
"Gue mau bilang, gue setuju dengan perjanjian kita. Tapi gue juga punya syarat" ucap Bee memandang serius ke arah Bintang.
"Katakan.."
"Gue setuju untuk menikah sama lo dan memberikan elo keturunan dan setelah anak itu lahir gue mau kita berpisah baik-baik" ucap Bee dalam sekali tarikan nafas.
"Hanya itu?" tantang pria itu. Bee mengangguk.
"Aku setuju. Tapi selama kamu belum memberiku anak laki-laki, maka kamu akan tetap jadi istriku, walau lebih satu tahun lama nya!" ragu sesaat, tapi akhirnya Bee mengangguk. Dia yakin dirinya bisa segera memberikan anak laki-laki untuk Bintang.
Terlebih, zaman sudah canggih, dengan uang yang dimiliki Bintang, mereka bisa program bayi dengan dokter handal.
"Kedua.." ucap Bintang yang meminta perhatian Bee.
"Selama kita menikah, aku ga mau kamu menemui pria itu, tanpa seizin ku" Bee mengangguk, karena masih wajar. Dia juga harus menjaga harga diri suaminya.
"Terakhir, kita akan menikah Minggu depan, sebelum kita kembali ke Jakarta" putus Bintang.
"Tapi gue masih sekolah" bantah Bee membulatkan matanya.
"Hanya tinggal hitungan bulan lagi, kamu akan tamat Bee. Seandainya kamu pun langsung hamil setelah kita nikah, usia kandungan kamu juga masih empat bulan, ga akan terlalu kentara" ucap Bintang.
"Kalau begitu gue juga punya syarat" susul Bee.
"Lagi? baik.. lanjutkan.."
"Selesai sekolah, gue akan tetap melanjutkan kuliah.." Bintang mengangguk.
"Gue juga mau pernikahan kita di rahasiakan"
"Kenapa begitu?" delik Bintang tak suka.
"Karena gue masih sekolah
Gue ga mau di bully, ntar gue di kira simpanan om-om lagi" seru nya kesal.
"Ok.." seru Bintang sedikit kesal tapi geli saat disebut om-om. Dia bahkan belum genap dua puluh delapan tahun!
"Masih ada lagi.." lanjut Bee menarik nafas sesaat sebelum mengatakan persyaratan nya yang terakhir.
"Itu..mengenai..itu.."
"Hmm?" tanya Bintang meminta Bee lanjutkan kalimat nya.
"Mengenai persyaratan mu, memberikan keturunan, gue minta kita melakukannya hanya sekali sebulan. Kalau gue udah hamil, kita stop berhubungan, karena tujuan kita kan hanya untuk memberi lo anak" ucap Bee mengucapkan persyaratan nya yang paling berat.
Ada rasa terluka seketika dirasakan Bintang. Bahkan gadis itu mengingatkan bahwa ini hanya demi memberinya anak.
Rumah tangga yang bagaimana yang akan mereka jalani nantinya? Membayangkan nya saja, Bintang sudah bisa menebak, akan ada banyak rasa sakit yang akan dia alami nantinya, tapi untuk sekarang, bisa bersama Bee bagi nya sudah lebih cukup. Urusan nanti, nanti lah.
***
Perasaan Hutomo sangat bahagia saat Bintang memberitahukan perihal rencana pernikahan putrinya dengan billionaire itu. Hampir kesemua tetangga dan sahabatnya dia memberitahu perihal pernikahan putrinya yang akan di selenggarakan Minggu depan.
Tante Di sudah tiba di Pekanbaru, dan mulai sibuk membantu Bee memilih gaun pengantinnya.
Sementara Bintang, bersama Hutomo mendaftarkan pernikahan mereka ke kantor catatan sipil. Saat melihat akte lahir Bee, ternyata dua hari lagi gadis itu ulang tahun ke delapan belas.
