Sold

Sold
Jantung jedag-jedug



Jadwal untuk bertemu dan tanda tangan kontrak dengan PT Kinanti akan di adakan lusa. Jadi Bee menghubungi tante Di, selaku manajer untuk ikut serta bersama nya.


Pertemuan pertama Bee dengan Kinan berjalan baik. Satu sama lain saling menyukai dan cepat akrab. Dari segi umur, mungkin Kinan lebih tua enam tahun dari nya, tapi nyatanya mereka bisa akrab bak teman sebaya.


Kontrak sudah beres dan jadwal pemotretan pun akan segera di langsungkan Minggu depan. Di sana Bee juga bertemu dengan Zen dan Hera yang akan menjadi teman nya dalam produk ini.


"Udah lama kita ga ketemu" sapa Hera yang melihat Bee keluar dari ruangan Kinan, lalu saling berpelukan.


"Iya, gue kangen sama kalian berdua. Kok bisa ya kebetulan banget kita bertiga kepilih. Padahal kita ini masih ijo banget. Masih banyak model yang lebih senior, kenapa kita yang di pilih sama kak Seba ya?" potong Zen yang berdiri di samping Hera.


"Apa pun alasan kak Seba, yang pasti kita beruntung banget bisa kepilih" ucap Bee senang. Dia sudah merencanakan untuk membawa Saga liburan setelah selesai dengan pekerjaan nya ini, memboyong Mira dan beberapa pelayan lain nya ke Bali.


Ketiganya melanjutkan pembicaraannya di cafe tidak jauh dari sana. Tante Di pamit undur diri duluan, ingin singgah melihat Saga.


"Kamu bersenang-senang lah bersama mereka. Tante yang akan urus Saga" ucap tante Di sebelum masuk ke mobil.


Pembicaraan berlanjut. Hera tampak masih bingung alasan pemilihan mereka. Pasalnya semua juga orang tahu, Stella anak emas desainer kondang itu, tapi justru tidak memilihnya. Kalau memilih Bee masih masuk akal, karena walau baru, Bee merupakan model populer yang memang berbakat. Nah mereka?


"Gue sampai jantungan loh, pas kak Seba ngabarin gue soal kerja sama ini" Zen masih ingat bagaimana terkejutnya dia, saat menerima kabar itu.


"Sama gue juga. Gila, PT Kinanti loh, apa ga perusahaan besar itu" sambar Hera


Mendengar celotehan kedua nya, Bee hanya bisa mengangguk setuju dan ikut tersenyum. Dia sendiri pun masih tidak percaya hingga saat ini. Saat di agensi, mereka bertiga memang Sahabat dekat. Bisa di bilang hanya Hera dan Zen lah sahabat nya yang tulus di sana, karena mereka satu angkatan dan suka di pandang sebelah mata oleh senior.


Larut dalam pembicaraan, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Telepon dari Kia yang menanyakan keberadaan nya, hingga membuat pria itu menawarkan diri untuk menjemputnya.


"Cie, cowok lo ya? anak band itu kan? gue lihat beritanya. Cakep banget ya" Hera lebih dulu memberi komentar setelah telepon itu mati.


"Bukan, gue ga ada hubungan lagi sama Elang. Udah putus" Penuh semangat Bee menjelaskan. Tidak ingin dirinya masih menyandang tunangan atau kekasih Elang.


"Terus ini yang baru? enak banget jadi elo Bee, cepat banget dapat cowok" Zen tertunduk lesu, mengaduk minuman nya dengan sedotan. Terakhir dia pacaran kelas dua SMA, dan hingga kini belum ada pria serius yang mau memacarinya.


"Ini bukan pacar gue. Kita temenan aja kok"


Tidak lama, rasa penasaran Hera dan Zen terjawab saat sosok tampan dan berwibawa Kia muncul di depan cafe tepat saat ketiga nya baru keluar dari dalam.


"Kya, kenalin teman-teman gue. Hera, Zen. Ini Kia.."Malu- malu kedua nya menyambut tangan Kia yang terulur. Wajah Zen malah tersipu malu saat Kia tersenyum padanya.


