
Perhatian Bintang pada Bee yang terlalu over menyebabkan Bee dilema. Satu sisi dia merasa sangat di sayangi, di cintai namun di sisi lain, Bee juga merasa tertekan. Bayangkan saja, kemana pun Bee pergi, pak Komar yang menyetir dan satu asisten pribadi ikut bersama nya. Padahal hari itu dia hanya ingin melihat kesiapan tempat praktek nya yang sedang di benahi oleh para tukang.
Kemarin juga saat memesan barang untuk melengkapi klinik nya, Bintang ikut serta. Menyuruhnya hanya duduk sambil menunjuk apa dia ingin kan.
Tapi bentuk perhatian yang sangat berlebihan itu membuatnya megap, dia butuh ruang untuk bernafas dan melakukan yang dia ingin kan sendiri.
"Kok manyun?" ucap Bintang yang melihat istrinya yang bersandar pada headboard tempat tidur hanya menatap kosong ke depan. Di letakkan nya gelas berisi susu ibu hamil itu di nakas. Kesenangan yang kini menjadi kebiasaannya. Dengan senang hati menyiapkan segelas susu untuk Bee sebelum tidur.
Bintang sudah merangkak ke tempat tidur, bersiap menemani Bee yang sudah lebih dulu.
"Aku mau ngomong" ucap Bee yang menolak ajakan Bintang untuk merebahkan tubuhnya nya.
"Ya udah ngomong. Aku dengarkan kok"
"Kak, kamu lihat Saga kan? dia tumbuh dengan baik, sehat dan jadi anak yang super tampan dan pintar"
"Oh, ini tentang Saga?"
"Bukan, dengarkan dulu" pinta Bee merasa kesal karena omongannya di potong. Bintang merasa kikuk, hanya mengangguk lemah.
"Artinya, aku udah pernah hamil. Dan gini-gini aku ini seorang dokter, tahu mana yang baik buat aku dan bayi ku..ok bayi kita" ralat Bee yang merasa terintimidasi oleh tatapan protes Bintang.
"Jadi maksud aku kak, please jangan batasi tindakan aku. Biar kan aku melakukan hal apa pun yang bisa aku kerjakan sendiri, aku janji akan lebih hati-hati" Bee membelai rahang Bintang, bersikap lembut agar pria itu bisa mengerti.
"Tapi itu semua aku lakukan demi kamu Dan anak kita sayang. Aku ga mau kalian kenapa-napa"
"Iya aku paham rasa khawatir mu kak. Dan aku berterimakasih. Tapi percayalah padaku, aku bisa jaga diri. Kalau kakak masih ngurus semua yang aku perlukan, aku ga akan mau lagi hamil"
"Jangan gitu yang" Bintang refleks menegakkan tubuhnya, mengunci wajah Bee dengan kedua tangan nya.
"Makanya itu, kakak janji dulu, biarin aku melakukan aktifitas ku" wajah Bee tampak menggemaskan, dan Bintang memutuskan untuk mencium sekilas bibir itu.
"Oke. Tapi kau jangan terlalu capek. Apa lagu nanti kalau udah mulai buka praktek"
"Ayay kapten.." gaya Bee yang menghormat padanya membuat Bintang tergelitik dan kembali menghujaninya dengan ciuman.
***
Bintang merasa bingung harus berbuat apa. Karena banyak nya masalah internal di PT Indosawit nya yang ada di Pekanbaru, dia harus segera berangkat ke sana guna menyelesaikan perkara yang terjadi dengan penduduk setempat. Harga tanah yang di jual penduduk di sekitar lahan itu sudah di sepakati bersama Herman selaku wakil Bintang, tapi entah karena hasutan dari pihak tertentu, beberapa masyarakat membatalkan niat mereka untuk menjual lahannya pada PT Indosawit.
