
Pagi-pagi Bintang sudah mengantar Bee ke rumah bu Salma, ibu nya. Wanita paruh baya itu begitu gembira menyambut kedatangan anak mantu nya.
"Titip Bee di sini ya Bu. Minta tolong di perhatikan" ucap Bintang terus menggenggam tangan Bee.
"Sepenuh hati akan ibu jaga. Kau juga, udah tahu ini bulan nya, kenapa pakai pergi keluar negeri segala sih, tang?"
"Mau juga aku ga pergi bu. Tapi pihak sana ingin aku turun langsung. Team akan sebulan di sana, tapi aku usahakan hanya lima hari" tutur Bintang menjelaskan.
Pria itu tahu kegetiran hati istri nya. Sepanjang jalan dia hanya diam dalam dekapan Bintang.
"Aku antar Bee ke kamar ku dulu bu" Bintang sudah berdiri memapah Bee. Kamar itu sudah di bersihkan atas permintaan Bintang. Kamar kedua yang terbesar di rumah itu setelah kamar orang tua nya. Di kamar itu lah Binatang menghabiskan masa remajanya sebelum di beri hadiah apartemen oleh ayahnya dulu.
"Gimana sayang, kamu suka kamarnya? atau mau kamar yang lain?" tanya Bintang khawatir Bee tidak menyukai desain kamar yang mendominasi warna silver.
"Suka kok. Ini kamar kakak?" tanya Bee mengelilingi kamar memandangi sekitar. Kamar itu luas, dan kamar mandinya juga nyaman. Semua perabotan yang ada khas anak cowok.
Bintang masih memeluk Bee, menuruni tangga kembali menuju ruang tamu tempat ibu nya menunggu mereka. Bintang sudah harus berangkat ke bandara. "Ingat Mir, dua puluh empat jam kamu harus ada di sisi nyonya mu. Kamu tidur di kamar di samping nyonya. Jika perlu kamu tidur di kamar itu juga" perintah Bintang yang membawa Mira bersama mereka tadi.
Di rumah Bu Salma tentu saja banyak pelayan, tapi Bintang merasa Bee pasti lebih nyaman jika ada Mira yang biasa mengurusnya ikut bersama mereka selama tinggal di rumah ibu nya.
"Baik tuan" angguk Mira.
"Bu, aku pamit, titip istri ku ya Bu. Ada apa-apa langsung kabari aku"
"Iya. Kamu hati-hati di sana" ucap ibu menghapus pundak Bintang saat pria itu mencium punggung tangan sang ibu.
"Aku pergi ya Bee" ucap Bintang membelai wajah gadis itu.
"Aku ikut ya kak..ngantar ke bandara"
"Sayang, kita udah bahas ini sepuluh kali. Aku ga akan bisa pergi kalau kamu antar nanti. Pasti hati aku ga tega ninggalin kamu. Biar Piter aja yang ngantar. Kamu di rumah. Aku janji gitu sampai di sana, kita langsung Video call an ya" ucap Bintang mencium puncak kepala Bee.
"Papa pergi dulu ya nak. Baik-baik jaga mama ya nak. Jangan nakal" ucap Bintang berjongkok di depan perut Bee, mengajak anak nya bicara.
Hingga mobil Piter hilang dari pandangan Bee tetap menatap ke arah jalan. Air matanya jatuh. Sejak tadi dia tahan, akhirnya tak terbendung.
16 jam lebih perjalanan yang di tempuh Bintang, selama itu dia hanya membayangkan wajah cantik Bee di pelupuk matanya. Baru dua jam dalam pesawat, dia sudah rindu pada gadis nya.
***
Matahari bersinar cerah hari ini, tapi tidak dengan hati Bee. Dua hari berlalu, dan selama itu, mereka hanya satu kali melakukan panggilan dengan video.
"Hufffh.." ******* berat Bee memaksa nya untuk bangkit tepat saat Mira masuk membawa sarapan. "Udah bangun nya"
"Mau ke kamar mandi Mir, tapi kok badan ini makin berat ya"
"Aku makan di bawah aja Mir. Ibu dimana?"
