
Banyak media kini meliput berita tentang seorang Bellatrix Elaina setelah kejadian malam launching produk baru Danen's corp.
Setiap hari banyak acara infotainment di tv yang menayangkan kedatangan Bee bersama seorang anak kecil itu. Spekulasi bermunculan, ada yang mengatakan itu adalah anak Bellatrix dengan Bintang Danendra, tapi potongan pernyataan Bee yang mengatakan dirinya hanya sebagai pengasuh, membuat asumsi publik bahwa anak itu adalah bayi tabung, yang ibu nya tidak ingin di ketahui.
Hebat nya para pencari berita, mereka bisa menemukan nomor telepon Bee dan menghubungi gadis itu. Meminta kesediaan nya untuk melakukan wawancara, tapi tentu saja Bee menolak.
Tak sampai di situ, banyak perusahaan besar yang juga menghubungi nya guna menawarkan kerja sama dengan Bee.
Tentu saja hal itu membuat hati Bee gembira. Mendapatkan kembali kebebasannya untuk bekerja, setelah lebih setahun menganggur.
Namun tak semua berjalan baik, karena pemberitaan itu, Elang marah bahkan sampai memaki Bee.
"Mau kamu itu apa hah?"
"Aku salah apa lagi Lang?"
"Niat kamu sebenarnya apa sih?" tampak suara di seberang begitu marah.
"Niat apa?" Bee masih tidak mengerti. Awalnya Bee begitu girang saat Elang menghubungi nya. Tapi tanpa salam pembuka, pria itu langsung memarahinya.
"Apa kamu kira aku ga lihat berita di tv. Kamu ada otak apa ga sih? kamu mau nunjukin kalau kamu simpanan seorang Bintang Danendra?"
"Aku.."
"Kamu mikir ga, kamu itu pacar aku. Kalau sampai orang tahu kamu nikah sama dia, terus nanti saat kita bersama, orang akan bilang aku dapat sisa pria itu, aku ga mau Bee, aku ga bisa terima!" salak nya penuh emosi.
"Maaf Lang. Tapi aku ga ada maksud buat buka status aku"
"Aah..sudah lah. Kamu memang perempuan binal, senang kamu ya jadi istri dia? atau jangan-jangan kamu mau terus sama dia?"
"Elang..kamu kok tega ngatain aku perempuan binal? kamu ga ingat, aku nikah sama dia demi siapa?" Isak Bee tak tahan mendengar perkataan pacar nya.
"Alaah..ga usah drama. Cepat selesaikan masalah perceraian mu dengan pria itu, atau aku akan membuat geger dengan pemberitaan yang pastinya akan kamu sesali"
Dan sambungan telepon itu terputus. Tepat ya di putus sepihak oleh Elang. Tinggal lah Bee menangis meraung di kamarnya, hingga bersujud di ambal bulu, menuangkan perih hatinya.
Sekali lagi, pria yang sangat dia cintai menorehkan bara di hatinya. Seolah dirinya tidak punya hati yang harus di jaga.
Demi membunuh rasa kesal dan jenuhnya, Bee menerima tawaran dari salah satu perusahaan kosmetik ternama yang ingin memakainya untuk brand mereka.
Sebelum nya Tante Di sudah memperingatkan nya, tapi Bee tetap ngeyel menerima tawaran itu, walau pun dia belum meminta persetujuan dari Bintang, selaku suaminya.
Bee tidak perduli. Baik Bintang atau pun Elang tidak ada yang bisa menekannya saat ini. Dia wanita bebas yang ingin melakukan apa pun yang dia mau.
"Besok aku harus ke Malang, ada kerjaan di sana" ucap Bee cuek saat makan malam berlangsung. Sudah seminggu mereka tidak makan malam. Keduanya bersikap cuek saat ini.
"Kerjaan? kerjaan apa?" Bintang menegakkan tubuhnya. Masih mencoba tenang. Semenjak malam itu, banyak sekali tingkah Bee yang membuat nya naik darah. Seolah gadis itu sengaja untuk mencari ribut dengan nya.
