Sold

Sold
Terkurung



Tanpa merasa curiga, Setiawan masuk dan langsung duduk di tepi ranjang. Kaki nya menjuntai di lantai dan iseng, Piter ingin menyentil tumit Setiawan, tapi tentu saja tidak dia lakukan.


"Papa ingin tanya, apa kau sudah benar-benar yakin menikahi biawak itu?"


"Papa, namanya Piter, dan dia calon suami aku. Papa jangan sebut dia biawak dong" rengek nya. Kinan jadi was-was kalau sampai Piter keluar untuk menyela omongan papanya.


"Iya, tetap aja papa akan manggil dia si biawak sombong"


Kinan melirik ke arah bawah ranjang, jantung nya hampir saja melompat saat tangan Piter keluar ingin mencengkeram pergelangan kaki papa nya.


"Sebenar nya papa mau ngomongin apa? aku ngantuk pa" Kinan harus segera memutus komunikasi ini, tidak mungkin Piter akan bisa bertahan di bawah sana saat papa nya terus menghina nya. Dia tahu sifat Piter, pria arogannya tidak akan terima di hina oleh siapa pun.


"Papa cuma ingin bilang, kalau kamu mau membatalkan pernikahan, masih ada waktu. Papa akan bantu mewakili mu untuk bicara pada keluarga Danendra"


Kinan semakin meremas gaun ujung gaunnya. Berdoa semoga saat ini Piter ketiduran dan tidak mendengar apa pun juga.


"Papa, hentikan omong kosong ini, aku aka. tetap menikah dengan Piter"


"Kau yakin? dia itu menyebalkan dan bukan pria lembut. Tinggalkan saja dia"


"Udah cukup papa. Aku ngantuk" Kinan hampir saja menangis menanti amukan amarah Piter. Yang bisa dia lakukan menerka apa yang akan di katakan Piter padanya nanti.


"Apa sih yang kamu harapkan dari pria seperti itu? selain sombong dan juga urakan, dia punya apa lagi yang bisa di banggakan? ah..sudah lah. Pikirkan baik-baik, besok papa akan tanya lagi apa keputusan mu"


Kinan bergeming, tidak ingin menjawab apa pun yang bisa membuat papa nya semakin lama di sana. Piter pasti akan segera keluar Jia dalam lima menit lagi, papanya nya masih terus menjelekkan dirinya.


"Ya sudah, papa keluar. Kau tidur lah, jangan begadang lagi. Tidak ada gunanya memikirkan pria tidak berguna itu lagi"


Setiawan menyudahi ucap nya, dan segera bangkit. Tapi baru akan melangkah, tubuhnya kembali di putar, kali ini menghadap tirai jendela yang terbuka.


"Tutup jendelamu, tidak baik angin malam masuk. Kau bisa sakit" ujar nya mengunci jendela dan yang membuat Kinan mengernyitkan dahi, papa nya mengambil kunci dan mengantonginya.


"Pa, kenapa kuncinya di lepas?" tanya nya panik. Bagaimana Piter akan pulang nanti, kalau kunci itu sampai di bawa papa nya.


"Papa mau pinjam, kunci pintu balkon kamar papa rusak, kayak nya sama dengan ini" tunjuk nya sebelum kembali menyimpan ke saku nya dan berlalu pergi.


Buru-buru kinan mengunci pintu kamar


Merasa sudah aman, Kinan menunduk, menatap Piter yang ada di kolong ranjang. "Aman" ucapnya setengah hati. Raut wajah Piter jelas mengatakan rasa kesal nya.


Sekali mendorong tubuhnya, Piter sudah berhasil keluar dari perangkap yang tidak di sengaja. Bergegas Kinan membersihkan kemeja Piter. "Maaf ya Ter"


"Papa mu itu memang tega banget ngatain aku ya. Minggu lalu aja pas acara lamaran di depan ibu ku, sikapnya ramah, dan menunjukkan sikap terbuka untuk ku, tapi nyatanya?"


"Udah ya, aku pulang" ucap Piter masih tampak kesal. Piter berjalan ke arah pintu balkon, tapi sudah terkunci. Hanya lewat tatapan mata Piter minta penjelasan pada Kinan.


