
Air mata itu seakan tidak pernah ada habisnya. Berulang kali Bee ingin berhenti, tapi tetesan bening itu datang lagi. Bee terperangkap dengan perasaannya sendiri. Tidak tahu harus berpikir seperti apa saat ini. Hati juga tidak jelas, harus menangis atau mengutuk.
Bee memutuskan untuk menjadi orang yang tidak tahu apa pun. Pura-pura tidak mendengar masa lalu suaminya yang di dapatkan dari ulah nya mencuri dengar tadi.
"Sayang, dari mana aja sih? semua pada nyariin kamu tuh" ucap Bintang yang bertemu Bee di ruang tengah. Sejak turun dari kamar tadi, Bintang tidak melihat Bee, di tanya pada yang lain juga tidak ada yang tahu. Semua sudut ruangan di cari juga tidak ada, lalu Bintang berinisiatif mencari ke kolam renang, tapi baru sampai di ruang tengah, perbatasan ke pintu samping kolam, mereka bertemu.
"Oh..kepala ku tiba-tiba sakit. Jadi aku memutuskan untuk duduk di tepi kolam renang, jadi saat aku menahan sakit hingga menangis tidak akan ada yang melihat ku" ucap nya dengan suara lemah. Bee bahkan tidak bersedia menatap mata Bintang.
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Bintang merangkul Bee.
"Ga usah kak. Aku hanya butuh istirahat. Mungkin karena kelelahan aja"
Hingga tiba waktu pulang, Bee selalu memaksa senyum palsunya. Bagaimana juga dia tidak ingin hari bahagia mertuanya rusak oleh wajah murung nya.
Bintang masih ingin menanyakan hal lain pada Bee, tapi niatnya terhenti melihat Bee sudah memejamkan mata. Yang dapat dia lakukan hanya memeluk wanita itu, merengkuh dalam dekapannya erat.
"Aku tidak akan pernah bisa kehilangan mu sayang. Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku" bisik nya. Bintang tahu Bee mungkin tidak mendengar, tapi dia ingin mengucapkannya.
Apa yang di bahas nya dengan Ranika tadi membuat nya khawatir. Dia takut Bee akan mengetahui semua masa lalu nya bersama Ranika.
Hingga saat ini, Bintang memang tidak mungkin bisa melupakan semua yang sudah Ranika lakukan pada diri nya.
Bintang terpejam. Denting jarum jam yang berputar membawa Bintang ke masa itu. Saat itu, Bintang yang melanjutkan kuliahnya di Prancis atas desakan ayahnya terpaksa berpisah dengan Ranika. Walau setengah hati, tapi Bintang berusaha untuk menyelesaikan pendidikannya. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun, gaya hidup Bintang tidak jauh berbeda. Menyukai dunia malam, gemerlap lampu diskotik dan juga ******* nafas para wanita cantik yang selalu menemani malam nya. Bintang juga sering terlibat pertengkaran dengan sesama mahasiswa di kampus nya yang berbeda jurusan. Mereka menganggap Bintang tidak layak untuk bergaul bersama mereka karena bukan penduduk lokal.
Saat Bintang di semester lima, Ranika mengikuti jejak nya untuk kuliah di Prancis. Bintang memang menyukai Ranika, bahkan sejak mereka SD, dan kedatangan Ranika ke Prancis tentu saja membuat Bintang bahagia.
Ranika selalu bersikap lembut padanya. Bertingkah manja, hingga siapa pun teman satu geng mereka akan mengira kalau keduanya pacaran. Tapi untuk ketiga kalinya saat mereka sudah menjadi mahasiswa Bintang menyatakan perasaannya pada Ranika, tapi gadis itu tidak menganggap serius dan hanya tertawa. Istilah teman tapi mesra mungkin pas di tujukan pada mereka.
Bintang menyerah. Mengunci perasaannya dan berjanji tidak akan lagi mengatakan apa pun pada Ranika. Jika gadis itu hanya menganggapnya teman, maka itu lah yang terbaik.
