
"Mmmm...wangi" bisik Bee mencium pipi Bintang yang berbaring dengan punggung bersandar di headboard. Reaksi dingin suaminya membuat Bee mengamati wajah Bintang yang datar tanpa reaksi.
"Ada apa? apa ada masalah kak?" ucap nya duduk bersila di samping pria itu. Bintang hanya mendengus memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan bimbang ingin membahas nya atau mendiami begitu saja.
"Kak..jawab. Jangan diam aja"
"Tadi ada panggilan dari Kinan, tapi hanya sekali, lalu mati. Ga lama ada pesan dari masuk dari Kinan. Dan aku membuka ponselmu" nada bicara yang tidak bersahabat itu membuat Bee semakin penasaran.
"Terus? memang nya apa yang disampaikan Kinan? sampai kakak bete gini?"
"Bukan pesan dari Kinan, tapi pesan sebelumnya dari orang lain" ucap Bintang menyerahkan ponsel Bee. Pada layarnya satu pesan dari Elang tampak di buka. Punggung Bintang merosot, rebah di ranjang, lalu menarik selimut dan bersiap untuk tidur.
Pesan itu cukup beralasan membuat Bintang bersikap dingin pada Bee. Dia kembali salah paham. Dimatikan nya layar ponselnya sesaat sebelum meletakkan di atas nakas.
Sekali singkap, Bee menarik selimut yang menutupi tubuh Bintang. "Bisakah kita bicara? aku merasa sedih kalau kau mendiami ku kak" bisik nya memeluk tubuh Bintang. Walau mata pria itu terpejam, Bee tahu itu hanya caranya untuk menutup luka yang terpancar di bola matanya.
Bintang masih bergeming.Dia juga tidak menginginkan hubungan nya dengan Bee keruh. Tapi dia kembali kecewa pada Bee yang masih berhubungan dengan mantannya.
"Kalau kau masih tidak mau bicara, aku akan sedih. Begitu pun bayi kita. Kau harus mendengarkan penjelasan ku kak, setelahnya aku terima jika kau akan menghukum ku" lanjutnya. Setetes air mata jatuh, melintasi tulang hidung nya hingga jatuh di dada Bintang.
Perasaan bersalah kini bersarang di hati pria itu. Air mata Bee selalu mampu melunakkan sikap keras nya.
"Jangan nangis" Bintang berusaha duduk. Kini keduanya berhadapan. Dengan lembut di usap nya jejak air mata di pipi Bee. Lalu perlahan dikecupnya bekas air mata Bee.
"Dua hari lalu, Elang datang ke klinik. Dia datang minta pertolongan mencarikan pekerjaan" Bee menjeda kalimatnya. Mendongakkan wajahnya melihat Bintang yang juga sedang menatap nya.
"Awalnya dia minta aku untuk bicara padamu, agar kau menerimanya bekerja di perusahaan mu, tapi aku yakin kau pasti akan menolak, jadi aku minta tolong pada Kinan" melihat reaksi Bintang yang masih diam, Bee semakin sedih. Dia takut pria itu masih berpikiran buruk terhadap nya dan Elang.
"Aku benar-benar ga ada hubungan dengan nya kak. Aku hanya ingin menolong. Jangan pernah ragukan cinta dan kesetiaan ku padamu" isak Bee berubah tangisan hingga wanita itu sesunggukan. Sungguh tidak enak jika di curigai suami sendiri.
"Udah sayang. Jangan nangis. Aku tidak pernah meragukan cinta atau kesetiaan mu. Aku..aku cuma kesal, kenapa dari awal kau tidak jujur. Sejak siang tadi aku sudah tahu, karena Riko mampir ke kantor Kinan dan melihat pria itu ada di sana" setiap membahas Elang, Bintang selalu menolak untuk menyebutkan nama pria itu dari mulutnya.
"Aku takut kalau cerita, kakak akan marah sama ku" tangisannya masih lanjut.
"Sudah lupakan. Dia tidak penting. Tapi aku mohon, jangan berurusan lagi dengan nya. Aku bisa hilang kendali kalau sampai tahu, dia selalu berada di dekatmu. Aku bisa menghabisi nya" geram Bintang.
