
Efek dari semua yang terjadi adalah Bee hingga pukul empat pagi masih guling-guling di tempat tidur. Ada perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan.
Kadang memikirkan tetangga sebelah nya itu dia bisa senyum-senyum ga jelas. Setelah ingat akan tingkah nya, tiba-tiba diam. Menepis pikiran aneh yang belakangan ini bersarang di kepalanya.
Deerrrrrt... Deerrrrrt..
Getaran ponselnya untuk kesekian kali belum juga bisa membuat nya terbangun. Hingga pukul sepuluh pagi, tante Di membangunkannya.
"Anak gadis apa jam sepuluh pagi belum bangun juga?"
"Hm.."
"Jangan hanya hm aja, ayo bangun, masih banyak yang harus di siapkan"
"Aduh tante, aku masih ngantuk, tante aja ya" Bee kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Aduh..aduh..ini anak susah banget di bilangin. Calon pengantin itu ga boleh malas-malasan kayak gini. Kamu itu sebentar lagi udah jadi seorang istri, tugas dan tanggungjawab kamu semakin besar. Kamu jangan bikin malu keluarga, dengan tidak bisa mengurus keperluan suami mu" cerocos tante Di sambil membuka lemari, mengambil pakaian untuk gadis itu.
Tubuhnya nya berbalik melihat keponakannya, saat tak mendengar suara sahutan dari Bee.
"Ya ampun, kamu masih tidur juga, kamu dengar ga sih apa yang tante bilang" seru nya kesal.
"Iya tan..aku dengar kok. Ngapain repot, kan ada asisten rumah tangga ini" bersuara masih dari balik selimut. Bee menatap layar ponselnya, ada 25 kali panggilan tak terjawab, tiga dari Lala, sisanya Elang.
Ada juga pesan masuk.
'Kamu jadi kan bilang wedang jahe kemarin dari aku? soalnya pagi ini aku ketemu kak Bintang yang tampan, tersenyum ramah, apa dia udah kena sihir cinta ku ya?soalnya di minuman itu aku kasih pelet!'
Bee sontak terduduk membaca pesan Lala. Entah terhipnotis atas isi pesan Lala, jantung Bee berdegub kencang. Bagaimana kalau benar minuman itu ada jampi-jampi nya, dan Bintang jadi jatuh cinta pada Lala?
Lala apa an sih, masih aja ngejar Colin suami orang, eh..calon suami?..
Pipi Bee memanas akan buah pikirannya. Kembali terbayang kejadian tadi malam. Ciuman itu..berbeda dari ciuman mereka dulu. Bahkan dari semua ciuman yang pernah dia rasakan.
Begitu halus, lembut dan nikmat hingga membuai jiwa untuk merasakan lagi dan lagi.
Bergegas Bee keluar dari pusaran selimut tebalnya, berlari menuju kamar mandi.
"Mau kemana lagi? satu jam lagi mbak dari salon nya mau datang, lagian kamu itu lagi di pingit, malah mau kelayapan" hardik tante Di saat Bee tergesa-gesa menuju pintu.
"Bentar aja tan, mau ke rumah Lala kok" sahut sesaat sebelum berlalu pergi.
"Lala..Lala.." teriak nya tak sabaran.
"Lala pergi dari pagi Bee. Ada apa nak? kamu ga dikabari nya?" tanya mama Lala dari dalam rumah.
Bee hanya menggeleng. Berpikir sesaat."Pergi sama siapa tante? rasa penasarannya tak bisa di bendung. Kata pelet itu sudah membuat nya kehilangan akal.
"Tadi sih pamit nya sama Bintang, tetangga kamu. Eh Bee, benar ga, tadi tante dengar ibu-ibu di pasar bilang, Bintang mau nikah sama kamu, bukannya pacar kamu Elang?"
"Hufff.. aku bukan pacar siapa-siapa tante" ucap nya lemas, sembari menyeret kaki nya untuk pulang.
