Sold

Sold
Rival



"Thank you for to day" adalah kalimat penutup dari Kinan sebelum semua orang bubar. Bee sudah menyandang tas nya, keluar dari ruang fitting dan mendapati semua orang seolah sedang menunggunya di depan parkiran studio photo.


"Udah kelar? yuk" ajak Hera.


"Emang kita mau kemana? kenapa semua pada ngumpul begini? jangan bilang lagi nungguin gue" bisik Bee tertahan. Sekilas di lirik nya Bintang, tengah asik bicara dengan Kinan. Ah..kembali sudut hati nya perih.


"Emang nungguin elo. Mbak Kinan ngajak kita makan malam bersama" jawab Hera riang. Ini lebih dari mendapat bonus, bisa makan bersama dengan pemimpin perusahaan besar.


"Eh, gue ga ikut deh. Bentar lagi teman gue jemput. Udah mau nyampe katanya. Lagian ga enak sama tante gue" Bee bersyukur, paksaan Kia untuk menjemputnya di sini akhirnya di terima jadi punya alasan untuk tidak ikut rombongan.


Menjaga jarak dengan Bintang memang sangat dia perlukan saat ini, agar Bee bisa bernafas normal. Aura pria itu sungguh membuat nya sesak dan gerah. Tapi yang paling buat dia harus sebisa mungkin jauh dari pandangan Bintang, agar Bee tidak perlu menyaksikan kemesraan Kinan dan Bintang yang siapa pun bisa melihat keduanya sedang jatuh cinta.


"Tante lo udah pamit pulang duluan. Malah nitip Lo sama kita biar pulang bareng. Udah ayok ikut aja" Zen mengapit lengan Bee agar gadis itu tidak menolak lagi.


Sadar orang yang di tunggu sudah ada di belakang mereka, Kinan langsung mengajak ketiga model, Seba dan semua kru yang terlibat untuk pergi ke resto Korea.


"Maaf mbak, aku kayak nya ga bisa ikut. Ada urusan lain" Bee bisa merasakan sorot mata setajam elang sedang mengamatinya.


"Yah..ayo dong Bee. Kamu kan bintang nya, masa ga ikut. Ga seru. Kita harus rayakan kesuksesan hari ini, please" paksa Kinan. Bee semakin tidak enak untuk menolak. Belum lagi Seba ikut membujuknya.


Baru akan memberi jawaban untuk menolak lagi, ponsel nya berdering.


Thanks God, akhirnya penyelamat gue datang..


"Maaf banget mbak. Tapi teman saya udah nyampe, buat jemput..lain kali ya mbak" putus Bee merasa telah bebas.


"Kya.." panggil Bee seraya melambaikan tangan. Semua orang ikut melihat ke arah Kia tak terkecuali Bintang. Tatapan menyelidik pun di berikan pria itu pada Kai.


Kini pandangan nya malah penuh amarah, sebagimana pun dia coba menyembunyikan nya, Bee bisa melihat dengan jelas.


"Mbak, semua nya, kenalkan ini Kia.." Bee memperkenalkan Kia yang langsung di sambut ramah oleh semua orang, kecuali si sombong Bintang. Uluran tangan Kia menggantung di udara, tidak berkenan untuk menerimanya.


Sekali lihat saja, Kia tahu siapa pria itu. Bagaimana orang setenar dia bisa tidak Kia kenali. Kia pun bisa melihat wajah kesal, marah dan ada cemburu pada pria itu karena kehadirannya. Ini membuat Kia tersenyum geli.


"Kia, kita mau makan malam bersama, tapi katanya Bella ada janji sama kamu, gimana kalau kita gabung aja? kamu ikut kita, biar Bella mau" ucap Kinan yang masih setia merangkul lengan Bintang dengan posesif.


"Maaf mbak, tapi kayak nya Kia ga bisa. Dia sibuk, masih ada kerjaan. Iya kan Kya?" Sambar Bee mengedipkan mata memberi kode agar Kia ikut serta dalam sandiwara nya. Kia mengulum bibirnya menyembunyikan senyum. Dia pengacara, tentu bisa mencium kejanggalan yang ada.


