memberikan anak nya pada Mira setelah mengecup puncak kepala Saga.
"Mama pergi ya sayang. Kamu baik-baik. Lusa mama usahakan balik" ucap nya seolah anak itu mengerti. Air matanya pun turun. Begitu berat meninggalkan putra padahal hanya akan pergi dua hari. Bagiamana nanti kalau sudah tiba waktu nya berpisah? Bee bahkan tidak akan melihat Saga selama nya.
Sepanjang jalan, Bee menangis. Hati nya ingin meminta supir untuk putar balik, tapi akalnya bilang dia harus profesional. Dia sudah tanda tangan kontrak. Dia ingin membawa Saga, tapi bayi itu masih terlalu kecil untuk perjalan ini.
Setelah melihat Bee berangkat melalui ponselnya yang terhubung dengan cctv di rumah, Bintang hanya menunduk lemas. Lagi-lagi hati nya sakit dianggap tidak penting oleh gadis itu.
Bergegas Bintang menyambar jaket nya dan pulang ke rumah. "Iya bos" terdengar suara di seberang sana menyapa.
"Ko, urus perusahaan selama tiga hari ini. Aku izin tidak masuk kerja"
"Apa tuan sakit?"
"Bukan. Aku mau ngurus anak ku!"