Sold

Sold
Hanya ingin menolong



Setiap pagi, Bintang akan mengantar Bee ke klinik dengan mobil wanita itu. Sementara Pak Komar akan membawa mobil Bintang dan mengikuti dari belakang hingga tiba di klinik.


"Makasih sayang, udah diantar" ucap nya mencium pipi suaminya.


"Bibir juga dong" goda Bintang memonyongkan bibirnya ke arah Bee yang langsung dengan cepat di sergap.


"Baik-baik kerja nya. Jangan nakal" ucap Bee yang kini sudah suka mewejangi Bintang sebelum turun dari mobil. Pria itu hanya akan tertawa kala mendengar nasehat istrinya.


Tidak ada keraguan sedikitpun pada Bintang. Dia tahu pasti pria itu sangat mencintainya dab tentu saja setia pada pernikahan mereka. Bahkan Bintang lebih suka menghabiskan waktu nya dengan anak dan istri nya ketimbang ngumpul dengan para sahabatnya di Rock cafe and Bar.


Seperti malam ini, Bee memaksa Bintang untuk pergi, saat Agus mengundangnya ketika sahabat suaminya itu ulang tahun dan bermaksud merayakan nya.


"Ga ah, yang. Enakan meluk kamu di rumah"


"Pergi lah kak. Ga bisa gitu. Itu teman-teman mu. Lagian, kamu juga belum tentu pergi sekali dalam sebulan"


"Aku dulu pria brengsek Bee, semua yang namanya dunia malam itu udah pernah aku rasain, jadi aku udah ga mau lagi. Lebih enak main dengan Saga dan endingnya mencumbu istriku yang cantik ini"


"Oh, iya gitu ya. Semua hal dalam dunia malam ya, termasuk cewek-cewek nya?" ucap Bee melipat tangan di dada. Gambaran dada nya yang membulat semakin membayang karena daster nya memang cukup tipis.


"Bu-bukan gitu yang. Jangan salah paham dong" Bintang segera turun dari ranjang menghampiri Bee yang berdiri dengan tubun bersandar pada sofa.


"Ga usah ngeles. Kayak aku ga tahu kamu waktu muda aja! Sekarang aku tanya, berapa wanita yang udah kakak ajak kencan?" tatapan Bee sedingin es di kutub selatan.


"Bee.."


"Jawab aja, aku ga papa kok" ucap Bee masih mengunci tatapan Bintang. Mulut nya bisa berkata ga papa, tapi dari tatapan nya saja Bintang tahu Bee ingin sekali menusuk jantungnya.


"Sayang..ga usah lagi di bahas. Itu kan masa lalu"


"Justru itu masa lalu, jadi jawab aja" suara Bee meninggi.


Nyali Bintang ciut. Singa betinanya sudah mengaum. Tapi dia bisa jawab apa? dia mana ingat lagi berapa gadis yang sudah dia kencani. Nama nya saja lupa, apa lagi bilangannya.


"Jawan kak" salak Bee menghentakkan telapak kaki kanan nya ke lantai. Menunggu dengan tidak sabar.


"Aku mau jawab apa Bee? aku lupa"


Amarah Bee semakin meningkat. Dia percaya Bintang lupa, tapi yang membuat dia semakin marah adalah itu artinya Bintang sudah mengencani banyak gadis. Dia tiba-tiba enggan untuk menatap Bintang lagi. Di hentakkan satu kaki nya ke lantai, lalu masih dengan amarah melepas sendalnya dan merangkak ke ranjang. Bintang ingin mendekat, tapi suara Bee menghentikan langkahnya. "Kakak tidur di luar!"


"Kok gitu Bee? jangan lah sayang?"


"Pokoknya di luar"


"Dosa loh nolak suami" ucap Bintang masih berharap.


"Kalau gitu, nanti kalau aku udah tidur baru kakak masuk, sekarang keluar!"


Bintang tidak punya pilihan lain. Dia mengikuti kata istri nya. Ini semua karena Agus yang mengundang nya.


"Udah bangkotan juga pake acara ngerayain ultah" umpatnya dalam hati melangkah dengan kesal keruang kerja nya.


