
"Kenapa harus cari resto lain? ini udah di pesan kan makanan nya" ucap Kia yang sudah memilih untuk duduk di salah satu kursi. Hanya berselang satu kursi kosong diantara mereka. Kia tahu, pria itu sedang menatap nya jengah, tapi apa Kia perduli? tentu tidak!
Mau tidak mau Bee duduk dan memangku Saga. Tidak satu pun mendengar sedari tadi Saga mengucap kata pa-pa berulang-ulang dan mengulurkan tangan pada Bintang.
Kia menggendong Saga dari pangkuan Bee dan mendudukkan nya diantara dirinya dan Bintang. Anak tidak akan pernah lupa pada ayah nya kan? begitu pun Saga. "Pa-pa..pa-pa.." Saga terus memanggil Bintang hingga pria itu menggendong nya dan menciumi pipi chubby Saga.
"Lucu ya sayang, nanti kalau kita punya anak pasti lebih lucu dan cakep dari ini, ya kan?" ucap Stella mencubit pipi Saga hingga membuat anak itu merengek sakit dan menangis.
"Apa-apaan sih stel, kok di cubit sih? pipinya merah tuh" hardik Bintang kesal. Bee tidak tinggal diam, langsung mengitari dan mengambil Saga dari pangkuan Bintang. Sikap berubah dingin, kesal lihat tingkah Stella yang tampak ingin melukai anak nya.
Untunglah setelah di timang dan di bujuk Bee penuh sayang, anak itu diam. Bintang mengepal tangannya, ingin rasanya mencekik leher Stella karena sudah membuat Saga menangis, tapi rasa amarah nya pada Bee yang jalan bersama Kia sudah menyita pikirannya hingga tidak fokus pada satu titik.
"Udah, kita makan ya sayang" ucap Kia mendudukkan Saga kembali di pangkuannya. Bintang hanya bisa menatap dalam diam Mereka tampak seperti sebuah keluarga bahagia, dan itu semakin membuat Bintang panas.
Diantara semuanya hanya Kia yang tampak bisa menikmati makanan nya. Cuek dengan tatapan Bintang yang seolah ingin membuat nya tidak nyaman.
"Jadi Bee, ini suamimu? papa nya Saga?" tanya Stella hingga membuat Bee tersedak.
"Betul sekali" sambar Kia sambil tersenyum. "Bukan kah kami tampak seperti keluarga bahagia" lanjutnya semakin membakar Bintang.
"Ya cocok. Kalian pasangan serasi. Kami juga pasangan serasi kan?" ucap Stella merangkul lengan Bintang tanpa sungkan.
"Perfecto.." sambar Kia mengacungkan jempol. Bee hanya menunduk. Hati nya begitu perih saat ini.
"Kalian suka pesta pernikahan? kalau ya, aku akan mengantarkan satu untuk kalian. Kami berharap kalian mau datang bulan depan di pernikahan kami"
Bee sontak mengangkat wajah. Mendongak melihat Bintang dengan tatapan mata nanar penuh kehancuran.
Menikah? benar kah mereka akan menikah?
Air mata nya merebak begitu saja, namun setengah mati Bee menahan nya. Dia tidak mau pria itu melihat kehancurannya saat ini. Hatinya sudah tidak berbentuk, hancur berkeping-keping. Semua yang di dengar nya bukan gosip belaka ternyata.
"Selamat untuk rencana pernikahan kalian, semoga langgeng" ucap Kia masih tetap dengan gaya santainya.
"Kya, Saga mulai rewel, udah jam tidur siangnya. Kita pulang yok" pinta Bee dengan nada memaksa.
Kia tidak ingin semakin menyiksa Bee. Dia tahu gadis itu minta pulang karena ketidaknyamanan saat ini.
Mereka pamit, dan Bintang semkin hancur mendapati mata Bee yang melihat nya sekilas dengan kecewa, sesaat sebelum dia beranjak pergi.
