
Perasaan tidak enak menyelimuti hati Bee saat pamit pada Kinan dan rekan yang lainnya. Bee langsung menarik Kia untuk pulang, berjalan dengan cepat ke parkiran mengantisipasi jika Bintang memang sudah tidak waras malam ini hingga akan mengejarnya.
Dalam mobil Bee mengunci rapat mulutnya. Tidak mengatakan apa pun sebagai bentuk protesnya atas sikap Kia yang sengaja memprovokasi Bintang.
"Kok lo diam aja sih Bee? gue kan kesepian" celetuk Kia di balik kemudi. Balasan pertanyaan itu hanya hembusan nafas berat yang Bee berikan.
"Bee..ngomong dong.."
"Kya, kenapa sih lo harus cari gara-gara sama Bintang? maksud lo apa tadi bilang mau nikahi gue?" sekali lagi dengusan nafas Bee terdengar berat. Gadis itu melipat tangan di dada, menunggu jawaban Kia tanpa harus menoleh pada pria itu.
"Ga kok..gue ga ada cari gara-gara. Lagian dia sendiri kan yang mulai. Gue benci lihat cowok pecundang kayak dia, bisa-bisanya dia nempel sama cewek lain, di depan lo. ****** emang dia itu!"
"Biarin aja deh Kya. Kalau memang dia udah bahagia sama mbak Kinan ya bagus dong. Dan lagi, gue minta lo jangan dong maki-maki dia kayak gitu..gimana pun dia bapak nya anak gue" Sebenarnya selain karena hal itu, Bee tidak terima Bintang di maki karena hati nya sakit kalau ada yang berkata kasar tentang pria itu. Dia tidak terima, entah lah karena apa. Yang jelas dia ga suka. Titik.
"Lo bela dia bukan karena masih cinta kan?" pancing Kia menggoda. Kia memang bukan dewa cinta yang paham masalah hati, tapi dia juga bukan pria tidak peka, tidak bisa melihat masih ada setitik cinta di mata Bee untuk pria itu, hanya saja wanita itu menyangkalnya.
"Ga..kalau gue cinta kenapa malah cerai. Udah ya Kya, gue ga mau bahas masalah ini lagi. Please jangan cari masalah sama Bintang. Gue ga mau lagi berurusan dengan pria itu" Bee menutup matanya. Pertanda dirinya tidak ingin di debat atau pun membahas tentang apa pun juga. Hingga mobil Kia berhenti, Bee tetap menutup matanya.
"Udah sampai Bee" suara Kia berdentang di telinganya, alarm untuk membuka mata. Sedikit terkejut, karena tepat matanya terbuka, wajah Kia ada di hadapannya. Begitu dekat, hingga bisa mencium wangi mint dari pria itu.
"Oh..thanks ya Kya. Maaf, gue ga ngajak buat singgah ya, gue lelah banget, pengen tidur"
Tidak semua hal yang kita harapkan dalam hidup bisa di dapat. Contoh nya keinginan Bee yang tadi dia ikrar kan untuk tidak berurusan dengan Bintang lagi, nyatanya tidak di dukung alam.
Selesai mandi dan mengoleskan rentetan perawatan wajah, Bee hendak merangkak ke tempat tidur. Tante Di sudah pulang lima belas menit yang lalu, dan Saga, anak itu terlelap di tempat tidur.
Baru memejamkan mata lima menit, pintu kamar nya di ketuk keras. Degub jantung nya berdetak cepat. Itu pasti nya bukan Mira atau pelayan lainnya, karena tidak mungkin mereka sekurang ajar begitu.
Satu nama dia bisik kan dalam hati. Tidak ingin kegilaan pria itu berlanjut yang berpotensi membangunkan tidur Saga, Bee menyeret langkah nya dengan berat, memutar kunci pintu dan daun pintu terbuka.
Pandangan mereka beradu. Dalam diam, hanya menatap. Bee yang mengalah, melangkah masuk ke dalam, duduk di tepi tempat tidur.
