Sold

Sold
Manusia bodoh



Piter baru menyadari ternyata dunia pernikahan tidak selalu buruk. Buktinya hari-harinya semakin berwarna, kadang bahkan tingkah nya begitu aneh hingga menjadi olok-olokan teman sejawat nya. Misalnya saja, dua hari lalu dia harus berangkat pagi-pagi sekali hingga tidak sempat sarapan. Diam-diam Kinan memasukkan bekal dalam tas nya. Sesampai di kantor, saat hendak mengeluarkan berkas, Piter mengeluarkan box itu dan membukanya. Senyum sumringahnya membuat teman-temannya tidak tahan untuk tidak menggodanya.


"Wuih, yang sekarang udah punya istri, disiapkan bekal, cuy.." ledek Gawo yang di sambut dengan yang lain.


Semua ocehan para sahabatnya itu tidak dapat merusak kebahagiaannya. Dia menghentikan pekerjaannya dan mulai menikmati sarapannya.


Pulang kerja pun, Piter tidak lagi mau berlama-lama di luar. Saat berkumpul untuk minum bersama para sahabat di bar, Piter akan mencari alasan untuk segera pulang.


Tingkah nya persis seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Semua itu bukan tanpa alasan, kalau bisa dia pasti sudah mewartakan pada semua orang apa yang dia rasakan kini, tapi Piter ingin menyimpannya sendiri.


Malam itu, selepas pulang periksa dan singgah di salah satu restoran untuk makan malam, mereka pulang dengan diam, tapi bukan itu bagian yang menegangkan bagi Piter.


Setelah keduanya membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, keduanya naik dan bersiap untuk tidur. Tapi tanpa sengaja, jidat Piter beradu dengan kening Kinan, hingga keduanya mengaduh lalu tertawa bersama.


Bak di sinetron, keduanya saling tatap hingga tawa itu tidak terdengar. Entah siapa yang memulai, namun malam itu jadi saksi penyatuan indah mereka untuk kali kedua, tapi kali pertama yang membekas dalam di hati.


Rasanya nya jangan ditanya, Piter pasti bilang, sempit dan nikmat hingga buat nya ketagihan. Rumah tangganya kini layaknya rumah tangga orang pada umumnya.


Malamnya, biasanya akan mereka habiskan dengan duduk berdua, menikmati acara komedi di salah satu stasiun teve.


Saat Piter tiba, dia tidak menemukan Kinan di dapur atau pun di kamar. Tiba-tiba rasa paniknya muncul. Biasanya dalam dua bulan ini saat pulang, Kinan sudah lebih dulu di rumah menunggunya.


Langkah seribu Piter turun kembali ingin bertanya pada pak satpam di bawah apakah melihat istrinya. "Pak Piter, ada apa pak? wajah bapak tampak pucat" sapa pak satpam apartemen.


"Lihat istri saya pak?"


"Oh, Bu Kinan. Tadi jalan ke arah taman pak" tanpa mendengar lebih lanjut, Piter berlari menuju taman kecil apartemen yang biasanya banyak anak-anak bermain.


Piter berjalan perlahan, tanpa suara berdiri tepat di belakang Kinan yang belum menyadari keberadaan.


"Nanti kalau kamu udah besar, bunda temani main ayunan ya" ucap nya membelai perutnya naik turun sembari menatap anak-anak yang tengah bermain riang.


"Papa sibuk, jadi hari ini kita berdua aja dulu yang main ke taman. Bunda sayang banget sama kamu" lanjutnya. Ketenangan Kinan terusik setelah tangan Piter menyentuh pundak nya.


"Eh, kamu. Buat kaget aja...udah pulang?" sambut Kinan yang langsung berdiri saat menyadari keberadaan Piter yang nyatanya sudah sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Lagi ngapain di sini?" roh nya seakan telah kembali setelah melihat Kinan dalam keadaan baik. Hati nya juga menghangat mendengar perbincangan kecil mereka tadi.


Perasaan yang menimbulkan rasa ingin melindungi Kinan dan anak mereka.


"Lihat anak-anak main. Aku bosan di rumah terus" ucap nya.


"Kita pulang" Kinan terhenyak saat jemari Piter menautkan jemarinya. Hubungan mereka memang sudah layaknya suami istri yang normal, walau hingga saat ini Piter masih belum mengungkapkan perasaannya, tapi Kinan yakin, sedikit banyak Piter sudah mulai menerimanya.


