Sold

Sold
Status ibu anak satu



Status janda yang di sandang nya kini tak membuat Bee terus larut dalam kesedihan. Saga lah yang menjadi penguatnya.


Bayi itu kini sudah mulai di dampingi bubur selain ASI. Semakin pintar, dan kini sudah mulai belajar berdiri.


Bee juga kini fokus melanjutkan kuliahnya, walau tetap Saga menjadi prioritas utamanya. Sejak tiga bulan berpisah, tak sekalipun dirinya bertemu dengan Bintang walau Mira mengatakan seminggu empat kali pria itu pasti datang ke rumah untuk bertemu Saga. Seperti nya pria itu memprediksi waktu untuk datang, saat Bee sudah pergi, baru lah Bintang akan datang ke sana.


Walau terselip rasa sedih, tapi gadis itu harus menghargai nya. Masih mengingat untuk bertemu Saga saja Bee sudah berterimakasih. Walau terselip rasa rindu yang coba dia tepis. Untuk membunuh rasa ingin tahu nya tentang pria itu, diam-diam dia mengikuti berita seputar kehidupan Bintang, alih-alih melupakan pria itu.


Bagiamana dengan Elang? Bee sudah tidak ambil pusing. Pria itu beberapa kali menjemputnya di kampus dan mengajaknya makan. Mungkin bagi Elang status mereka masih pacaran, sepasang kekasih, tapi tidak bagi Bee. Dia sudah muak berada di sisi pria yang suka sekali mengaturnya itu.


Bagi Bee tujuan nya saat ini bukan lagi cinta dan kekasih, tapi Saga dan masa depan nya. Cita-cita nya sebagai dokter dan untuk sekarang demi menunjang hidupnya dia juga harus bekerja. Menerima job jadi model dan juga di kontrak beberapa produk kecantikan.


Bintang memang tidak pernah lupa untuk mentransfer sejumlah uang untuk mereka, walau saat Bee menolak, Bintang mengatakan itu bukan untuk nya, tapi untuk keperluan Saga. Tapi bayi mana yang membutuhkan uang sebanyak 300 juta setiap bulan nya?


Terlebih Saga masih menyusu dan MPASI nya juga home made. Jadi Bee memutuskan tidak membantah keinginan Bintang, tapi dia juga tidak mempergunakan uang itu. Tetap dalam rekening yang dia peruntukkan untu masa depan Saga nantinya.


"Hai Bee.." sapa Elang yang belakangan ini seperti tidak punya pekerjaan. Terus menguntit Bee. Seperti saat ini, Elang datang menjemputnya kuliah.


"Hai..ga kerja?" tanya Bee datar. Tapi Elang yang semakin hilang kendali, marah. Menganggap pertanyaan Bee sebagai hinaan atas vakum nya band mereka hampir setengah tahun ini.


"Maksud kamu apa Bee? kamu ngejek aku?" balas nya tidak terima. Raut wajahnya berubah tidak bersahabat.


"Ngejek apa sih Lang? ga ada loh. Aku cuma tanya. Aku ga mau karena jemput-jemput aku waktu mu terbuang, pekerja mu terbengkalai"


"Itu semua aku lakukan karena aku cinta sama kamu Bee. Aku kemari ingin membahas masalah pernikahan kita" ucap nya melembut.


Tubuh Bee membeku. Kalau ucapan Elang itu ditujukan pada Bee beberapa tahun lalu, saat belum ada pria bernama Bintang di sisi nya, mungkin Bee akan menjerit bersorak girang, namun tidak kali ini.


"Menikah? tapi aku baru tiga bulan bercerai Lang. Tante Diana aja belum mau bicara sama aku karena perceraian ku dengan Bintang"


"Jangan sebut nama pria itu lagi. Dia sudah mati!" bentak Elang. Mata Bee melotot tidak terima atas ucapan Elang.


"Pulang lah Lang. Aku mau ke rumah Tante Di" ucap Bee ingin menghindari pria itu.