Alasan Bintang tidak membantah omongan Stella pasal pernikahan mereka, karena Bintang memang ingin lihat masih adakah cemburu dari gadis itu untuk dirinya. Kenyataannya tidak ada masalah pernikahan yang sudah di sepakati dirinya dan Stella.
***
Hah..Haaah.."Kenapa Nan?" ucap Bee ngos-ngosan setelah tiba di hadapan gadis itu. Mata sendu dan merah nya menandakan dirinya sudah lama menangis.
"Papa Bee..papa udah tahu aku hamil. Papa nampar aku. Marah besar.." ucap nya meracu diiringi isak tangis nya yang kembali mencuat.
Bee hanya bisa memeluk Kinan. Khawatir akan kesehatan Kinan jika gadis itu terus menangis dan stres berkepanjangan, ada janin dalam perutnya yang harus di jaga.
"Sudah, jangan nangis lagi Nan. Kasihan bayi mu" mengingat bayi yang ada dalam perutnya, Kinan langsung diam. Walau bayi itu mendatangkan masalah untuk nya, tapi Kinan entah sejak kapan sudah menyayangi bayi itu.
Bahkan sejak tahu dirinya hamil, hampir tiap malam Kinan mengajak janin dalam perutnya bicara.
"Jadi, om bilang apa?" tanya Bee setelah mereka duduk di kantin jurusan. Memesan teh hangat untuk Kinan dan jus jeruk untuk dirinya sendiri.
"Dia bilang, aku sudah mengecewakan dirinya. Bahkan lihat nih.. pipi ku merah di tampar papa" ucap nya mendekatkan pipinya yang memang tampak merah di kulit putih nya.
"Itu karena om sangat mencintaimu Nan. Nanti pasti om akan memaafkan dan mengerti. Asal kamu sudah minta maaf dan menyatakan menyesal. Lagian ini juga bukan keinginan kamu. Kamu dibawah pengaruh alkohol. Kalau ada yang mau di salahkan setidaknya bukan kamu saja, tapi Bintang. Dia kan yang buat kamu jadi ingin minum sampai mabuk?" umpat Bee mengepal tinju dan memukul meja.
Mata Kinan membulat melihat emosi Bee pada Bintang. Sedangkan dia yang jadi korban saja tidak semarah itu menyalahkan Bintang. Toh dia sendiri yang memilih minum hingga mabuk. Bahkan dia pun ingat bahwa dia lah yang lebih liar saat itu menghabisi pria itu.
"Sekarang apa rencana mu?"
"Pokok nya aku ga mau pulang sebelum papa minta aku pulang"
"Kasihan om. Pasti dia khawatir banget sama kamu Nan"
Tapi sekeras apa pun Bee membujuk, Kinan tetap tidak mau pulang. Jadi lah dia sebagai tamu dadakan di kediaman Bee.
Tapi itu hanya dua hari. Pada hari ketiga, tuan Setiawan menghubungi nya. Memohon untuk segera pulang. Pria itu sangat kesepian dan merindukan putri satu-satunya.
"Pulang lah nak. Ayok kita bicara" pinta tuan Setiawan mengiba.
"Aku ga mau pa. Nanti papa nampar aku. Kasihan anak aku kalau aku nangis terus pa. Aku juga ga mau menggugurkan nya"
"Papa tidak akan meminta mu menambah dosa mu Kinan. Pulang lah. Papa akan terima kamu dan anak yang kamu kandung"
Tanpa di sadari nya air mata Bee menetes mendengar pembicaraan ayah dan anak itu. Begitu luas hati tuan Setiawan. Bee jadi rindu pada papa nya di kampung halamannya.
Mungkin sudah waktunya dia pulang untuk menjenguk papa nya. Tapi pria itu pasti bertanya tujuan kepulangannya yang mendadak, terlebih tanpa Bintang.
Niat nya kembali terbenam. Dia memang pengecut. Menyembunyikan masalah perceraiannya untuk menjaga perasaan papanya yang begitu bangga punya menantu seperti Bintang.
"Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya" ucap Bee melepas Kinan sembari saling kecup pipi.