
Penuh emosi Bintang pulang ke rumah detik itu juga. Dia ingin mendengar penjelasan Bee. Hati nya hancur. Meminum pil itu, berarti dia tidak ingin mengandung anak Bintang lagi.
"Mana nyonya mu?" tanya Bintang setelah turun dari mobil, melihat Mira yang sedang menjaga Saga.
"Ada di atas, tuan" Mira saja yang melihat wajah Bintang sangat ketakutan. Belum pernah dia melihat tuan nya semarah itu.
Tergesa-gesa, Bintang menaiki tangga, membuka pintu kamar mencari sosok Bee yang ternyata sedang menelpon seseorang. Dalam diam Bintang mendekat ke pintu balkon. Amarah nya yang tadi sedang memuncak tiba-tiba semakin naik ke level atas. Ibarat api menyala, di siram kembali dengan bensin hingga semakin marak.
Nama Kia yang keluar dari mulut Bee sudah menjelaskan semuanya. Dengan melipat tangan di dada Bintang menunggu hingga Bee selesai menelpon.
"Astaga kakak...ngagetin tahu ga!" ucap Bee hampir terjungkal ke belakang, kaget saat masuk kembali ke kamar, Bintang sudah berdiri di dekat pintu balkon.
"Kau kaget? hufff..tidak ada yang lebih kaget dari aku saat ini" ucap nya sinis. Dahi Bee mengkerut, bingung akan perubahan sikap suaminya yang tampak penuh emosi. Padahal tadi pagi dia memberangkatkan Bintang dengan senyum dan di bumbui ciuman mesra. Tapi sekarang?
"Kamu kenapa kak?"
"Telponan dengan siapa barusan?" suara Bintang masih sama, nyelekit dan dingin.
"Ky..Kya kak" sahut nya ragu-ragu. Tebakan Bee pria itu sempat mendengar dia berbicara dengan Kia hingga membuat Bintang marah.
Sementara di pikiran Bintang, alasan Bee meminum pil itu sudah jelas. Dia masih berhubungan dengan pengacara itu!
"Jadi begini kau di belakang ku? kau masih berhubungan dengan pria br*ngsek itu?!"
"Maksud kakak apa sih? kami cuma teman" terang Bee tidak terima fitnahan Bintang yang tidak beralasan.
"Tapi kau tahu dia suka pada mu kan? atau kau pura-pura lupa?"
"Pikiran mu kacau kak. Tenang kan dirimu"
"Aku kacau? benar, kau yang buat aku kacau! aku bahkan hampir gila! Jelaskan padaku, apa ini?" Bintang melempar ke arah Bee pil yang diambil dari saku nya.
Wajah Bee memucat. Apa yang dia takutkan selama ini kejadian. Apa yang harus dia jawab.
"Jawan aku Bee! Aku tampak bodoh di hadapanmu ya. Kau anggap aku tidak punya arti. Aku tahu aku mengemis cinta pada mu, tapi tidak ku sangka kau masih tidak menganggap ku!"
"Bukan begitu kak. Aku..aku.."
"Kau hanya tidak mau punya anak dengan ku. Ucapan tentang cintamu hanya kebohongan! Kau memang aktris terbaik, bisa membohongi ku selama ini!"
Bee meremas dadanya. Ucapan Bintang sangat menyakitkan. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Bintang tentang alasan dirinya meminum pil itu bukan karena tidak ingin punya anak dari nya.
"Kak.." Bee menyentuh lengan Bintang agar pria itu sedikit tenang. Tapi dengan kasar pria itu menepis nya. "Aku muak Bee, selalu jadi nomor kesekian dalam hidupmu. Lakukan yang kau mau. Aku tidak akan lagi memperdulikan apa pun yang ingin kau lakukan!"
"Tunggu kak, dengarkan penjelasan ku dulu. Aku ga da maksud untuk mengecewakan mu, apalagi sampai tidak menghargai mu"
"Lantas apa? setiap kita berhubungan, aku selalu mengelus perutmu, berdoa agar kau segera hamil. Ternyata saat itu kau pasti menertawakan ku kan?" salaknya. Bee terus menangis, menggeleng kepala tidak setuju dengan penafsiran Bintang.
