
Hari itu bukan menjadi hari terakhir dari permasalahan Piter dengan Asri Linggis berakhir. Kinan pikir setelah Asri mengetahui bahwa taktik nya tidak mempan untuk memisahkan Kinan dan Piter, maka dia akan mundur. Nyata nya, buntut dari kejadian itu masih panjang.
Pukul lima sore, seperti biasa Piter sudah bersiap untuk pulang. Raut wajah cantik Kinan yang senantiasa bermain di benak nya membuatnya semakin ingin cepat pulang.
Piter baru saja keluar dari lift di lantai dasar saat di luar pintu kaca kantornya tampak banyak para wartawan yang menunggunya.
"Pak..pak Toni, sini" panggil Piter.
"Itu kenapa banyak wartawan?" lanjutnya setelah sang satpam datang menghampirinya.
"Udah sejam lalu di sini pak. Mau ketemu dengan bapak katanya"
Piter sudah menebak ini ada hubungannya dengan Asri. Dia bisa saja menghadapi para pencari berita ini, tapi bagaimana dengan Kinan? dia tidak ingin istrinya menjadi stres karena pemberitaan yang tidak benar, dan parahnya para awak media ini bisa juga mengejar Kinan.
Kalau gue hindari juga besok lusa pasti bakal nyariin gue lagi..
Lama di dunia hukum, tentu sudah membuat Piter mengerti watak para wartawan. Penuh berani Piter menghampiri para wartawan. Dendi, sang asisten pribadi nya setia menemani di belakangnya.
"Bapak Piter, minta pendapatnya mengenai masalah kedekatan anda dengan pedangdut Asri Linggis" tanya salah satu wartawan dari stasiun tv yang berlogo biru.
"Benarkah bapak ada hubungan khusus dengan Asri Linggis?" lanjut yang lain.
"Jadi bapak adalah orang ketiga dalam rumah tangga Asri Linggis dengan bapak Kodir?"
Dan masih banyak rentetan pertanyaan lain yang di tujukan padanya. Piter ingin sekali memukul satu persatu wartawan itu, tapi dia tahu hukum nya tentang kebebasan pers yang kadang suka ke bablasan.
"Ini untuk pertama dan terakhir saya berikan jawaban atas pertanyaan anda sekalian. Saya dan Asri Linggis sama sekali tidak punya hubungan apa pun. Dulu saya memang di minta jadi pengacaranya, tapi sekarang saya sudah mundur dari kasus beliau"
Seperti toples yang penuh gula, begitu di buka, maka semut akan banyak berdatangan mengerubungi. Begitu pun saat ini keadaan Piter. Maksud hati hanya ingin memberikan satu jawaban saja, kini para wartawan seperti kesetanan menyerangnya dengan pertanyaan yang semakin gila.
"Mengenai video yang saat ini beredar, bagaimana tanggapan bapak?"
"Itu jebakan. Saya sudah menikah dan sangat mencintai istri saya"
"Apakah bapak akan menuntut balik Asri Linggis?"
"Kita lihat saja nanti. Jika dia masih tidak memberikan klarifikasi mengenai video itu, mengatakan yang sebenarnya, maka pasti akan saya bawa ke jalur hukum" ucap Piter tegas lalu pergi menerobos kerumunan wartawan.
Berita itu pun menjadi santer. Setiap hari menjadi berita utama, berganti stasiun televisi menayangkannya. Piter pun tidak luput dari Omelan ibu.
Sore itu ibu menghubungi nya meminta untuk datang bersama Kinan. Walau Piter sudah sempat menolak dengan alasan banyak pekerjaan, tapi titah ibu suri siapa yang berani melawan.
"Saga, jangan banyak-banyak nanti perut nya sakit" ucap Bee menahan suara.
Ehem..! Suara tegas ibu mulai terdengar. Wanita itu menatap satu persatu anak mantu nya sebelum memulai bicara. Amarah dan rasa kesalnya sangat terpancar di wajah tua nya.
"Kalian pasti tahu, untuk apa ibu meminta kalian datang kemari kan?" pertanyaan ibu memang untuk mereka semua, tapi penekanan nya lebih kepada Piter, terlebih dia juga saat ini menatap pria itu.
"Nan, seram amat ya tatapan ibu" bisik nya pada Kinan sembari melirik ibu.
"Pasti nenek mau malahi om Pitel ya" ucap Saga masih fokus dengan toples coklatnya. Malah kini bocah gembul itu dengan nayaman nya duduk di samping nenek nya.
Kompak semua bola mata menatap ke arah Saga. Kadang Bee tidak tahu dari mana mulut cerewet anak itu berasal. Mungkin Bee lupa kalau dulu, saat bocah dia jauh lebih cerewet lagi.
"Tahu dari mana kesayangan nenek ini?" ucap Ibu tersenyum menguyel-uyel pipi chubby Saga.
"Aga dengal nenek, di mobil mama tanya kita di minta kelumah nenek untuk apa, telus papa jawab paling mau malahi om Pitel" sahut nya cuek dengan tatapan mematikan Piter.
"Benar, jadi kalian ibu minta ke sini, mau meminta penjelasan mengenai berita yang sedang wara wiri di televisi. Mata ibu sampai sakit lihatnya"
"Ya ga usah di lihat Bu" celetuk Piter cari mati.
"Masih sanggup kau bicara seperti itu pada ibu? ga puas kau berulah hingga dulu kalian bercerai? jangan sampai ibu mengambil tali pinggang almarhum ayah mu dan memukul mu seperti dulu beliau menghajar mu ya" ancam ibu serius. Walau sudah dewasa dan kini sudah berkeluarga, kedua anak Bu Salma selalu tunduk pada ibu nya, terlebih kalau sudah marah dan mengeluarkan ancaman tali pinggang, itu artinya amarah nya tidak bisa di tawar lagi, sudah ada di ubun-ubun.
"Maaf Bu. Tapi itu semua bohong. Penyanyi dangdut itu sudah menjebak ku. Video itu direkam oleh salah satu temannya yang bersembunyi, tiba-tiba dia naik kepangkuan ku dan.."
"Cukup, ibu tidak mau mendengar. Bersyukur lah karena Kinan masih mau percaya padamu dan tidak meninggalkan mu untuk kedua kalinya" salak ibu.
"Tahu nih bocah buat masalah aja lo!"
"Diam. Kau juga sama. Kau yang sudah beri contoh buruk untuk dia. Kalian sama-sama buaya darat" umpat ibu. Sementara Kinan dan Bee menunduk, menyembunyikan rasa geli mereka.
Para suami mereka seperti anak SD yang di hukum karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah nya.
"Kok aku kena sih bu? yang lagi berkasus kan si pengacara kondang ini" sanggah Bintang tidak terima.
"Kau pun sama. Apa kau lupa skandal mu dengan Model mu itu? di saat itu kau malah masih mengharapkan mantan istrimu" ungkit ibu. Wajah Bee memerah karena diingatkan masa lalu mereka.
Bintang menggengam tangan istrinya yang masih menyembunyikan wajah nya dengan menunduk. "Itu dulu, kini kami sudah bersama. cinta kamu kuat, tidak ada yang bisa menggoyahkan perasaan kami" di depan ibu dan dua pasang mata lainnya Bintang mencium punggung tangan Bee dan juga puncak kepala gadis itu.