Sold

Sold
Pingsan



Rasa ngantuk itu hilang seketika saat di hadapkan pada wajah marah Bintang.


Bisa di simpulkan, jika saat ini pria itu ingin sekali mencekik leher Bee, tapi lagi-lagi tatapan mata gadis itu bisa meredam amarah nya entah untuk ke berapa kali selama mereka kenal.


Merasa tak di hargai, tak dianggap oleh gadis itu lah yang pria itu rasakan saat ini. Tanpa sepengetahuan Bee, anak buah Bintang yang ikut menjaga mereka dari jarak jauh mobil milik Bintang melaporkan saat gadis itu berlari keluar rumah dan menjauh.


Salah satu nya malah meminta izin untuk mengejar Bee dan membawa kembali ke rumah, tapi Bintang menolak. Terlalu sakit, gadis itu selalu menganggapnya sebelah mata. Kabur dari nya tentu saja mencoreng arang di wajah nya terlebih saat itu mereka ada di rumah tante Di.


Binatang membiarkan nya pergi, dengan catatan, para pengawalnya mengikuti setiap langkah Bee dan melaporkan pada Bintang.


Saat Bintang menerima laporan Bee bersama Kiki, Bintang sedikit tenang namun tetap meminta pengawalnya siaga.


Semua barang yang sudah sempat di kemas Bee tadi, di bawa oleh Bee, lalu pamit pada tante Di.


Wanita itu tampak tak enak hati, merasa bersalah karena tak mendidik Bee dengan benar.


Selepas dari rumah tante Di, Bintang yang sudah terlanjur mengatakan tidak ke kantor, memilih untuk mengungsi ke Rockstar. Dia tak ingin malu di hadapan Riko yang tadi pagi dengan sombongnya di kabari untuk tidak masuk kerja karena ingin seharian bermesraan dengan istrinya.


Disini lah dia. Dengan kekesalan yang masih tersisa, Bintang mendorong koper itu melewati Bee masuk ke dalam kamar, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Tak ada bicara atau pun umpatan amarah.


Hal itu justru membuat Bee merasa tidak nyaman. Jika dia di marahi, maka mereka impas, Bee akan terlepas dari rasa bersalah nya, tapi kalau gini..


Pintu kamar sudah tertutup, tapi Bee dengan segala pertanyaan besar bersarang di hati nya masih diam terpaku. Seolah memandang pintu itu bisa tetap melihat ke dasar isi hati Bintang.


Untuk kali pertama, Bee rindu di marahi Bintang, bahkan di hukum, jika itu memang bisa di sebut hukuman.


***


Sekali lagi Bee mematut dirinya di depan cermin. Seragam sekolah nya melekat pas di tubuh nya. Dua kali sudah melatih senyum agar bisa tampil menawan di depan Bintang.


Pokoknya nya dia harus bisa merebut hati Bintang. Maaf, merebut? ralat bukan merebut tapi agar Bintang mau memaafkan salahnya.


Dia sudah ada di sana. Menyantap sarapannya dalam diam. "Pagi.." sapa Bee seolah tak ada masalah diantara mereka.


Malang, sikap ramah tamah nya kali ini tidak mendapat sambutan. Bintang menghabiskan kopi nya dan segera beranjak berdiri tanpa menoleh sedikit pun.


Kalau menurut sifat nya, Bee mungkin akan menjerit, memaki kebisuan Bintang pada nya, tapi ada beberapa pelayan, dia tak ingin mereka membicarakan rumah tangga nya.


Buruk mood nya sampai ke sekolah. Bahkan dia sampai tak mendengar Bu Siahaan, guru fisika, malah melamun hingga di hukum dan disuruh keliling lapangan.


"Terik banget Bu, hukuman nya diganti ya Bu" pinta nya memelas. Ogah untuk keluar dari kelas nya yang adem.


"Keluar ibu bilang, makanya kamu jangan melamun kalau ibu sedang menerangkan" hardik guru killer itu.


