
Darren Smith, si penyelamat Saga sudah pulang setengah jam lalu. Dan pasangan suami istri itu sudah berbaring di tempat tidur mereka dengan kehadiran Saga di tengah-tengah.
Walau sudah hening, baik Bintang atau pun Bee tahu, mereka satu sama lain belum tidur, tapi tidak ada yang mau memulai percakapan.
"Bee..kau sudah tidur?" Bintang akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka.
"Belum" sahut Bee pendek. Banyak yang ingin wanita itu katakan. Sampai-sampai dia bingung harus mulai dari bagian mana. Yang pasti, dia kesal, dan juga marah pada Bintang. Semua yang terjadi pada Saga nya hari ini, sedikit banyaknya karena kesalahan Bintang juga.
"Apa kau tidak ingin mengatakan apa pun?" tanya Bintang yang terdengar di telinga Bee tidak bersahabat.
"Banyak. Banyak yang ingin aku katakan pada mu kak. Sangkin banyak nya aku bingung harus mulai dari mana" Bee kini duduk, mengganjal kan lebih banyak bantal di punggungnya agar lebih nyaman bersandar.
"Baik lah. Katakan, karena aku juga memiliki beberapa hal yang ingin aku katakan" Bintang mengikuti jejak Bee, bersandar pada headboard.
"Kalau begitu, kakak aja dulu"
"Ok. Pertama, aku tidak suka cara mu bicara pada tuan Smith, tidak suka kau memanggil nama depan nya, dan yang paling buat aku marah hari ini, bagaimana bisa kau memakai kemeja pria itu?" suara Bintang semakin meninggi. Bee yang mendengar tersulut amarah, semakin kesal pada suami pencemburu nya itu.
Padahal yang Bee ingin dengar dari mulut Bintang adalah ucapan maaf dan bentuk penyesalan karena sudah lalai dalam menjaga Saga. Tapi alih-alih menyesal, dia justru menunjukkan sikap bucin yang tidak pada tempatnya, mendikte apa yang pantas dan tidak pantas dia lakukan. Padahal kalau di urut kembali, Saga tidak akan ada di tengah-tengah mereka lagi, kalau bukan karena Darren, dan pantaskah Bintang bersikap seperti itu terhadap Darren? Ck..dasar tuan muda yang mementingkan diri sendiri!
"Jawab Bee. Aku ingin dengar penjelasan mu!" Oh..jangan lupa, begitu lah Bintang. Nalarnya akan tumpul jika ada serigala jantan berkeliaran di dekat istrinya tercinta.
"Apa yang harus aku jawab? bahkan hanya mendengar ucapan mu pun aku malu. Bisa-bisa nya kau mencemburui Darren?!" salak Bee menatap tajam Bintang. Tatapan elang gadis itu seakan menembus dasar jantung Bintang yang terdalam. Dengan tangannya Bee menyisir sejumput rambut nya yang berserakan jatuh menutupi mata hingga hidungnya.
"Maksud kamu apa sih Bee? apa yang salah dari omongan aku? aku ga cemburu. Hanya saja kau istriku, harus nya kau berpikir seribu kali untuk memakai pakaian pria itu!"
"Dan membiarkan aku menjadi tontonan orang-orang di jalanan karena berjalan dengan berurai air mata dan hanya mengenakan bikini?" salak Bee tidak mau kalah. Beruntung Saga terlalu lelah akan kejadian yang di alaminya tadi, hingga bagaimana pun kuat nya suara kedua orang tuanya tidak mampu menggangu tidurnya.
"Alah, alasan. Kamu kan bisa pulang dulu, ganti. baju, biar aku yang temani ngantar Saga ke klinik" Bintang masih bersikukuh merasa benar.
"Dasar egois kamu kak. Anak kamu udah hampir lewat, kalau tidak langsung di bawa ke klinik. Kau tidak lihat kan banyak nya air yang masuk ke tenggorokan dan hidungnya. Bahkan anak kamu trauma kak! Masih bisa aku mikir buat nyari kamu?" Bee sudah mulai meneteskan satu bulir bening di pipi. Rasa takut akan peristiwa tadi kembali membayang, sulit untuk di lupakan. Saga adalah segalanya baginya, tidak akan sanggup kehilangan anak itu.