Bintang menolong Ranika, menarik gadis itu hingga membuat musuh Bintang tidak senang dan perkelahian pun tidak terelakkan. Saat Bintang bertarung habis-habisan, seseorang dari belakang melajukan motor dengan niat menabrak Bintang. Ranika yang melihat niat buruk itu, mendorong tubuh Bintang hingga dirinya lah yang di tabrak, hingga terpelanting.
Hampir sebulan Ranika di rawat. Oleh papa nya, Ranika di bawa ke Jerman karena mengalami pendarahan yang tidak henti-hentinya.
Sejak itu, tidak ada lagi komunikasi diantara mereka. Bintang sudah setengah mati mencari keberadaan Ranika, tapi tidak dapat di temukan. Ke Jerman, Singapura, bahkan ke Medan, sudah di datangi Bintang, tapi tidak membuahkan hasil.
Ayah dan ibu Bintang juga sudah berusaha menghubungi keluarga Ranika, tapi papanya Ranika meminta keluarga Danendra jangan lagi menghubungi mereka.
Mendengar penuturan Ranika tadi, hati Bintang hancur. Dia kira selama ini Ranika pergi darinya karena memang tidak ingin melihatnya lagi. Hah...ada rasa sesak di dada nya mengingat semuanya. Ranika sudah mengalami banyak hal buruk. Sedikit banyak nya itu karena dirinya.
Kenapa takdir seolah mempermainkan nya? di saat dirinya sudah bahagia dengan Bee, berjuang mendapatkan cinta gadis itu, harus ada kisah Ranika yang kembali muncul?
Di satu sisi cinta nya untuk Bee, Bintang tidak ragu akan hal itu. Tapi di sisi lain, ada Ranika yang datang dari masa lalunya. Dan seperti kata Ranika tadi, siapa lagi pria yang akan bisa menerima nya dengan kekurangan dirinya seperti itu?
Oh Tuhan..kepala Bintang seakan mau pecah. Di alihkan tatapannya pada wanita yang sejak tadi berbaring terlelap di sampingnya. Perlahan di cium nya kening Bee, lalu menjejakkan kaki di lantai.
Ruet nya pikirannya saat ini membawa Bintang menuju Balkon kamar. Ditangannya sudah ada satu botol Vodka dan juga sebungkus rokok. Udara malam yang sejuk dan dingin membelai wajahnya. Pikirannya buntu.
"Aku harus apa, tang? selama nya aku tidak akan bisa di cintai pria mana pun karena kekurangan ku. Aku hanya ingin menikah dan menjadi istri, aku hanya ingin menjalani kodrat ku sebagai wanita normal" tangis Ranika masih bisa Bintang rasakan. Hatinya ikut perih.
Rasa bersalah juga kini kian berurat dalam hatinya. Seandainya waktu bisa di putar, dan dia belum bertemu Bee, mungkin Bintang akan dengan senang hati bertanggung jawab. Tapi tidak untuk saat ini. Hati nya hanya milik Bee, dan tidak mungkin dia mengorbankan perasannya terlebih perasaan Bee hanya demi menebus rasa bersalahnya.
Sedikit demi sedikit dia menenggak minuman itu. Tenggorokan nya terasa terbakar setiap tetesan itu mengalir hingga mengisi perutnya. Selinting rokok juga sudah setengah di hisap, mencoba lari dari pikirannya yang kacau.
Satu jam, dua jam.. hingga tiga jam berlalu di temani minuman keras dan rokok. Isi botol itu sudah berpindah masuk dalam perutnya. Bintang tidak mendapat jalan keluar setelah semua yang dia lakukan di balkon, tapi setidaknya pikirannya jadi enteng.
Dengan sempoyongan, Bintang berjalan kembali masuk dalam kamar. Merangkak ke sisi Bee yang tertidur pulas. Bintang mengangkat kepala Bee agar menjadikan tangan nya sebagai bantal gadis itu, memeluk erat tubuh istrinya. "Jangan pernah tinggalkan aku sayang, apa pun nanti yang terjadi" bisik nya sembari mengecup kening Bee.