Sold

Sold
Sandiwara



"Kalau begitu, biar aku lihat Bee tante, apa sakit nya parah?kita bawa ke rumah sakit aja ya tante" desak Bintang khawatir. Berlebihan sekali ya padahal baru juga kenal.


Begitu lah cinta, kadang logika tumpul untuk memahaminya.


"Ga usah Bintang, dia cuman demam, udah minum obat. Tadi nya tante juga minta dia ke rumah sakit untuk periksa, tapi dia menolak. Katanya dia hanya perlu istirahat. Sendiri tanpa gangguan..apa katanya semalam, mmm..katanya dia butuh istirahat total selama enam hari ke depan.." terang tante Diana polos.


Segaris senyum tipis melengkung di wajah Bintang.


Anak ayam mau ngadalin buaya ya..


"Baik lah tante, aku pulang dulu. Sampaikan salam ku pada Bee, katakan aku akan datang lagi besok" ucapnya yang diangguk oleh tante Di.


Sesampai di rumah, Bintang masih tak bisa menghentikan tawa nya. Rasa geli terus saja membuat nya tertawa mengenai tingkah laku pujaan hatinya.


"Segera panggil kan dokter hebat di kota ini, sekaligus, kirimin bunga...semua jenis bunga dan berbagai jenis buah, antar kan semua ke tetangga samping, putri tunggal tuan Hutomo sedang sakit..oh iya, jangan lupa beri ucapan di kartu, untuk calon istriku tersayang, dengan penuh cinta.." ucap nya geli.


Dia bisa membayangkan bagaimana kesal nya wajah Bee saat menerima semua hadiahnya, lengkap beserta dokter yang akan mengungkapkan kebohongannya.


"Oh iya man, jangan lupa, setelah memeriksa Bellaetrix, suruh dokter itu menghadap saya. Dan harus dokter wanita!" lanjutnya pada saat Herman, kepala keamanannya yang asli orang Pekanbaru yang di tugaskan Riko untuk mengawal dan memenuhi semua yang di perlukan Bintang selama di Pekanbaru akan beranjak pergi.


Sembari menunggu sang dokter yang sudah memeriksa Bee, Bintang memeriksa file berupa laporan perusahaannya yang perlu dia tahu, yang di kirim Riko padanya.


Setelah hampir satu jam, Herman datang bersama dokter itu menghadap ke ruang kerja nya. Dokter usia empat puluh tahun itu datang menghadap.


"Silahkan.." ucap Bintang penuh wibawa, mempersilahkan Bu dokter untuk duduk di kursi tepat di hadapannya.


"Maaf tuan, saya sudah memeriksa nona Bellaetrix dan.." sesaat dokter itu diam, berfikir apa yang akan dia katakan. Karena di luar tadi, Herman sudah memperingatkan nya, untuk berkata jujur pada Bintang, karena dia bukan lah pria biasa.


"Dan..?" tuntut Bintang tenang. Tanpa di beritahukan oleh dokter itu pun, Bintang tahu kalau calon istrinya itu tidak sakit. Itu hanya akal-akalan gadis itu saja untuk menghindari dirinya. Dia ingin melihat pada siapa kesetiaan dokter itu.


Wajah dokter itu begitu lesu. Dilema, bak seperti orang yang dihadapkan pada pilihan sulit. Di kamarnya tadi, Bee terkejut saat tante Di mengantarkan dokter ke kamarnya, dan mengatakan atas suruhan Bintang.


Seketika wajah Bee pucat. Sama aja dengan meletakkan lehernya di tiang gantungan. Dengan berbagai alasan Bee menolak untuk di periksa. Alasan takut sampai dia ingin tidur, tak mampu membuat nya lepas dari tangan dokter itu.


Tak bisa menolak lagi, posisinya sudah terjepit. Berdamai dengan keadaan dan mengubah taktik nya adalah pilihan yang tepat saat ini.


"Tante, bisa aku bicara berdua dengan Bu dokter?" ucap Bee menatap tante Di.


"Kenapa tante harus pergi Bee? tante kan ingin tahu gimana hasilnya?gimana keadaan kamu" ucap tante Di masih duduk di sofa memperhatikan tetap tak bergeming walau Bee sudah memohon lewat tatapan matanya.


