
"Sayang..nanti pulang jam berapa?" Bintang masih menatap wajah istrinya yang fokus pada layar tabletnya. Bahkan Bee tidak sadar kalau mereka sudah tiba di parkiran klinik.
"Yang.." ulang Bintang meminta perhatian istrinya.
"Eh..iya kak?"
"Kamu sibuk banget sih sampe ga nyadar kita udah sampe"
"Oh..iya maaf kak. Ini ada email. Ngomong-ngomong kak, ada rumah sakit yang minta aku bekerja di sana, menurut kakak gimana?"
Bintang menarik nafas dan menghempaskannnya kasar. Berharap ingin meminta Bee untuk berhenti kerja, malah kali ini istrinya mau minta izin kerja di rumah sakit yang pastinya akan menyita lebih banyak waktunya.
"Gimana kak? aku boleh ya kerja di rumah sakit"
"Kamu kan udah buka klinik yang. Terus ini nanti gimana kalau kamu kerja di rumah sakit?" ucap Bintang lembut. Apa pun yang bisa membahagiakan Bee akan dia setujui, tapi Bintang juga berharap kebebasan yang dia berikan jangan sampai membuat anak-anak mereka dan tentu saja dirinya menjadi terlantar.
Kalau masalah pendapatan, seberapapun yang Bee hasilkan mungkin bisa di berikan Bintang dua bahkan lima kali lipat sekalipun, tapi Bintang sadar, istrinya yang punya pemikiran maju dan mandiri lebih memilih untuk bekerja, agar bisa mengimplementasikan ilmu nya untuk membantu banyak orang.
"Kalau klinik, aku bisa minta jadwal 2 kali seminggu. Hari lainnya bisa berganti dengan teman ku yang kemarin menggantikan aku selama cuti melahirkan" ucap Bee penuh gembira. Dia terlalu bersemangat jika membahas mengenai dedikasi dirinya dalam pekerjaannya.
"Nanti kita bicarakan di rumah ya sayang. Kamu masuk dulu, aku juga mau ke kantor" putus Bintang mengusap rambut Bee penuh sayang.
***
Hingga tiba di kantor, mood Bintang masih belum baik. Sepanjang hari pria itu menjadi uring-uringan hingga membuat Riko enggan untuk mendekat.
Bintang melirik jam tangannya, masih pukul dua siang. Sementara untuk melakukan pekerjaannya pun Bintang sudah malas. Diraihnya ponselnya di sudut meja, lalu menekan satu nomor yang ada di daftar kontaknya.
"Dimana lo?"
"Kenapa? tumben lo nyariin gue?" balas suara di seberang sana.
"B*ngke! jawab aja. Lo di kantor?"
"Ya kali jam segini di atas perut"
"Asu!" umpat Bintang kesal.
"Gue tunggu di tempat Agus. Buruan!" Bintang sudah menutup telponnya. Menyambar jas nya dan segera pergi dari sana.
Setengah jam kemudian dia sudah duduk di ruang VIP di Rock cafe lengkap dengan di temani segelas cocktail.
"Ngapain lo nyari gue? ga cukup si Agus nemani lo teler?" suara bariton di belakangnya membuat Bintang segera menoleh.
"Nyampe lo nyet?"
"Wajah lo kusut amat, kayak daleman bekas" tawa pria itu menggema di ruangan itu.
"Sialan! Gue serius nih Mi, gue lagi puyeng. Bantu gue"
"Kenapa?"
Mulut Bintang kembali terkatup tidak jadi memberi jawaban, karena Agus datang membawa satu botol minuman lagi beserta Snack untuk mereka.
"Lo udah ga punya pegawai sampe bawain sendiri?" ejek Bumi tersenyum.
"Lo ada masalah apa nyet?" lanjut Bumi menyesap minuman nya. Dia harus mengatur pola minum nya agar jangan sampai ke bablasan. Dia tidak mau kalau sampai Sky melarangnya masuk ke kamar.
"Gue bingung mau cerita dari mana, yang jelas kepala gue mumet banget!"
"Kepala mana dulu nih, yang atas apa bawah?" sambar Agus cengengesan.
