
Sepanjang perjalanan, yang hanya kurang dari dua jam di habiskan Bee untuk tidur. Sementara Bintang mencoba menyelesaikan masalah nya.
"Bangun, udah sampai" ucapnya lembut, menyentuh pipi Bee. Gadis itu masih mengumpulkan nyawa saat melihat sekelilingnya.
Mereka sudah di jemput oleh Riko. Sesuai instruksi dari Bintang, Bee dibawa ke rumah mewahnya di Jakarta Selatan. Rumah yang jarang dia tempati. Yang memang dia persiapkan jauh sebelum dia mengenal Bee, untuk tempat tinggalnya kelak setelah menikah.
Rumah bernuansa Eropa itu begitu megah, dengan banyak bunga di taman yang luas. Rumah di sekitarnya juga besar-besar dan mewah, namun dengan jarak yang cukup jauh, dari satu rumah ke rumah lain. Membuktikan kurang nya sosialisasi diantara penghuni tempat ini.
"Bin..kak.." ralat nya ingat ucapan tante Di. "Di rumah ini siapa aja yang tinggal?"
Sempat tersenyum saat mendengar Bee mengganti panggilan nya menjadi kakak. Dia suka. "Banyak.."
"Maaf, keluarga mu..itu.." Bee segan menanyakannya. Lucu rasanya, dia menikahi pria yang dia sendiri ga tahu asal usul suaminya, siapa keluarga nya, ada berapa bersaudara. Yang dia tahu Bintang adalah pria kaya raya. Titik.
"Aku punya ibu, dan juga seorang adik laki-laki"
"Hanya itu? ayah mu?" susul nya karena melihat Bintang sudah tak melanjutkan kalimatnya.
Bintang membuka pintu mobil, setelah berhenti tepat di depan rumah mereka. Lalu berputar untuk membuka pintu mobil bagi Bee.
Bee menerima tuntunan tangan Bintang saat keluar dari mobil. "Di sana..ayah ku duduk di sana mengamati kami semua. Yah..ini menantu mu, cantik kan?" seru Bintang menunjuk langit.
Tanpa sadar Bee mengencangkan pegangan tangannya pada tangan Bintang. Tersentuh dengan apa yang Bintang lakukan. Dan ikut sedih karena kini Bintang sudah tak memiliki papa.
"Yuk masuk.."
"Kamu baik-baik aja?" tatap Bee, menangkap setitik kabut bening di mata Bintang.
"Hmm"
Rumah itu begitu indah dengan segala interior dan pengisi nya. Wangi cat nya juga masih terasa. Bintang memang meminta Riko untuk mendekor ulang rumah nya. Agar suasana nya lebih fresh, dan tidak kelam karena jarang di tempati.
Pak Jarwo, yang menjadi kepala pelayan di rumah itu sudah meminta semua pelayan yang berjumlah sepuluh orang berbaris di depan pintu masuk, guna menyambut tuan dan nyonya mereka.
"Bin..Kak..kok banyak amat pelayan di rumah ini?" bisik Bee kikuk di tatap oleh para pelayannya.
"Biar istri aku bisa dilayani dengan baik" ucap nya tersenyum. Bintang memang meminta untuk menambah beberapa pelayan lagi, agar Bee benar-benar nyaman di rumah itu.
"Selamat datang tuan dan ini pasti nyonya muda kita" ucap pak Jarwo dengan suara berwibawa, melempar senyum yang menghiasi wajah tua nya.
Bee hanya mengangguk, saat pak Jarwo menyalaminya.
"Terimakasih semua, saya Bee..bukan Saya Bellaetrix, panggil aja Bella" ucap nya. Untuk dia duduk, kalau tidak bisa tampak kalau dirinya gemetaran.
"Ini nyonya muda kalian, istri saya. Perintah dia sama kuat nya dengan perintah saya, jika kalian mengikuti kata-katanya berarti kalian mengikuti perintah dan kata-kata saya, jika kalian menolak nya dan tidak menghormati istri saya, itu sama hal nya dengan tidak menghormati saya" seru Bintang menatap semua pelayannya lalu kembali menatap Bee.
