
Melihat Elang yang makan dengan lahap, Bee merasa senang sekaligus iba. Keadaan Elang sangat memprihatinkan saat ini. Sendiri dalam keadaan sakit.
"Makasih Bee, bubur nya enak. Udah mulai keringat, bentar lagi juga demam ku turun" ucap nya meletakkan piring kosong di atas meja.
"Syukurlah. Ini.." Bee menyerahkan beberapa butir obat pada Elang yang segera di terima dan di masukkan ke mulut.
"Sekarang kamu istirahat ya. Masih ada bubur dalam sauce pot, tinggal kamu panaskan sebelum di makan" ucap Bee mengambil barang-barang nya. Hari sudah mulai senja, sibuk membuat bubur di dapur membuat Bee lupa akan waktu.
Dirogohnya isi tas, mengambil benda pipih pintar itu lalu mengaktifkan cahaya layar. Ada 16 kali panggilan dari Bintang.
Bee ingin menelpon balik, tapi niat nya di urungkan. Bintang pasti bertanya dimana dirinya saat ini, dan tidak mungkin dia bilang di rumah Elang.
Hati Bee tidak tenang. Sungguh dia tidak ingin membohongi suaminya, tapi kalau pun mau jujur, dia yakin apa pun alasannya Bintang tidak akan terima Bee menjenguk dan merawat Elang.
Maafin aku kak, kalau aku harus bohong. Aku ga tega lihat keadaan Elang..
"Aku pamit ya, Lang"
***
Sudah hampir pukul enam, Bee sampai di rumah. Seperti dugaannya, Bintang sudah pulang dan tengah bermain dengan Saga.
"Wah, lagi asik main bom bom car nih?" celetuk nya mengamati kedua pria kesayangan dari ambang pintu samping kolam renang.
Mobil remote control itu membawa Saga berkeliling kolam dengan Bintang yang mengikuti dari belakang.
"Udah pulang Bee? kok lama?" nada tanya itu terdengar tidak biasa, dan Bee sadar si pemilik lagi marah.
"Iya kak, maaf ya" ucap nya memeluk tubuh atletis itu dengan mesra. Bee memang rindu pada pria nya, hingga mencium dada pria itu terasa nyaman untuk nya.
"Dari mana?" Bintang menarik dagu Bee hingga wajah nya mendongak menatap mata Bintang.
Bagaimana ini, hati Bee sangat berat untuk berbohong, tapi tidak mungkin juga jujur. Jawaban Bee jatuh pada pilihan pertama. Tapi sepertinya kata orang bijak, jika sekali berbohong, maka harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama.
"Dari..dari ketemuan sama Kinan" jawaban spontan yang tidak di persiapkan sebelumnya. Yang muncul di mata Bee saat itu hanya wajah Kinan.
"Ngapain?"
"Ya ngobrol aja kak. Kita udah lama ga ketemuan kan"
Bintang diam. Mencari kebenaran di bola mata Bee. Sempat timbul pikiran untuk meragukan kejujuran istrinya, tapi buru-buru pikiran itu di tepis nya.
Dia percaya seratus persen pada istrinya. Akhirnya dia memutuskan untuk mencium sekilas bibir sensual itu. Rengekan Saga akhirnya memutus aksi mereka dan segera menggandeng tangan Saga untuk di bawa masuk.
***
Entah itu kebetulan, pada rapat dewan direksi kerja sama Danen's corp Dan PT Jaya mas, Bintang bertemu dengan Kinan di lobby hotel tempatnya meeting.
"Hei, kamu di sini? ada kerjaan?" tegur Kinan yang baru turun dari lantai dua.
"Iya, ada meeting dengan beberapa klien. Kamu sudah selesai?"
"Udah. Ini mau pulang. Bee dan Saga sehat? kangen sama mereka?" wajah sumringah Kinan yang bertanya justru berbanding terbalik dengan wajah Bintang yang tampak kebingungan.
"Sehat..mereka sehat. Kemarin kami mau ke rumah kalian, tapi takut ga di rumah" ucap Bintang penuh maksud.