"Aku pikir hingga pagi aku akan mengetuk pintu ini" ucap Bintang memulai pembicaraan.
"Mau apa?"
"Mau lihat anak aku dong" Bee akan mendebat, dan meminta Bintang untuk pulang karena Saga sudah tidur. Tapi niatnya batal, mulut nya yang tadi sempat terbuka, terkatup lagi seiring suara bocah yang merengek khas anak kecil bangun tidur dan sudah duduk di tengah tempat tidur.
"Hai jagoan papa" sapa nya saat bocah itu melihat ke arah nya. Dasar anak ayah, Saga malah tertawa riang, mengayun-ayun kan tangannya ke arah Bintang minta di gendong.
Penuh semangat Bintang yang memang sudah rindu pada Saga melangkah mendekat untuk menggendong anak nya, tapi serta merta Bee menghadang langkah nya dengan berdiri di depan pria itu.
"Mau apa?" hardik Bee tajam.
"Mau gendong Saga lah.."
"Ga boleh.." Bee masih berdiri tegak, tak bergeming dari tempatnya.
"Kenapa ga boleh? dia kan anak aku. Aku kangen sama Saga" Bintang maju selangkah, tapi kembali mentok karena Bee semakin maju. Jarak mereka begitu dekat, hingga Bintang bisa mencium wangi vanila yang mencuat dari tubuh gadis itu, aroma yang sangat dia rindukan, yang dulu selalu mampu membangkitkan gairah nya pada wanita itu untuk segera memeluknya, pun dengan Bee, aroma tubuh Bintang wangi parfum nya yang Bee kenal tapi bercampur dengan wangi wanita yang sedikit dia kenal. Parfume Kinan!
"Kamu bau. Tubuh kamu bau parfume, ga baik buat Saga" protes Bee beralasan.
Bintang melotot tajam. Apa iya dia bau. Segera di endus tubuh nya, tidak bau. "Kok gitu? kamu juga pasti pernah kan gendong Saga saat pake parfum? sekarang aja aku bisa cium wangi vanila dari tubuh kamu" Bintang memajukan wajah nya, mengendus lengan Bee tapi wanita itu mundur selangkah.
"Pokoknya ga boleh. Ga baik buat Saga" Bee tetap ngeyel.
"Ga baik gimana?" dahi Bintang mengkerut tidak mengerti.
"Ga baik. Kalau kamu gendong dengan pakaian penuh parfum wanita, nanti gede nya dia kayak kamu lagi, gatal sama cewek"
Alasan yang out of the box kan? tapi sudah terucap. Bee mengutuk dirinya yang bodoh cari alasan hanya karena cemburu.
Mulut Bintang menganga, bersiap untuk berkomentar, tapi mulutnya nya kembali terkatup. Otak nya mencerna tiap kalimat Bee. Saga bahkan belum berumur setahun, dari mana korelasinya Saga akan menjadi genit sepertinya hanya karena bocah itu di gendong dengan bau parfum wanita yang menempel di kemeja papanya?
Sebaris senyum terbit di wajah tampan Bintang. "Jadi harus gimana?"
"Mandi dulu yang bersih!"
Bintang diam, menatap wajah Bee hingga gadis itu menunduk karena malu. Bintang ingin sekali memeluk tubuh wanita yang begitu dia rindukan. Pengaruh Bee begitu besar pada tubuhnya. Sejak Saga lahir, dia puasa. Bukan karena alim, tapi tubuhnya tidak bereaksi pada wanita lain. Risih.
"Udah malam Bee, nanti aku masuk angin"
"Pokoknya mandi, itu kan ada air hangat!" tuntut Bee tidak ada penawaran.
"Baik ratu, hamba akan segera mandi" Bintang sudah melangkah ke kamar mandi setelah sesat memberi senyum manis nya pada Bee yang kembali berhasil membuat hati Bee kembali bergetar hebat.