
Maka mulai hari itu, Bintang dan keluarga kecilnya nginap di mansion utama. Bee merawat dan menemani ibu sepenuh hati. Lambat laun, kesehatan Bu Salma membaik. Kembali ceria.
"Terimakasih Bee" ucap nya menepuk punggung tangan Bee, saat kedua nya duduk di gazebo taman bunga ibu. Sementara Saga bermain bersama Mira yang ikut bersama tinggal di sana bersama mereka.
"Ibu..kalau ibu mengucap Terimakasih pada ku, artinya ibu menganggap ku orang lain. Bukan kah aku putri ibu?" ucap nya membawa tangan ibu dan menggosokkan punggung tangan nya pada pipi ibu. Bu Salma hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Apa kamu dan Bintang baik-baik saja?" pertanyaan ibu membuat darah Bee berdesir. Pertanyaan yang jawabannya tidak di siap kan Bee lebih dulu.
"Ba-baik Bu" suara Bee terdengar pelan. Lagi-lagi hati nya merasa bersalah karena sudah berbohong pada ibu.
"Ibu berharap kalian selalu bersama. Kau tahu, ibu sudah menganggap mu seperti putri ibu sendiri" tangan ibu membelai pipi Bee. Air mata kembali mengenang di pelupuk mata Bee yang buru-buru di halau nya.
Makan malam usai, Bee sudah membantu ibu ke kamar. Bermain dengan Saga hari ini membuat nya bersemangat sekaligus lelah. Saat kembali ke kamar, Bintang sedang bermain dengan Saga yang terbangun dari tidurnya.
"Kok Saga di bangun kak?" Bee duduk di tepi tempat tidur, menatap kedua nya yang asik bermain. Suara tawa Saga membuat Bintang bersemangat menguyel-uyel pipi bakpao Saga.
"Aku ga bangunin Bee. Bayi ini bangun sendiri. Mungkin tahu papa nya udah pulang" sahut nya bermain dengan jari nya yang di genggam Saga.
"Biar aku kasih nen dulu dia kak" Bee sudah mengambil posisi dengan Saga di pangkuannya. Suasana berubah menjadi kaku. Bintang pun berniat untuk keluar. Tapi langkahnya di tahan oleh pintu kamar yang terbuka.
"Maaf, ibu ganggu. Apa Saga sudah tidur?" kepala ibu muncul dari balik pintu, tepat saat melihat Bintang sedang memegang bantal dan selimut.
"Belum Bu" sahut Bee ikut melirik arah tatapan ibu pada Bintang.
"Kau mau kemana?" hardik ibu.
"Ini, mau minta Mira, ganti sarung bantal dan selimut ini" ucap Bintang mencari alasan.
Ibu hanya manggut-manggut, berjalan ke arah Saga yang sedang nen dan sudah mulai tertidur lagi. Tak lama ibu pamit keluar.
"Kakak, tidur di sini aja. Kita jangan buat ibu khawatir dulu" pinta Bee.
Sejak malam itu, malam mereka lalui layaknya sepasang suami istri. Berbagi tempat tidur, tak ada yang terjadi hanya berbagi tempat tidur.
Namun perlakuan lembut Bintang dan selalu memperhatikan dirinya, membaut hati Bee menghangat. Rasa nya nyaman dengan keadaan ini. Sampai malam itu datang.
"Kemana saja tidak pernah menghubungi ku?" salak Elang di seberang sana.
"Maaf Lang. Aku lagi repot banget"
"Repot apa? ngurus bayi itu? atau bapak nya?" ujar Elang kesal.
"Kamu apa-apaan sih Lang. Please kamu dewasa dong" delik Bee kesal. Pria itu selalu mengatakan apa pun yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan nya.
"Aku kan udah bilang, tinggalkan bayi itu"
"Kok kamu jadi salahkan anak ku. Kamu kan udah janji akan menerima Saga" ucap nya tidak terima.
"Lagian aku saat ini aku sedang merawat mertua ku. Beliau jatuh sa.."
"Mertua? apa kau sudah gila? semakin lama kau semakin masuk ke dalam lingkaran keluarga itu! sebenarnya kau masih ingin kembali ga sama aku?" bentak Elang.
"Lang..pahami dong posisi aku. Mertua ku sangat menyayangi ku, dan dia saat ini sedang sakit. Apa aku salah merawatnya?"
"Aku tidak mau tahu Bee. Aku minta segera urus perceraian mu saat ini juga" salak Elang.
"Aku ga bisa Lang. Ga untuk sekarang. Ibu sedang sakit. Dia bisa semakin drop jika tahu kami akan bercerai" terang Bee memohon.
"Aku ga mau dengar Bee. Jika sampai akhir bulan ini kau belum bercerai dengan nya, aku akan membuka masalah ini ke publik. Kita lihat, bagaimana wajah Bintang akan di hina di caci karena membeli seorang istri. Terlebih istrinya masih dibiarkan berhubungan dengan sang mantan? apa pikiran orang tentang nya. Dia akan dianggap pria lemah dan menyedihkan!"
"Kau tidak akan melakukan itu!" suara Bee tak kalah keras nya. Dia panik. Membayangkan Bintang di ejek dan di permalukan oleh banyak orang membuat nya tidak terima.
"Coba saja kalau kau tidak percaya. Aku tidak akan berbaik hati kali ini. Bisa kau bayangkan para kolega akan mencibirnya. Dan berita ini akan menjadi gosip besar di negeri ini. Menghancurkan nilai saham nya, lama kelamaan dia akan frustasi, syukur-syukur jadi gila!"
"Kau yang sudah gila!" bentak Bee semakin emosi. Dia sudah muak pada pria itu.
"Aku berikan waktu hingga akhir bulan ini, kalau kau tidak juga bercerai dengan nya, aku akan menghancurkan Bintang Danendra, membawa wartawan ke rumah kalian!"
Elang sudah menutup telpon nya. Meninggalkan Bee dalam kegelisahan dan amarah nya.
Masih dalam kebimbangan, pintu kamar nya terbuka. Wajah keriput wanita itu begitu pucat menatap Bee. Begitu pun Bee yang terkejut melihat ibu sudah berdiri di ambang pintu.
"-Ibu.." bisik nya parau.
Bu Salma hanya memandangi Bee sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar. Semua yang perlu dia dengar sudah dia terima.
"Ibu.." ulang Bee pucat. Dada nya sesak. Padahal alat pendingin kamar itu berfungsi baik, tapi kenapa terasa panas dan sesak dadanya.
"Betapa tega kau Bee.."
"Ibu, aku bisa jelaskan.." ucap Bee berlutut di hadapan ibu.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi. Ibu sudah mendengar semua nya" ibu memang tidak memaki atau menampar Bee, tapi sikap ibu yang diam tidak memarahinya justru hal yang paling menyakitkan bagi Bee.
Bee kembali ke alam sadar nya, dan segera mengejar ibu, tapi wanita itu sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dari dalam.
Raungan dan tangisan Bee yang memanggil namanya tak di hiraukan nya. Bee putus asa, terduduk lemas menyender di daun pintu, hingga Mira datang memapahnya kembali ke kamar.
"Mir..apa yang harus aku lakukan?" Isak nya masih terdengar.
"Sudah Nyah..jangan nangis lagi. Sudah satu jam nyonya menangis. Nanti jatuh sakit. Ini juga tuan muda jadi ikut nangis Nyah" ucap Mira yang menggendong Saga yang memang ikut mengis melihat Bee. Tangan kecil nya terulur ke arah Bee ingin di gendong.