"Nyonya besar ada di bawah. Biasa sibuk dengan rajutannya"
Tertatih-tatih Bee melangkah menuju lantai satu. Alasan Bee tetap tinggal di lantai dua, agar menjadi latihan nya naik turun tangga.
"Pagi Bu, maaf aku telat lagi bangun nya" ucap Bee manja pada Bu Salma yang duduk di ruang keluarga di kelilingi benang wol yang akan dia rajut.
"Ga papa sayang. Ibu ngerti kok. Itu lah istimewa nya wanita yang sedang hamil, ga boleh di marahi, harus di manja" ucap nya tersenyum.
Mira membantu Bee untuk duduk di samping ibu. Dua orang pelayan datang dengan mendorong makanan yang akan di nikmati Bee. "Aku makan di sini ya bu, biar bisa lihat ibu"
"Iya sayang. Asal kamu makan banyak, ibu temani"
Makanan yang disiapkan untuk Bee pun khusus ibu yang masak agar mantu nya makan banyak. Sekejap makanan itu ludes dan Bee tersenyum puas.
"Enak?" tanya ibu. Bee mengangguk sembari tersenyum.
"Besok ibu masak lagi buat kamu sama cucu ibu" ucap nya membelai perut buncit Bee.
Siaran yang di tampilkan pada layar raksasa di depan nya adalah acara infotainment. Seperti sudah di atur, berita yang sedang di ulas saat itu tentang acara perjalanan Bintang dan para modelnya. Bee mengenal beberapa model itu. Ada model senior yang dia tahu punya cerita dengan Bintang, Stella Orion.
Rasa sakit menyerang Bee. Ada cemburu yang hinggap dan rasa takut. Dia sadar mungkin kontrak nya sebentar lagi akan selesai dengan Bintang. Dan pria itu bebas bersama gadis mana pun. Tapi kenapa Bee tidak rela.
Tanpa sadar tangannya mengelus perut nya. Ada anak nya dan Bintang yang selama nya akan menjadi penghubung antara dirinya dan pria itu.
Apakah nanti anak nya akan di besarkan oleh istri Bintang yang baru? apakah dirinya masih bisa bertemu dengan anak mereka? tiba-tiba air mata Bee menetes.
"Kamu kenapa sayang? yang mana yang sakit Bee?" ibu meletakkan rajutannya demi melihat keadaan Bee.
"Maaf Bu. Aku ga papa. Cuma pinggang ku aja yang terasa panas. Aku izin rebahan ke kamar dulu ya Bu" ucap Bee berdiri.
Di kamar nya tak hentinya Bee menangis. Perasaan hancur. Dengan rasa ingin tahu, Bee meminta Mira untuk menghidupkan tv dan mencari siaran infotainment tadi, tapi sudah berakhir.
"Mir, minta tolong cari ponsel ku" pinta nya.
Dari ponsel itu, Bee mendapat info lagi, mengenai kegiatan mereka. Tak hanya itu, banyak photo Bintang bersama Stella. Ada yang photo ramai-ramai ada yang hanya berdua. Dan saat photo berdua, pose mereka seakan ingin menunjukkan adanya kedekatan di antara mereka.
Video yang beredar saat sesi wawancara dengan media, Stella beberapa kali menunjukkan dengan body language nya kalau Bintang miliknya. Bahkan tak segan Stella membelai wajah Bintang atau meletakkan kepalanya di pundak Bintang dengan manja.
Saat wartawan bertanya mengenai kedekatan mereka, Stella hanya tersenyum dan memberi jawaban yang semakin membuat bara di hati Bee.
"Masa masih di pertanyakan lagi sih, kalian juga udah tahu dari lama kan? udah banyak juga beritanya. Kita tunggu aja, Don Juan kita akan bawa cincin dengan berlian yang besar ga" jawabnya sambil tertawa menggoda.