Pagi nya saat Bee membuka mata, tubuhnya sudah di dekap erat oleh Bintang. Ingatan akan percakapan mereka tadi malam kembali diingatnya. Dia ingin menggulingkan tubuh besar itu, tapi tidak berdaya. Bee bisa menyadari kalau Bintang pun sudah bangun, karena bisa menahan kungkungan tubuh nya pada Bee tetap semakin kuat.


"Lepasin kak, aku mau mandi, mau ke klinik"


"Ogah"


"Kalau gitu ga aku lepaskan"


Pukul delapan mobil Bee sudah berhenti di depan klinik. Bee seperti biasa menyalin tangan Bintang sebelum keluar dari mobil. Usaha Bintang tidak sia-sia. Merayu Bee hingga gadis itu kembali tersenyum. Alhasil sebelum berangkat, keduanya masih sempat memadu kasih, walau kilat tapi tetap begitu nikmat.


"Nanti aku jemput ya sayang"


"Ga usah deh kak, aku pulang sendiri aja. Aku sekalian mau ke supermarket, beli keperluan Saga"


"Pokonya aku jemput. Kamu ga boleh bekerja terlalu keras" Bintang bersikeras dan berhasil memenangkan perdebatan.


Bee memulai kegiatannya. Saat tiba di sana, sudah ada dua pasien yang sedang menunggunya. Setelah waktu nya kosong, Bee berniat untuk ke ruangan Citra. Tapi masih baru keluar dari ruangannya, Bee melihat Elang berjalan kearahnya diantar oleh seorang perawat.


"Lang, kamu di sini?" Bee sedikit heran melihat keberadaan Elang di kliniknya. Dari mana dia tahu Bee bekerja di klinik ini? dan untuk apa Elang datang ke sini? Semua pertanyaan itu berkelebat dalam kepala nya.


"Bee, maaf aku mengganggu"


Setelah Bee mengucapkan terimakasih pada perawat tadi, Bee membawa Elang ke ruangannya.


"Duduk Lang"


"Makasih" Pria itu mengamati ruangan kerja Bee. Tampak nyaman dengan warna cat dinding yang cerah dan ornamen lucu yang di tebak nya untuk membuat pasien anak-anak menjadi betah.


"Kamu tahu aku di sini dari mana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bee. Dia tidak mau berpikir negatif pada Elang, tapi nyatanya Elang ada di sini.


"Bee.."


"Lang, aku tanya kamu kok tahu aku ada di sini?" potong Bee tegas. Tatapan nya yang tajam memaksa Elang untuk membuat pengakuan.


"Maaf Bee. Beberapa hari ini aku mengikuti mu. Jadi aku tahu kamu setiap pagi kemari" Ucapan Elang tentu saja membuat Bee merasa kesal dan amarahnya tersulut. Dia tidak menyangka kalau Elang akan sampai seperti itu.


"Untuk apa kamu mengikuti ku Lang?"


"Maaf, tapi aku ga punya cara lain untuk bisa bicara dengan mu tanpa diketahui suamimu"


Bee menatap tajam pada Elang. Mencari tahu motif pria itu mendatangi nya. Terlebih di belakang Bintang.


"Lang, aku mohon. Jangan pernah datang ke sini lagi. Aku ga mau suami ku salah paham kalau sampai melihat kita berdua"


"Maaf Bee, tapi aku datang hanya untuk meminta bantuan mu. Aku butuh kerjaan Bee"


Sesaat Bee berpikir kalau niat Elang memang hanya untuk minta tolong padanya. Tapi pada siapa Bee harus bertanya lowongan untuk Elang? pada Bintang tentu saja tidak mungkin. Lalu tiba-tiba Bee ingat pada Kinan.


Bergegas dia mengambil ponselnya, menekan nomor wanita itu.


"Halo Bee, ada apa?"


"Hai Nan, lagi dimana?"


"Biasa, lagi kerja ini" Bee ragu-ragu untuk menanyakan perihal lowongan itu. Takut kalau Kinan akan bercerita pada Piter lalu akan sampai pada Bintang. Tapi melihat Elang yang terus mengekori nya juga membuat Bee tidak punya lain selain membantu pria itu.


"Nan, apa di kantormu, kau membutuhkan karyawan? aku ingin minta tolong memasukkan teman ku bekerja di tempat mu"