Hal itu lah yang kini jadi beban pikiran Bintang. Dia tidak ingin meninggalkan Bee sendiri. Saat akan memutuskan mengutus Riko saja ke sana, Bee masuk ke ruang kerja Bintang hingga membatalkan pria itu untuk menghubungi Riko.
"Ayo makan kak, belakangan ini kakak sibuk terus. Apa.ada proyek baru?" Bee mematuhi Bintang yang menarik tubuh nya dan mendudukkan di pangkuan Bintang. Pria itu mendekap sang istri begitu erat, menyesap wangi tubuh Bee seolah tidak ada habisnya.
Bintang yang sejak tadi asik menyembunyikan wajahnya pada leher Bee mendongak menatap kertas yang di pegang wanita itu.
"Oh, tiket ke Pekanbaru" jawabnya santai lalu kembali menciumi punggung Bee.
"Aku tahu. Ini juga aku lagi baca. Kakak mau ke Pekanbaru?" tanya Bee antusias.
"Rencana nya tadi, tapi ga jadi"
"Loh kenapa? dalam rangka apa ke sana kak?" Bee semakin tidak bisa me-rem rasa ingin tahunya.
Bintang terpaksa menjawab semua kebawelan sang istri agar tidak terus di serang dengan berbagai pertanyaan.
"Kalau gitu, ajak kami juga kak. Jadi kakak bisa fokus kerja, aku sama Saga bisa main ke rumah papa. Duh senang nya.."
Bintang menyentil kening Bee pelan, geli melihat reaksi istrinya. "Kok udah girang, emang aku udah bilang mau pergi? udah bilang mau ngajak kalian juga? ga kan?"
"Jangan gitu dong tampan. Nanti adek ga mau temani Abang main kuda-kudaan loh" goda Bee dengan ekspresi wajah centilnya.
senyum Bintang mengembang. Mungkin saran Bee ada bagus nya juga. Dia bisa berkunjung ke perusahaannya, sekaligus bisa mengajak anak istrinya liburan dan nilai plus nya bisa mengunjungi kakek nya Saga.
"Baik lah, tapi bayarannya mahal" ucap Bintang menyeringai bak serigala licik. Bee tidak perlu bertanya maksud ucapan suaminya karena kini meja kerja Bintang sudah berubah tempat menjadi landasan pertarungan mereka.
Selama Bee hamil, Bintang akan bermain selembut mungkin. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Bee dan bayi mereka. Tapi aneh nya justru Bee yang kini tidak sabaran. Dia akan bergerak dengan liar di atas tubuh Bintang.
Sejujurnya, Bintang suka dengan istrinya yang liar di setiap percintaan mereka. Deru nafas yang saling berkejaran mengiringi keduanya meraih puncak nya dengan cepat dan penuh nikmat.
Bee harus membenahi gaun malam nya sebelum keluar dari ruang kerja bersama Bintang. Niat awalnya hanya ingin memanggil Bintang untuk makan malam, nyatanya di gunakan untuk hal lain.
"Kakak sih, minta nya sekarang, makanan nya jadi dingin tuh" rengek Bee cemberut saat melihat menu di meja makan sudah dingin.
"Ga papa sayang. Yang penting niat buatnya. Dan lagi ini adalah buatan mu, pasti enak kok walau udah dingin. Makan yok, aku lapar"
Keduanya menikmati makan malam nya dengan penuh romantis. Sesekali Bintang akan memberikan pujian atas makanan yang tengah dia nikmati.
"Jadi besok kita akan berangkat ke Pekanbaru?" tanya Bee sudah tidak sabar. Bagaimana tidak, dia sudah tidak pulang bertahun ke desa nya.
"Iya, tapi kita ga bisa lama ya yang. Paling hanya satu dua malam aja nginap di rumah papa"
Dengan cepat Bee mengangguk. Tidak jadi masalah, yang penting dia bisa bertemu dengan papa nya dan mengenang masa kecilnya di dalam kamar pribadinya.