"Otak lo ya, anak udah tiga aja" sambil Bumi.
"Gue serius nih. Tolong bantuin gue"
"Iya apa nyet?" jawab Bumi yang di angguk Agus.
"Jadi gini, beberapa hari lalu, gue temani Saga main di taman komplek, di sana gue ketemu sama satu cewek.."
"Nah kan, lo selingkuh. Dasar ga mengotak lo ya. Pasti Bee minta cerai ya?" ujar Agus sotoy hingga mendapat lemparan bungkus rokok dari Bumi.
"Bisa diam ga sih lo, Gus?" hardik Bumi kesal. Bintang bahkan sudah mengepal kan tinju ingin membelai rahang Agus agar ga sembarangan bicara.
"Teman gila lo dasar" Maki Bintang.
"Gue ketemu dan memang ngobrol sama dia dua kali. Tapi pure cuma ngobrol. Gue akui dia cantik dan begitu anggun.."
"Nah kan, ngaku juga lo udah selingkuh" sambung Agus. Kali ini Bintang berdiri dan memiting leher Agus hingga pria itu sesak untuk bernafas.
"Ampun..ampun..gue bakal diam"
Penuh kesal Bintang melepas Agus dan kembali duduk di bangku nya semula. "Jadi singkat cerita, gadis itu tiba-tiba udah di rumah gue aja, jadi pengasuh si kembar" lanjut Bintang menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi.
"Nah loh kok bisa?" tanya Bumi mulai tertarik.
"Gue ga tahu. Yang jelas pas gue pulang, itu gadis itu di sana, dan Bee bilang Hana menawarkan diri menjadi pengasuh duo baby Si"
"Namanya Hana?" tanya Agus, tapi di cuekin Bintang dan Bumi juga merasa tidak perlu memperjelas.
"Jadi gimana nih Mi?" tanya Bintang meremas rambut nya, pusing kepalanya ga hilang-hilang. Kini bahkan dia takut untuk pulang ke rumah jika Bew tidak ada di rumah.
"Cantik ga?" Agus masih bertahan dengan rasa penasarannya, tapi sayang nya Bintang lagi-lagi tidak berniat untuk menjawab nya.
"Saran gue, lo diamin aja dulu, sambil pantau. Karena kalau lihat perangai istri- istri kita, kalau lo cerita bahwa lo udah pernah ketemu sama itu gadis, yang ada kalian ribut. Lo pantau gelagat tu gadis. Kalau punya kesempatan lo tanya tujuan dia masuk ke rumah lo apa" ucap Bumi memberi saran.
Sesaat Bintang berpikir. Apa yang di katakan Bumi ada benarnya. Dia juga tidak bisa serta merta memvonis Hana punya maksud dengan nya Karen wanita itu pun bersikap biasa saja, tidak ada indikasi ingin menggodanya.
Dua jam mereka ngobrol. Berbincang seputar rumah tangga hingga pekerjaan. Sudah lama mereka tidak ngumpul dengan formasi lengkap.
Langit mendung di luar sana menambah rasa ngantuk Bintang. Kepalanya sudah oyong tidak terasa sudah terlalu banyak minum, tapi dia harus segera pulang. Diliriknya jam di pergelangan tangan, pukul 6 sore. Hampir tiga jam mereka di tempat itu.
"Gue cabut duluan" ucap Bintang mencoba berdiri. Kepalanya terasa berat.
"Lo yakin bisa pulang dalam keadaan begitu?"
"Tenang. Gue pasti nyampe rumah. Gue cabut" Bintang melambai dengan gerakan tubuhnya yang linglung.
Nyatanya Bintang harus berusaha keras untuk membuka matanya. Pengaruh minuman itu membuat tubuhnya berat, begitu pun kepalanya. Dia butuh tidur, tapi jarak masih jauh. Tanpa sadar dia menginjak rem, mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Laju mobil di belakang yang menyalipnya membuat Bintang tidak melihat ada mobil sedan yang datang dari arah berlawanan. Demi mengelakkan mobil itu, terpaksa Bintang harus banting stir dan keluar dari alur, menabrak pohon.