"Aku minta maaf kak. Aku mohon jangan begini, ayo kita bicara.."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Lakukan yang kau suka. Aku pergi ingin menenangkan pikiran ku, lepaskan Bee" ucap Bintang menarik jas nya agar tangan Bee tersentak.
Bee dengan isakan nya yang memilukan menatap punggung Bintang yang menjauh pergi.
Perasaan bersalah bersarang di hati Bee. Dia harusnya mendiskusikan dengan Bintang saat memutuskan meminum pil itu. Tapi nasi sudah jadi bubur. Hingga pukul sebelas malam Bintang belum juga pulang. Rasa takut akan keselamatan Bintang membuat Bee tidak henti-hentinya menangis.
Bee tersentak dari tidurnya, meninggalkan mimpi yang membuatnya berkeringat. Hatinya berdebar cepat, menyadari tempat di samping nya masih kosong. Bintang belum pulang dan ini sudah pukul dua pagi. Hati nya semakin tidak tenang.
Perlahan dia menurunkan kakinya ke lantai yang terasa dingin. Baru akan keluar kamar, daun pintu sudah terbuka. Bau alkohol yang keras menyeruak masuk ke dalam kamar. Bee bahkan sampai menutup hidung dengan semakin dekatnya jarak nya terhadap Bintang.
"Kak.."
"Hai istriku..belum tidur? oh..baru selesai teleponan lagi? dengan pria b*ngsat itu lagi, sayang?" ucap Bintang meracu saat melihat ponsel di tangan Bee. Berjalan sempoyongan hingga hampir terjatuh saat menggapai tepi tempat tidur.
Bee meremas ponsel dalam genggamannya. Sakit hati atas ucapan Bintang. Niat nya tadi ingin menghubungi suaminya tapi justru kini suaminya berpikiran buruk padanya.
"Sudah kak, jangan bicara lagi" Bee menarik tubuh Bintang agar telentang di tempat tidur. Lalu membuka jas dan juga sepatunya. Kemeja pria itu berbau minuman keras. Bee sudah berhasil membuka kemejanya dan celana kerja Bintang.
"Angkat kepala mu kak. Pakai kaos mu" ucap Bee membantu Bintang mengenakan kaosnya.
"Sayang..kenapa kau tidak mau rahim mu di isi anak ku?" racu nya mengelus perut Bee dan menciumi nya.
"Sudah kak. Kau sudah mabuk" Bee membenarkan letak kaos pada tubuh Bintang yang sudah tidak sadar kan diri, lalu Bee membenarkan posisi Bintang dan menyelimutinya.
Sebelum memasukkan pakaian Bintang dalam keranjang kain kotor, Bee mengeluarkan semua isi dari saku nya. Saat ingin meletakkan ponsel di nakas, ponsel Bintang bergetar, sebuah pesan masuk. Awalnya Bee tidak mau tahu, tidak berniat untuk membuka pesan itu, tapi saat muncul nama si pengirim, hatinya terusik untuk mengetahui isinya.
Ragu-ragu Bee membuka layar ponsel Bintang dengan password tanggal pernikahan mereka yang pertama. Tebakannya benar, itu dari Ranika.
'Terimakasih untuk malam ini. Kamu bisa mengandalkan ku dalam situasi apa pun. Aku akan selalu ada untuk mu, tang.'
Hati Bee terkoyak. Saat perasaannya hancur atas tuduhan Bintang, dan seharusnya yang mereka lakukan adalah duduk bersama dan berbicara, Bintang justru pergi menemui Ranika!
Bee menatap nanar wajah Bintang yang tertidur pulas. "Kenapa kau berbuat seperti ini kak?" air mata Bee kembali jatuh. Hari ini dia sudah terlalu banyak menangis hingga membuat kepala nya pusing dan sesak di dada.