Di dunia ini, apa pun bisa terjadi. Dia tahu, mungkin saat ini di dalam hati Bee sudah tidak ada pria itu, tapi Bintang tidak bisa menutup mata, kalau-kalau pria itu punya niat terselubung.
"Dia cuma mencari pekerjaan kak. Sejujurnya aku kasihan padanya.."
"Tuh kan" potong Bintang memegang dagu Bee dan memaksa menatap nya.
"Dan juga sang mantan" sambung Bintang yang mendapat pelototan dari Bee.
"Nyebelin" ucap Bee memonyongkan bibirnya tanda merajuk. Jangan salahkan kalau Bintang mengambil kesempatan dengan mel*mat bibir itu.
Kasus di tutup. Kedua nya berdamai dalam cinta. Hanya sesimpel itu untuk menghindari pertengkaran, terbuka dan jujur.
***
Sejak pukul dua siang, Kinan sudah pulang dari kantor. Dia sengaja pulang cepat karena sudah tidak sabar ingin menyiapkan kejutan untuk Piter, karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Sebelum pulang ke rumah, Kinan singgah untuk membeli kue ulang tahun yang sudah dua hari lalu dia pesan. Penuh senyum gembira, Kinan melangkah keluar toko, menenteng kotak kue menuju mobil.
Wajah nya tampak tertegun, saat melihat pria yang duduk di seberang sana yang tengah bicara dengan seorang wanita begitu familiar untuk nya. Tidak salah lagi, itu adalah suami nya.
Kinan hanya diam mengamati Piter yang sedang serius mengatakan sesuatu pada wanita yang berpenampilan sexy itu. Tapi sebaliknya wanita itu justru tampak sedang mencari perhatian pada Piter dengan memainkan gerak tubuhnya. Mencondongkan dada nya lebih maju ke arah Piter. Dari ekspresi wajah Piter, Kinan bisa melihat, sedikit pun tidak tertarik akan kegenitan wanita itu.
Kata hatinya ingin sekali pergi ke sana menemui mereka, tapi Kinan bukan Bee yang berani mempertahankan haknya. Kinan memilih pulang dan menyimpan dalam hatinya.
Rencana Kinan tetap dia jalankan. Saat Piter pulang, Kinan datang membawa kejutan kue ulang tahun dengan karakter detektif Conan, karena Kinan tahu suaminya penggemar sejati tokoh komik itu.
Piter hanya tersenyum haru. Ini adalah ulang tahun pertama nya selama usianya ke 28 tahun di berikan kejutan oleh seseorang. Selama ini dia bahkan lupa ulang tahunnya. Hanya ibu yang setia menghubungi dan mengucapkan selamat dengan lantunan doa dan harapan yang sangat panjang.
"Selamat ulang tahun" Kinan menyodorkan kue ke depan Piter. Hanya ada satu lilin sebagai simbolik di atas kue. Piter bersiap untuk meniup, namun Kinan cepat menjauhkan kue dan menggeleng.
"Make a wish dulu" ucap nya tersenyum.
Piter tampak memejamkan mata, tiga menit kemudian membuka kembali dan langsung meniup lilin. Piter mengambil kue itu dari tangan Kinan dan meletakkan di atas meja, lalu meraih tubuh wangi di depannya. Mencium puncak kepala Kinan lama, lalu turun ke kening dan berakhir pada l*matan di bibir.
"Terimakasih, nyonya Danendra" bisik nya dan mencium daun telinga Kinan. Itu saja sudah cukup membuat seluruh tubuh Kinan merinding.
"Mau buka kado nya?" ucap Kinan ikut bahagia.
"Apa pun itu, aku ingin membuka kado terindah dan terbaik ku saat ini" ucap nya menggendong Kinan ala bridal dan membawa masuk ke dalam kamar untuk segera di unboxing.
*Hai kesayangan aku semua..makasih udah mampir.
Mau promo novel Simbah aku nih, kuy mampir. Jamin seru. Jangan lupa like dan komen nya ya..makasih..🙏😘