Tak mau kehilangan jejak, Bee memutuskan untuk datang ke rumah Bintang. Bukan besok mereka akan menikah, jadi ga papa dong kalau main ke rumah calon suami?!
Kembali ada ruam merah di pipi seputih susu itu. Tapi hanya sesaat, karena setelahnya, kekesalan yang dia dapat.
Melalui Inah, Bee mendapat informasi bahwa Bintang pergi sejak pagi. Bertambah kalut lah pikiran nya.
Bukan apa, Bee hanya takut setelah semua orang tahu mereka akan menikah, kini pria pergi. Bagaimana dengan para tamu dan undangan? betapa malu nya keluarga nya nanti.
Bukan, ini bukan soal dia cemburu pada Lala, bukan juga soal pikirannya yang kini berkecamuk, membayangkan Bintang dan Lala sedang bersua memadu kasih, menertawakan dirinya.
Ini juga bukan soal pikiran Bee, yang menganggap kepergian Bintang tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka, adalah bentuk balas dendam.
Wajah nya pucat pasi. Berkeringat dan jantung nya berdegub tak karuan.
Sudah hampir dua jam menunggu di teras rumah nya, tapi kedua orang itu tak muncul. Bee hampir menangis.
Kenapa menangis?bukan nya senang ya jika batal nikah sama Bintang?
Kini dia bingung apa yang ingin dan tidak diinginkannya saat ini.
Hingga mbak yang di minta melakukan perawatan untuk Bee muncul, hingga mau tak mau, dia masuk
ke dalam rumah.
Untuk ke dua belas kalinya, Bee menghubungi nomor Bintang, tapi tidak aktif, begitu pun dengan nomor Lala.
Kalau di urut lagi, ini seperti karma. Atau bisa juga seperti kata pepatah, jangan asal bunyi. Dulu bukan nya Bee yang meminta pada ketiga temannya untuk mencuri perhatian Bintang, sehingga dia bisa ditinggalkan pria itu untuk bersama Elang. Dan sekarang kejadian. Lantas untuk apa kesedihan bahkan air mata itu kini?
Melakukan treatment perawatan pada sekujur tubuhnya menyita waktu nya. Bahkan ini sudah hampir magrib tapi belum ada kabar dari salah satu mereka.
Bee sudah mencoba bertanya pada Tya dan Caca, tapi mereka pun tidak tahu.
Setelah selesai dengan ritual memanjakan diri ala tante Di, Bee kembali ke rumah Bintang, tapi pria itu tetap belum pulang.
Dengan raut wajah penuh amarah, dia kembali lagi pulang. Bee pasrah. Yang terjadi, terjadilah..
Di rumah Bee tidak ada kehebohan seperti layaknya akan mengadakan pesta pernikahan. Karena toh mereka juga ga punya keluarga dekat yang diundang selain tante Di sekeluarga.
Lagi pula acara akan di gelar di hotel mewah di kota itu, semua sudah di siapkan pihak wedding organizer yang di tunjuk Bintang, tanpa sedikitpune.gikut sertakan mereka.
Membayangkan nuansa, dekorasi hotel tempat resepsi juga Bee tidak tahu gimana. Dia hanya di minta bawa badan saja.
Kedatangan Niko dan om Edo sedikit menghibur kegundahan hati nya. Dia tak ingin memberi tahukan perihal dugaan nya tentang Bintang yang mungkin sudah melarikan diri dengan Lala.
Dia tak ingin tante Di histeris. Biar saja Besok papa dan semua keluarga nya tahu, bahwa pernikahan itu batal. Toh juga uang Bintang yang membayar semuanya.
Semua candaan yang di lempar Niko padanya, hanya di tanggapi dengan cengiran Mala. Sungguh tak berminta. Bagaimana mungkin dia bisa tertawa sementara hati nya dag-dig-dug?
Lebih baik gue ke kamar. Tidur atau ga nonton drakor. Masa bodoh mereka mau kabur, kawin lari atau apa! Gue benci lu Bintang, dasar buaya!