"Besok jadwal periksa, kamu bisa temani aku?" tanya Kinan berharap. Sudah lima belas menit lalu dia rebahan di tempat tidur, dan suaminya masih sibuk mengotak-atik isi laptop di sampingnya.


"Jam berapa?" sambar Piter tanpa menoleh.


"Jam tiga, bisa?" Hanya anggukan yang dia dapat tanpa melihat ke arah nya. Tak mengapa, seperti ini saja Kinan sudah bersyukur. Harapan untuk rumah tangga nya bisa langgeng pasti terwujud.


"Sudah mau pulang Bu?" tanya Intan, sekretaris Kinan berdiri dari meja nya saat melihat bos nya keluar dari ruangan.


"Iya Tan. Aku mau check up, ga ada agenda pertemuan lagi kan?"


"Ga Bu, hati-hati di jalan"


Sudah pukul tiga, tapi Piter belum juga datang. Ingin menghubungi pria itu, tapi Kinan takut, dianggap terlalu manja dan memaksa.


Mungkin masih ada kerjaan, Piter pasti datang..


"Bu Kinan, silahkan" ujar salah satu perawat yang menjadi asisten dokter Leann.


"Bisa kasih ke yang lain aja dulu sus nomor antrian saya. Suami saya belum datang" ucap nya memohon.


Tiga nomor antrian berlalu, tapi Piter tak kunjung datang. "Bu Kinan, ayo Bu. Ibu pasien terakhir hari ini" ucap sang perawat. Saat beranjak, ponsel Kinan berbunyi. Matanya membulat dan sebaris senyum terukir saat melihat nama si penelpon.


"Halo.."


"Nan, aku ga bisa datang. Ada kerjaan tiba-tiba, penting. Kamu bisa periksa sendiri kan?" tubuh Kinan lemas, harapannya untuk bersama Piter melihat anak mereka harus ditunda.


"Bisa. Ya udah ga papa. Kamu..kamu jaga kesehatan, jangan sibuk kerja terus" bahkan ucapan Kinan yang mengkhawatirkan Piter tidak di tanggapi, telepon justru di putus sepihak oleh pria itu.


Melihat kandungannya yang baik-baik saja, hati Kinan bahagia. Dokter bilang, dia harus banyak konsumsi sayur dan buah. Mengingat isi kulkas nya sudah tidak ada lagi stok sayur dan buah, Kinan berencana singgah ke supermarket.


Ojol yang membawanya ke salah satu mall sudah berhenti di parkiran. Perlahan, Kinan memasuki lantai satu. Niat nya untuk melangkah ke lantai dua urung, saat melihat sepasang anak manusia yang tentunya dia kenal sedang turun ke lantai dua juga. Mereka asik ngobrol dan tertawa bersama entah apa yang di bisik kan wanita itu pada sang pria.


Tergesa-gesa Kinan mengikuti keduanya. Wanita itu begitu mesra bergandengan pada pria itu dengan pakaian minim. Mereka bukan sekedar teman, karena Kinan bisa melihat wanita itu terus menerus mencium dada pria itu sembari berjalan.


Dia tidak mungkin salah lihat. Itu suaminya yang katanya sibuk hingga tidak bisa menemani diri nya. Baru aja dia melambungkan harapan yang tinggi akan masa depan rumah tangganya, ternyata impiannya terlalu tinggi.


"Halo.." terdengar suara si pria yang menghentikan langkahnya, sementara wajah si wanita tampak tidak senang, Kinan menebak karena Piter mengangkat telpon dari nya.


Kinan menyesal menekan nomor Piter, awalnya ingin mengetahui masih ada kah kejujuran di hati Piter, tapi nyatanya lidah nya keluh untuk bicara.


"Halo, Kinan?" ulang Piter.


"Lagi dimana? bisa jemput aku?" Kinan meremat dadanya. Sakit.


"Em..itu.." tampak si wanita ingin merebut ponsel dari tangan Piter, tapi pria itu menghalanginya.


"Sorry Nan, aku ga bisa. Lagi ada hal yang harus aku selesaikan"


Tes! dan air mata Kinan jatuh. Dia yang bodoh, mengapa memberi hati pada pria yang tidak punya hati. Menjadi senandung indah pada pria yang tuli.


"Oh..ya udah. Kamu masih di kantor?" Kinan mencoba sekuat tenaga untuk mengeluarkan suara se-biasa mungkin.


"Iya, aku di kantor, udah dulu ya"