"Jangan begitu sayang. Hargai dong, aku udah capek-capek ke sini buat kamu" ucap nya melembut.


"Kamu kok berubah Bee? kamu udah makin dingin sama aku. Kamu ga lupa kan sama janji kita?"


"Ga Lang..aku ga lupa. Cuma aku lagi ga mood untuk jalan. Lagian aku mau ke rumah tante Di. Kamu tolong ngerti aku dong" kesabaran Bee sudah diambang batas. Keras kepala Elang selalu menjadi kebuntuan setiap mereka berdebat.


"Ya udah kalau gitu. Aku ikut. Sekalian mau ngelamar kamu sama tante kamu itu"


Malas untuk mendebat, Bee nurut saja apa kata Elang. Berdua mereka datang menemui tante Di.


Kalau Bee sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima sikap dingin dan terkesan kasar dari tante Di, berbeda dengan Elang. Dia sangat terkejut, saat tante Di tidak menjawab salam nya, bahkan naik ke atas setelah tahu Bee datang bersama pria itu.


"Kamu tunggu di sini dulu ya Lang. Aku lihat tante ke dalam dulu" ucap Bee berdiri. Sikap tak perduli Elang membuat pria itu tidak keberatan di tinggal sendiri. Toh ada hot cappucino yang di sajikan bi Leha untuk nya.


"Tante.." Bee masuk ke dalam setelah mengetik pintu kamar dua kali. Wanita itu sedang duduk di kursi rias nya, menatap pantulan wajahnya di sana. Bee masih bisa melihat bayangan kesedihan dalam wajah tante Di.


"Tan.." Bee sudut di hadapan nya, menatap wajah wanita paruh baya itu, tapi seolah Bee tidak ada di sana, tante Di tetap tak bergeming. Rasa penyesalan Bee Kemabli datang. Banyak orang yang menyayanginya di buat kecewa oleh keputusan nya.


Tak hanya ibu, tante Di pun enggan untuk mengakui nya anak. Tapi hanya di sini tempatnya. Tante Di lebih dari sekedar mama untuk Bee. Perlahan Bee meletakkan pipinya di pangkuan tante Di. Setetes demi setetes air mata Bee keluar, begitu pun tante Di.


"Aku salah. Aku akan yang tidak berbakti pada tante. Aku minta maaf tan.." wajah Bee memanas oleh air mata nya terus turun, tubuhnya pun ikut bergetar.


"Jangan benci aku Tan..aku mohon. Saat ini aku butuh dukungan tante. Aku lelah.." Isak nya kini mulai terdengar. Tante Di tidak tega, rasa cinta nya ternyata lebih besar dari rasa benci itu.


Diulurkan tangannya, membelai rambut Bee yang masih terisak. "Tante harap kamu akan mendapatkan kebahagiaan mu, nak" bisik nya parau. Menegakkan tubuh Bee untuk menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya.


"Kamu benar mau serius sama anak itu?" tanya Tante Di setelah keduanya tenang dan duduk bersama di salah satu sofa di kamar nya.


Antara yakin dan tidak, Bee hanya bisa mengangguk perlahan. Tarikan nafas tante Di yang terdengar kasar, menyiratkan rasa kecewa wanita itu pada pilihan Bee.


"Baik lah..ayo kita temui dia"


Elang gelagapan, saat tuan rumah bersama pacar nya turun menemui nya. "Sore tante" sapa nya sok ramah. Mengulang sapaan nya karena tadi tidak dianggap oleh tante Di.


"Sore. Duduk lah. aku mau bicara masalah kalian. Bagaiman rencana mu terhadap Bee? seperti yang kamu tahu sendiri. Sekarang ini status Bee adalah ibu dengan satu anak. Apa kamu siap menerima statusnya?" cerca tante Di. Walau dia tidak suka pada Elang, tapi pria itu adalah pilihan putrinya, harus dia terima.