Please kak, lu jangan sweet kek gini, gue bisa beneran suka sama lu..jantung gue ga kuat tiap terlena dan tersentuh kelembutan lu kak..
"Ini kamar kita..kamar utama yang paling luas di rumah ini" ucap Bintang memperlihatkan kamar yang begitu luas, dengan tempat tidur bak di kerajaan di film-film. Tempat tidur besar dengan empat tiang tinggi dan kelambu dari sutra yang menghiasi sisi tempat tidur.
"Kamu suka?ucapnya memeluk tubuh Bee dari belakang"
Kaget luar biasa, Bee menyentak, melepaskan tubuhnya dari Bintang.
"Kakak kok peluk-peluk sih? ingat kak, tujuan kita. Dan lagi, aku kan minta kita tidur bersama sekali sebulan, jadi kita ga bisa tidur sekamar gini" ucap Bee menjauh dari Bintang.
Wajah riang Bintang tadi terhapus seketika oleh ucapan menyakitkan Bee. Dia juga punya harga diri, tak ingin terlalu mengemis pada gadis itu. Cukupkan selama ini dia meletakkan perasaannya pada telapak kaki Bee.
"Iya, aku ingat. Mana mungkin aku lupa. Kamarku tepat di sebelah kamar ini. Kabari aku jika kau sudah siap untuk mengandung ahli waris ku!" ucap Bintang getir, dan berlalu dari kamar itu, dengan rasa sakit di ulu hati nya. Tersayat!
Harus nya dia tak berharap banyak. Beberapa hari bersama gadis itu, dengan sikap 'penurut' nya, Bintang kira dia sudah berhasil meluluhkan hati Bee. Tapi nyatanya salah.
Bintang masuk ke kamar nya. Melempar Jas nya ke atas tempat tidur, lalu menuang minuman keras yang ada di atas meja, menenggak, membiarkan rasa panas dari minuman itu mencekat tenggorokan nya.
"Dimana lu?" ucap nya setelah menekan satu nomor di daftar kontaknya.
"Temani gue minum, tempat biasa. Ajak yang lain!"
Untuk menghalau rasa panas di otaknya, Bintang perlu mandi sebelum pergi. Tanpa pamit pada Bee yang sedang mandi di kamar nya, Bintang pergi. Hanya berpesan pada pak Jarwo, untuk menyiapkan makan malam, dan segala kebutuhan istrinya tercukupi. Dia tak ingin pelayannya atau siapa pun dari keluarga nya tahu status pernikahan mereka. Alasannya cuma satu, dia tak ingin orang lain mencibir dan memandang rendah istrinya. Ah..begini lah cinta, deritanya tiada akhir! (kata tipatkai!)
Sudah botol kedua yang dia buka, saat Bumi sampai di bar sekaligus cafe itu. Rockstar saat ini sudah berkembang, di bentuk dua lantai. Di bawah di jadi kan cafe, di lantai atas di buat jadi Bar dengan member para pengusaha muda, dan para influence ternama di negeri ini.
Setelah adiknya meneruskan perusahaan papa nya, Agus memilih untuk mengambil alih usaha adik Rockstar, dan berhasil dikembangkan jadi tempat tongkrongan berkelas seperti ini.
"Lama amat lu, ga setia kawan banget lu, nyet!" umpat Bintang mencibir Bumi yang kini sudah duduk di samping nya.
Ryan yang juga tiba bersama Bumi, menepuk punggung Bintang, lalu ingin langsung menenggak minuman dalam gelas yang ada di samping milik Bintang.
"Itu punya Agus, ambil yang lain" seru Bintang menunjuk meja.
"Emosian amat, perjaka tua ini, ya dat.." ejek Bumi dan di sambut gelak tawa Ryan.