Akhirnya tante Di mengalah. Keluar kamar meninggalkan mereka berdua. Masih tak mengerti dengan jalan pikiran ponakannya.


"Dokter, maaf apakah dokter punya anak perempuan?" ucap nya memulai drama.


"Iya, saya punya tiga orang putri" sahut Bu dokter masih tidak mengerti, kenapa tidak langsung periksa malah sensus penduduk.


Bee mengangguk, tanda semua sesuai dengan apa yang dia rancang." Berarti Bu dokter akan paham akan situasi saya saat ini" ucap nya berwajah sedih.


"Saya.." Bee memang aktris hebat. Bahkan kini menyempurnakan aktingnya dia sampai meneteskan air mata. Wajah Bu dokter kini ikut bersimpati, hingga beliau mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.


"Pria yang menyuruh Anda memeriksa saya, adalah psikopat. Dia memaksa saya untuk jadi istrinya, kalau saya tidak mau, dia mengancam akan membunuh saya" Isak Bee begitu memilukan terdengar.


"Saya mohon Bu, bantu saya, katakan pada pria itu saya memang sedang sakit dan perlu istirahat selama seminggu. Saya benar-benar tak ingin bertemu dengannya Bu" pinta nya memegang tangan sang dokter. Memohon sambil menangis.


Dan di sini lah Bu dokter sekarang. Menghadap pada pria yang di sebut sebagai psikopat golongan tinggi oleh Bee.


Tapi dari wajahnya, pria itu adalah pria yang sangat tampan, penuh wibawa, walau karakter yang di tampilkan sangat sangar dan begitu misterius tapi dokter itu yakin pria itu bukan lah psikopat seperti predikat yang di berikan Bee padanya.


Bu dokter jadi mati di tengah. Antara ingin menolong Bee atau jujur pada pria itu.


"Ketahuilah dokter, apa pun keterangan anda mengenai keadaan calon istri saya, akan saya rekam, dan jika ada yang salah sedikit saja, saya akan bawa ke IDI" ucap nya tenang.


Bu dokter bisa apa selain menceritakan semua nya, tanpa ada yang di tutupi, di kurangi atau pun di lebihkan nya.


Mendengar semua yang di ucapkan Bu dokter, membuat tawa Bintang menggema di ruang kerja nya. Bahkan saat dokter itu sudah pergi pun, Bintang tak henti tertawa terpingkal-pingkal.


Masih dengan senyum yang mengembang di pipinya, Bintang menghubungi nomor Bee yang dia minta tadi pagi dari tante Di.


"Halo..siapa ini?" tanya gadis di seberang sana.


"Halo sayang..bagaimana keadaan mu? sudah membaik?" tanya Bintang dengan wajah geli.


"Siapa ini? dan berhenti memanggil ku sayang!" salaknya judes pada nomor yang tidak dia kenal itu.


"Baru kemarin kita tukar ludah dan sekarang kamu udah lupa suara ku? aku calon suami mu sayang" ucap nya tersenyum.


"Dasar omes! menjijikkan! tahu dari mana nomor gue?"umpatnya kesal.


"Dari cara lu maki gue, pertanda lu udah sehat dong, berarti gue ke rumah lu aja sekarang" ucap nya menggoda.


"Uhuk..uhuuuk..ga..gue masih sakit, demam gue tinggi banget, ntar lu ketularan. Jangan dekat-dekat dulu" ucap Bee mengubah suara nya pelan, lemah dan seolah benar-benar merasa sakit.


"Oh..begitu. Ok..karena lu masih sakit dan ga bisa nemenin gue, gue bakal ngurus sesuatu aja deh. Dari pada gada kerjaan selama lu sakit"


"Lu mau ngurus apa?" iseng dan tak berniat, Bee sekedar bertanya.


"Gue mau ke sekretariat IDI" pancing nya yang dia yakin pasti di makan gadis itu.


"IDI? ngapain lu ke sana? mau daftar jadi dokter lu?dokter mesum? hahahaha.." cemoohan Bee di tanggapi Bintang dengan santai, karena setelah nya di yakin akan meng skak-mat gadis itu.


"Gue mau laporin Bu dokter yang meriksa lu tadi, karena udah ngasih laporan palsu!"


"Bangs*t..gue udah sembuh!"