"Yah..aku di calling untuk menjadi ambasador sebuah produk kecantikan. Dan besok, aku akan bertemu dengan CEO nya untuk tanda tangan kontrak, lusa baru ke Malang" sahut nya santai. Lalapan yang dulu begitu dia benci nyatanya kini menjadi sahabat setia perutnya.
"Ga boleh" ucap Bintang meletakkan gelas yang baru saja menyentuh bibirnya.
"Loh, kok ga boleh? enak aja ngelarang"
"Aku masih suami kamu Bee. Dan aku tidak izinkan kamu bekerja apa lagi sampai keluar kota segala" Bintang menatap lurus. Titik kesabarannya hampir habis. Putus asa dengan rumah tangga nya yang bak di neraka ini.
"Ga bisa gitu dong. Kamu memang suami aku. Tapi dalam perjanjian, aku boleh kuliah, boleh kerja, dan kamu ga boleh ngelarang aku!" pangkas nya cepat.
"Dalam perjanjian terkutuk itu juga mengatur kamu boleh pergi, asal seizin diriku!"
"Aku akan tetap pergi!" nada suara Bee sudah mulai naik satu oktaf.
"Kalau kamu pergi, lalu bagaimana dengan Saga. Apa sedikit pun tidak ada rasa kasih di hatimu untuk anak itu? dia bahkan belum genap tiga bulan!"
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan banyak ASI untuk nya. Ada suster yang akan menjaganya. Seperti katamu, Saga juga harus terbiasa tanpa ku kan, karena sebentar lagi kita juga akan pisah!" Bee sudah kehilangan kendali. Rasa jenuh akan pernikahan yang mengekang perasaannya itu membuat nya sesak dan harus segera di lepaskan.
"Kau tetap tidak boleh pergi!" keputusan Bintang tak terbantahkan, membuat Bee hampir menjambak pria itu sangkin kesal nya.
Kedua nya saling adu tatap. Tak ada yang mau mengalah. Bee mendorong kursi nya dengan kasar bangkit lalu berlalu ke kamarnya.
Besok nya selepas Bintang berangkat kerja, Bee pergi menemui CEO itu. Tidak susah menemukan alamat kantor mereka karena memang perusahaan besar.
Hanya butuh satu jam untuk menyelesaikan semua nya. Perjanjian kerjasama itu tampak nya sangat menguntungkan bagi Bee yang sudah lama vakum. Tidak terlalu berat, hanya dua hari melakukan perjalanan ke Malang untuk pemotretan sekaligus Meet and great bersama beberapa peserta yang terpilih secara acak yang sudah membeli produk mereka.
Bee juga cukup cerdas, sebentar saja dia sudah bisa memahami komposisi produk dan keunggulannya.
"Hai sayang kamu yang jadi ikon nya?" tanya desainer kondang Ajitoto yang di daulat sebagai tim wardrobe untuk pemotretan Bee nanti.
"Hai kak, lama ga ketemu. Iya nih, Alhamdulillah diajak kerjasama sama mas Tama" ucap nya membalas ciuman di pipi pria gemulai itu.
"Bagus deh. Gue kan udah kenal sama yei..jadi pasti kerjaan kita ga rempong amat" seru nya yang di balas senyum oleh Bee.
Berita kerja sama itu sampai ke telinga Bintang. Sebastian Menawan meneleponnya untuk memberitahukan kalau Bee akan sudah tanda tangan kontrak dan akan berangkat ke Malang.
"Kirimin gue isi kontrak nya" perintah Bintang pada Sebastian.
"Mana gue tahu tang. Gue juga dapat info dari si Aji, katanya di daulat sebagai desainer buat produk kosmetik. Gue tanya tu siapa modelnya, dia bilang Bellaetrix. Nah, gue kira lo pengen tahu sama gadis itu, makanya gue kasih kabar ini ke elo"
"Jadi lo ga bisa kasi isi kontrak itu?" ulang Bintang.
"Mana bisa bos. Gue ga punya andil. Lagian lo suka sama tu model, masa sampe ke kontrak kerja nya sih pengen tahu, kepo amat"
Selanjutnya telepon di tutup, membuat Sebastian keki setengah mati.
"Idih, di matiin. Kalau lo bukan bos gue, gue p*rkosa juga lo!" ucap nya pada layar ponsel.