Saat hendak bubar, Zen tiba-tiba meminta salah seorang pelayan cafe untuk mengambil photo mereka, sebelum pulang.


"Lama amat sih lo nyampe" hardik Bintang pada Seba yang walau sudah keluar keringat jagung di dahi nya tetap tidak punya empati.


"Ini juga gue udah maraton, cakep..ih..gue sedot juga lo bos" ucap nya menghempaskan tubuh besar nya di atas sofa. Selonjoran seenak nya meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Bacot lo. Udah gimana yang gue minta? udah rapi?" Bintang melipat tangan di dada, memperhatikan Seba yang masih susah payah menarik nafas nya.


"Makanya diet.." lanjut Bintang geli. Pasalnya Seba udah seperti ikan paus yang dua hari terdampar di daratan. Ngap!


"Ga bisa. Jimat gue di lemak. Kalau gue kurus, entar karir gue hancur. Udah. Lo tenang aja bos. Mantan bini lo udah gue amankan. Gue pasangkan dengan model yang biasa kompak dengan dia" sahut nya masih tersendat. "Pokoknya gue jamin dia aman"


Kini senyum gembira terbit di wajah Bintang. Senyum cerah itu masih sempat menarik perhatian Seba, dan hanya bisa geleng-geleng kepala.


Suasana di studio photo itu sudah mulai rame saat Bee tiba. Setelah kemarin ikut meeting bersama Kinan dan juga managementnya, menerangkan kualitas dan konsep yang mereka usung untuk pemotretan kali ini.


Ketiga model itu sedang bersiap. Riasan sudah oke, lalu beberapa model pakaian tidur yang dengan cepat di buat sample nya di bawa ke hadapan mereka oleh Seba.


"Nih..lo Her, pakai yang ini, Zen lo yang ini, dan Bee lo coba yang ini" perintahnya membagi pakaian tidur itu pada ketiga nya. "Ingat, pertahankan ekspresi. Jangan buat malu gue lo pada"


"Siap kak" ketiga nya serentak menjawab.


Rasa nya aneh. Ini bukan kali pertama Bee mendapat tawaran kerjasama, tapi kenapa perasaan nya jadi gugup. Di depan sana, pada bangku barisan pertama, Kinan dan asistennya beserta kak Seba ikut duduk menyaksikan mereka di potret.


Semua berjalan lancar. Hingga pada saat pakaian yang ketiga, saat Bee keluar dari ruang ganti, berjalan menunduk hingga ke depan kamera tepat pada posisinya pengambilan gambar, wajahnya yang terangkat ke atas melihat kehadiran seseorang yang membuat tubuhnya dan hati nya bergetar.


Susah payah dia menelan saliva nya. Tatapan nya kini terkunci pada Bintang yang duduk di samping Kinan, dan begitu..mesra. Kinan bahkan merangkul lengan pria itu.


"Ayo..semua standby.." teriak Seba memutus kontak mata keduanya. Bee memutar tubuhnya, menghadap pada tembok hanya untuk bisa menarik nafas panjang dan meredakan debar jantungnya.


Tapi Bee memang model profesional. Dengan percaya diri penuh kembali memasang wajah cantik dan photogenic nya. Menganggap Bintang tidak ada di sana.


Bertiga mengekspresikan dirinya penuh ceria. Kalau kedua model lainnya bersemangat karena ada nya Bintang yang tiba-tiba hadir, Bee justru tak melirik ke sana. Takut hatinya jedag-jedug lagi.


Untuk pemotretan sesi terakhir hari ini, Bee mengenakan lingerie merah. Bayangkan saja, gaun satin tipis itu melekat tipis di tubuh mulus dan putih nya.


"Kak...mmm..harus pakai ini ya?" ucap nya memutar tubuh di depan cermin untuk kedua kalinya.


"Iya cantik. Kenapa? model profesional itu harus pede. Lagian ini produk pakaian tidur cantik. Udah yuk.." paksa Seba. Ada senyum tersembunyi di wajah pria tambun itu yang hanya dia tahu artinya.