"Kami di rumah kok kemarin. Piter ga enak badan, terpaksa deh aku seharian di rumah buat ngurus dia, sampai harus ga masuk kerja lagi"
Deg!
Jantung Bintang berdegub kencang. Sudut hatinya terasa sakit mengetahui Bee sudah berbohong pada nya kemarin. Kalau dia tidak bertemu dengan Kinan, lantas kemana Bee hingga pulang sampai sore?
Bermacam-macam kemungkinan berkecamuk dalam pikiran Bintang. Pantaskah kini dia mencurigai istrinya?
Apa yang coba di sembunyikan Bee dari nya? momok menakutkan muncul di pikirannya mengenai kemungkinan Bee berhianat, tapi segera di tepis.
Tidak, Bee pasti punya alasan atas kebohongannya, tapi bukan penghianatan!
"Aku pergi dulu" ucap Bintang memaksakan senyum nya.
Apa pun yang di bicarakan pada ruang rapat itu, tak satu pun nyangkut di pikirannya. Bahkan telinga nya seolah tertutup untuk mendengar setiap kalimat yang saling bersahutan di sana.
Pikiran nya kacau. Tertuju pada sosok wanita yang mulai meracuni pikirannya dengan kebohongannya.
"Ko, gue pulang dulu. Lo urus semua nya" ucap Bintang masuk mobil. Di perjalanan, Bintang menghubungi Bee, tapi kembali tidak diangkat. Berulang kali di hubungi hingga ponsel nya tidak bisa di hubungi lagi. Semakin kalut lah pikiran Bintang.
Perintah untuk melajukan mobil dengan cepat di terima pak Komar dengan rasa takut. Dia kenal bos nya. Jika suasana hati tuan muda tidak lagi baik, maka perintah nya terdengar bak suara petir yang siap menyambar pohon kenari.
Mobil baru memasuki halaman, namun Bintang sudah tidak sabar untuk segera turun.
"Nyonya mu sudah pulang?" hardik nya pada Mira yang ada di taman bersama Saga.
"Belum tuan" Mira pun segera menunduk, tidak sanggup menatap tatapan tajam tuan muda.
Satu jam mondar mandir di balkon kamar menatap jalanan depan rumah, berharap setiap Ojol yang berhenti di depan rumah adalah istrinya yang pulang, tapi lagi-lagi harapannya mengembang dan pupus bersama hembusan angin sore itu.
Dia hampir gila memikirkan kemungkinan kemana istrinya pergi. Bahkan Bintang sudah akan menghubungi Riko untuk mengerahkan semua anak buah nya untuk menyisir kota Jakarta.
Untung lah, sosok yang sudah lama di tunggu itu pulang. Bintang harus meredakan amarah nya dulu, agar semua tidak menjadi lebih kacau nantinya. Jadi Bintang memutuskan untuk masuk ruang gym nya, mengunci dari dalam lalu berlatih membuang emosi dan hawa panas dari tubuhnya.
Dua jam di dalam sana, berhasil menurunkan emosi nya dan juga menguras tenaga nya. Rasa haus menyeret langkah nya menuju dapur.
"Udah siap nge-gym nya kak?" tanya Bee yang terlihat serius mengocok telur. Hari ini menu Saga chicken katsu dengan balutan kuning telur.
Bintang hanya mengangguk, tanpa menoleh pada Bee dan mengambil botol air mineral dari dalam kulkas. Membasahi tenggorokan nya yang terasa kering.
"Makan malam sebentar lagi ya kak" ucap nya mendekat, dan memeluk tubuh Bintang dari belakang.
"Aku berkeringat Bee, basah dan bau" Bintang berusaha melepas pelukan tangan Bee di perutnya. Setelah itu berbalik, menatap Bee setelah memberi jarak di antara mereka.
Bee merasakan tatapan Bintang yang tajam padanya. Ada raut kecewa yang tertangkap oleh Bee di sana.
Dan saat pria besar itu sudah melangkah pergi, Bee meremas balutan gaun di dadanya, menyesal karena sudah membohongi suaminya lagi hari ini.