"Di bawa papa kuncinya" ucap nya lemah. Bola mata Piter semakin membulat, benar-benar calon mertuanya buat nya naik darah.


"Terus aku gimana dong Nan? kok kamu kasih di bawa sih?"


"Ya aku ga tahu..mau ku minta, bingung cari alasannya"


Geraman Piter hanya bisa tertahan. Tidak mungkin dia memarahi Kinan, atau menyalak pada gadis itu, selain karena tidak sampai hati, Piter sudah terlalu lemah jika berhadapan dengan air mata Kinan.


"Gini aja deh, aku tidur di dulu malam ini. Nanti subuh, pas papa kamu udah tidur baru aku pulang" Kinan hanya mengangguk lemah menyetujui rencana Piter. Dia juga ikut kesal atas kelakuan papanya.


"Sini..jangan jauh-jauh dari ku" ucap Piter melembut, mengulurkan tangannya. Kinan tidak perlu pikir di kali untuk menyambut tangan Piter.


"Udah jam sebelas, kita tidur" ucap Piter dan keduanya merebahkan tubuh. Ada rasa kaku dan enggan ketika Piter merebahkan kepala Kinan di dadanya.


Debar jantung nya saja sudah tidak karuan lagi, terlebih saat ini tangan Piter aktif membelai punggungnya. Tidak lama tubuh Kinan kembali rileks. Entah jam berapa tepatnya, Kinan sudah jatuh ke dalam mimpi. Bisa Piter rasakan beban di dada nya semakin berat. Perlahan Piter merebahkan tubuh Kinan, menyelimutinya.


"Aku pulang dulu, sayang. Tidur yang nyenyak ya" bisik nya mencium kening dan bibir Kinan sekilas.


Seperti maling, Piter harus mengendap-endap agar suara langkah nya tidak sampai menimbulkan kegaduhan. Piter sudah tahu seluk beluk ruangan di rumah ini, hingga tidak susah baginya untuk mencari pintu keluar.


Suasana sepi, dan beruntung lampu di beberapa ruangan di matikan hingga memudahkan aksinya untuk keluar dari rumah Setiawan.


Dengan hati-hati, di putar nya kunci dan knop pintu, lalu keluar dengan sangat hati-hati. Piter harus mencari cara agar bisa melewati pos satpam tanpa ketahuan oleh satpam yang tampak sudah mulai mengantuk. Lima belas menit berlalu, Piter belum menemuka jalan, hingga akhirnya satpam itu pergi ke toilet melalui jalan samping ruangan nya. Kesempatan itu Piter gunakan untuk keluar dari gerbang.


"Sial..di kunci lagi" Piter memugar rambutnya. Sudah sejauh ini tapi masih terperangkap di depan gerbang. Takut akan segera Ketahun, Piter memilih memanjat pagar yang sangat tinggi. Ketangkasannya bela diri dan berlama-lama di gym bisa berguna untuk keadaannya saat ini.


Susah payah berjuang, akhirnya Piter berhasil keluar. Di liriknya jam di pergelangan tangan, masih pukul dua pagi. Saat berangkat tadi Piter sengaja naik Ojol, biar ga ketahuan oleh Setiawan. Di keluarkan ponselnya, memesan taxi online.


Dua jam berikutnya, Piter sudah tiba di apartemen nya. Melempar ponselnya di sisi tubuhnya yang sudah dihempaskan di ranjang. Tubuhnya lelah dan juga mengantuk. Di coba nya untuk memejamkan mata. Bagaimana pun juga, lusa adalah hari pernikahan nya, dia tidak ingin momen bahagia itu jadi berantakan karena dirinya kurang sehat.


Baru saja akan memejamkan mata, satu notifikasi masuk ke ponselnya. Mata nya yang tadi sudah 5 Watt, tiba-tiba berubah segar kala melihat nama si pengirim.


Om Setiawan.


Di klik nya video yang baru di kirim pria yang sudah berhasil membuat nya kesal itu. Tatapan Piter semakin membulat, bahkan bola matanya seperti mau keluar melihat isi video itu.


Piter lemas, tubuhnya terhempas kembali ke tempat tidur.