Bintang melirik dengan ekor air matanya. Hati nya menciut mendapati Bee menangis. Tapi hati nya juga tetap dongkol, belum reda amarah nya.
Bintang semakin terpojok. Dia juga mengakui ini semua karena kelalaian pria itu. Tapi dia terlalu gengsi untuk minta maaf, sementara Bee terus terisak. Serba salah akan sikap yang harus dia ambil, Bintang memilih untuk tidur membelakangi Bee.
Sungguh, semarah apa pun dia tidak sanggup melihat air mata Bee.
***
Pagi datang dengan diiringi suara burung yang saling bersahutan di ranting pohon. Cahaya matahari pagi masuk dengan malu-malu menerobos tirai kamar Bee.
Matanya susah untuk diajak bangun, tapi tetap harus di paksakan. Sedikit demi sedikit peristiwa yang terjadi kemarin kembali menghantam, bahkan pertengkaran nya dengan Bintang tadi malam juga dengan cepat bisa dia ingat.
Bintang sudah tidak ada di dalam kamar. Sedangkan Saga, masih nyenyak dalam tidurnya.
Bee turun ke bawah, mendapati Mira yang sedang sibuk menata sarapan di meja makan. Disebarkan pandangan ke sekeliling, sejauh mata memandang, dia tidak melihat Bintang, begitu pun Riko.
"Mana kak Bintang, Mir?" Bee duduk di meja makan. Kepalanya masih nyut-nyut an sisa pertengkaran tadi malam.
"Dari jam enam tadi tuan besar dan tuan Riko pergi joging, Nyah"
Bee mendengarkan, tapi malas untuk beraksi atas ucapan Mira. "Mir, tolong buatkan saya lemon tea hangat ya. Gulanya dikit aja, Mir" lanjutnya setengah berteriak agar di dengar Mira yang sudah di ambang pintu dapur.
Hingga pukul sepuluh pagi, suami dan juga asisten setianya tidak pulang juga. Tanpa menunggu lagi, Bee menyantap sarapannya, tapi lima menit kemudian, Bee harus mengehentikan sarapannya karena suara tangis Saga yang sayup-sayup terdengar hingga ke bawah. Bee segera berlari, menenangkan Saga, tapi anak itu terus saja menangis. Bee tahu Saga sedang ketakutan, dia masih mengingat peristiwa kemarin, bahkan untuk membuka matanya pun dia tidak mau. "Sayang..mama di sini, jangan takut. Mama ada temani Saga" ucap Bee berkali-kali mencoba menenangkan Saga, tapi tetap saja anak itu menangis. Bee pusing, bingung harus bagaimana lagi.
Tiba-tiba Bee teringat pada Darren, pria itu sejak menolong Saga, anak nya itu terus memeluk Darren dan tidak ingin berpisah dengan pria itu. Mungkin Saga akan tenang di dekat Darren. Tapi harus di cari kemana pria itu?
Bee menggendong Saga untuk turun, tangisan Saga terus bergema membuat Bee semakin khawatir. Mana suami nya belum juga kembali. Semakin Bee berjalan mendekati pantai, tangis Saga semakin menjadi. Awalnya Bee berpikir bisa bertemu dengan Darren di pantai, tapi tangis Saga yang histeris memuat nya memilih untuk pulang. Tapi dari kejauhan, dia melihat sosok tampan itu sedang berjalan ke arahnya juga. Mungkin karena pria itu sempat melihat mereka.
"Kenapa Saga menangis histeris seperti itu?" Darren yang setengah berlari mengambil nafas, tenggorokannya terasa tercekat.
"Ga tahu, bangun-bangun dia udah nangis semakin lama semakin kencang"
Darren mengambil Saga dari pelukan Bee, seperti magic, tangis Saga berhenti, setelah mendengar suara Darren yang membuainya. Saga bahkan mau membuka mata. "Jangan takut, ada om Darren bersama Saga"