Mau tidak mau, Bee terpaksa keliling lapangan di terik matahari. Mana perutnya lapar. Pagi tadi juga tidak jadi sarapan, karena terlanjur kesal. Bahkan Bee ngotot tetap tidak mau menggunakan mobil dan supir yang disediakan Bintang untuk nya.


Jam istirahat pertama tadi pun dia tidak makan, sama sekali tidak selera. Hanya menatap Kiki melahap somay nya tanpa menimbulkan keinginan untuk makan.


Perintah Bu siahaan, Bee harus berlari lima kali putaran keliling lapangan yang sangat luas. Keringat bercucuran di wajahnya, dan nafas nya sudah mulai ngos-ngosan.


Setelah menyelesaikan satu putaran lagi tiba-tiba..


Bruk..!


Tubuh rampingnya jatuh terjerembab ke tanah. Pingsan.


***


Hampir lima belas menit Bee pingsan, dan sudah di beri pertolongan, mengusap minyak angin pada leher, perut dan juga sedikit di bawah hidung. Kiki setia menemaninya di UKS, sedangkan dokter jaga sedang keluar ke ruang kepala sekolah.


"Ki, gue kenapa di sini?" tanya Bee sembari memijit keningnya. Pusing nya masih terasa walau sudah mencium wangi minyak angin.


"Lu pingsan dodol. Makanya biasa kan makan, jangan sampai perut kosong"


Perlahan Bee mencoba untuk duduk, dibantu Kiki yang menyelipkan bantal untuk mengganjal punggung.


"Lo udah mendingan? mau gue panggil Bu Nining?" -dokter yang bertugas di UKS, tanya Kiki.


Ingin menghemat tenaganya, Bee hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Balik ke kelas yuk" pinta Bee. Kiki membantu memegang lengan Bee, walau dia sudah meyakinkan sahabatnya kalau dia baik-baik saja. Kiki tak ingin ambil resiko, kalau-kalau pingsan di koridor menuju kelas.


Belum lama duduk, salah satu tata usaha memanggil Bee, untuk menghadap ke ruang kepala sekolah.


"Ngapain ya gue di panggil? masa iya karena sekali ngelamun di kelas Bu Siahaan langsung kena SP (surat peringatan) sih?" Bee menatap Kiki, meminta saran.


"Mana gue tahu, udah buru sana. Perlu gue temenin?" tawar Kiki. Lumayan kan bisa jadi alasan bolos mata pelajaran pak Suwandi, guru matematika yang galak nya tak perlu di ragukan lagi. Lagian roster nya ****** banget, pake ada di jam pelajaran berakhir, kan ngantuk.


Tok.. tok..tok..


"Masuk.." suara bariton kepala sekolah terdengar.


"Bapak manggil saya?" wajah Bee sudah nyempil di balik pintu.


"Masuk Bellaetrix"


"Duduk" lanjut pria yang di penuhi uban di kepalanya.


"Gimana keadaan mu? bapak dengar kamu pingsan"


"Saya sudah baikan pak." Bee menatap aneh pada kepala sekolah. Dia dipanggil hanya kerena dia pingsan? setahu nya banyak juga anak-anak yang lain pingsan, Ketty contoh nya, tadi pagi juga pingsan waktu mengikuti upacara bendera, tidak ada di panggil kepala sekolah.


"Begini Bee, masalah Bu Siahaan ngasih kamu hukuman, bapak minta maaf. Maksud Bu Siahaan sama sekali tidak berniat untuk mencelakai mu" lanjutnya. Ada sorot mata was-was dari kepala sekolah. Seperti setiap ucapannya yang di sampaikan pada Bee begitu hati-hati dan Ter struktur.


"Iya pak..itu.."


"Saya akan menegur Bu Siahaan, atau memberi sanksi bila perlu, tapi bapak harap masalah ini sampai sini saja ya" lanjutnya memotong kalimat Bee. Seolah semakin banyak Bee bersuara, maka akan semakin terancam posisinya.