Tapi Kia ingin bermain. Memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerjai si pria arogan yang ada di depannya ini.


"Oh..itu mah gampang Bee. Iya ga papa. Gue ikut.." ucap nya ke arah Kinan sementara wajah bibir Bee menggerutu kesal.


Satu ruang VIP sudah di pesan sebelumnya oleh Kinan. Mereka duduk pada empat meja bergaya lesehan. Bee bersama Kia duduk berhadapan dengan Kinan dan Bintang, dan dua sisi lainnya ada Hera dan Zen.


Sembari menunggu koki menghidangkan makanan khas Korea rekomendasi mereka, yang terdengar hanya cuitan Kinan dan Kia yang sesekali di warnai tawa mereka. Hera dan Zen hanya terdengar sesekali mengimbangi.


Tidak ada yang menyadari kegugupan Bee kecuali Bintang. Sedari tadi pria itu tak hentinya menatapnya. Seolah menuntut penjelasan mengenai identitas Kia.


"Makan yang banyak" lamunan Bee terhenyak kala Kia meletakkan daging.


"Makasih.." sahut nya lemah. Ekor matanya sempat melirik Bintang yang tak melepas tatapan dari dirinya.


"Hei..dari tadi bengong terus. Kamu kenapa?" Kikan membelai wajah tampan Bintang dan menyusuri rahang tegas pria itu.


"Ga..aku ga papa" tanpa malu, Kinan sudah menutup kalimat Bintang dengan mencium pipi pria itu.


"Aku ga sabar nunggu kamu datang buat ketemu orang tua aku" ucap nya yang bisa di dengar semua orang yang ada di meja itu.


"Wah..mbak Kinan dan bos Bintang jadian nih? apa udah mau nikah?" tebak Hera bersemangat. Berada diantara orang-orang hebat membuat nya merasa gembira. Sejak tadi pun dia sudah puas mengambil gambar dan juga video Boomerang, dan mengunggah nya di insta-story nya.


"Tungguin aja undangan dari kami" balas Kinan yang berhasil memancing Bee mendongak pada Bintang. Mata mereka bertemu di satu garis lurus dengan berbagai pertanyaan dalam hati masing-masing.


"Selamat kalau gitu mbak" ujar Zen dan di ikuti kru yang lain yang meja mereka tak jauh dari sana.


"Selamat mbak.." Bee tidak mau ketinggalan. Hanya sisa harga diri yang kini dia punya, dan itu yang membuat nya sedikit berani untuk mengucap selamat.


Dia ingin tahu, bagaimana reaksi Bintang atas perkataannya tadi. Tepat, pria itu tidak perduli. Datar, dan membuang muka dari nya.


"Kalau kalian?" perkataan Kinan mengarah pada Kia dan Bee.


"Kami? oh..tidak seperti.."


"Doa kan aja. Gue juga udah ga sabar buat nikah sama bidadari ini" Kia memancing di air keruh. Rasa kesalnya pada Bintang yang sudah begitu bodoh menyia-nyiakan wanita itu, membuat Kia ingin meremas hati pria itu saat ini.


"Seberapa yakin lo mau nikahin dia? apa yang lo tahu tentang dia? hidup nya? dan semua yang udah dia alami?" suara bariton Bintang menggelegar.


Itu bukan sekedar pertanyaan, tapi nada yang terkandung di dalamnya mengandung intimidasi. Semua yang mendengar kini menatap Bintang, lalu beralih pada Kia. Ingin tahu seberapa besar pria itu punya keberanian untuk menjawab pertanyaan dewa es!


"Gue.." Kia menatap Bee, lekat pada kilatan hitam dimatanya. "Gue tahu semua tentang gadis ini. Gue ingin menawarkan punggung, tubuh dan hidup gue untuk melindungi dan menyayangi nya seumur hidup, dan gue yakin buat nikahin dia"