Melalui Inah, asisten rumah tangga Bintang, pria itu meminta Bee untuk datang ke rumah nya, tapi Inah hanya membawa laporan bahwa Bee tidak ada di rumah.
"Kata tante Di, non Bee pergi dengan orang bernama Elang.." ucap Inah yang tak menyadari wajah tuan nya sudah memerah tersulut emosi.
Empat hari lagi mereka akan menikah, dan gadis itu masih pergi dengan mantan nya? bukan pacar nya! jadi status Bintang siapa dong?
Bagi Bee, Bintang hanya orang yang membeli nya, tepatnya merental. Nanti jika sudah habis waktu nya, dia akan di kembalikan pada Elang!
Tapi kadang takdir tak sejalan dengan keinginan dan rencana kita bukan? siapa yang bisa menjamin semua nya tidak bisa berbanding terbalik? bukan kah banyak di hikayat romansa anak muda, yang awal nya benci jadi rindu? dan setelah nya menjelma menjadi cinta?
Saat batas kesabaran yang sudah hampir titik akhir, Bintang masih setia menunggu kedatangan gadis itu. Di lirik nya kembali jam tangannya, hampir jam sebelas malam. Ini adalah kali ke enam dia melirik pergelangan tangannya.
Dia menahan untuk tidak menghubungi Bee. Dia juga menahan diri untuk tidak menjemput paksa gadis itu, karena toh lokasi nya sudah dia tahu sejak awal dimana keberadaan gadis itu. Bahkan anak buah Herman masih di sana.
Tapi Bintang ga mau gegabah. Dia bukan pria pemula, yang mengumbar emosi dan amarahnya dengan terang-terangan. Pemain pro selalu tahu taktik jitu ketika sudah waktu nya mematikan lawan.
Cahaya rembulan malam memperjelas pandangannya, saat melihat gadis itu turun dari motor. Dengan wajah sumringah nya, Elang mengelus pipinya. Bintang pun masih mendengar pria itu mengucapkan selamat malam dan mengecup kening Bee yang semakin membuat amarah Bintang memuncak.
Luapan amarahnya dilampiaskan pada gelas lowball yang ada di tangannya hingga pecah, berserakan di tembok teras rumah. Saat mengambil cranberry nya, jari tangan Bintang terkena pecahan gelas hingga meneteskan darah.
Rasa sakit itu tak seberapa di bandingkan dengan yang ada di hatinya. Elang sudah pulang, dan saat Bee hendak masuk ke dalam. Sosok Bintang yang muncul dari balik tembok rumah nya mengagetkan Bee.
Tampilan gadis itu malam ini begitu menawan, sexy bak gadis penggoda. Dress di atas lutut, dan belahan dada yang rendah, pilihan sempurna untuk memamerkan lekuk tubuh dan bagian tubuh penting lainnya.
Bintang masih sempat mengeram, saat memikirkan betapa Elang atau siapa pun yang bisa melihat penampilannya malam ini begitu puas melihat tubuh Bee.
"Ngapain lo di situ?ngagetin tahu ga" hardik Bee yang karena cahaya temaram tidak jelas melihat sorot mata itu sudah gelap, tertutupi kabut amarah.
"Aku ingin bicara pada mu, aku tunggu di sini" ucap Bintang dingin. Bahkan Bee si pemberani pun jadi ciut nyalinya mendengar ucapan yang berupa perintah itu.
"Be-besok aja ya, gue ngantuk"
"Sekarang!" dan diktator itu menghilang, masuk ke dalam rumahnya.
Menimbang sesaat. Apa Bee punya pilihan? pernikahan mereka memang belum di laksanakan, tapi duit yang sudah ditransfer oleh pria itu, sudah gadis itu berikan pada Elang, dan seperti yang di wartakan Elang tadi, Minggu depan mereka akan mulai rekaman single pertama mereka.
Dengan langkah terseret, Bee menuju rumah ber cat putih itu. Masuk dan melihat sang penguasa sudah duduk di kursi kerajaannya, memandang Bee dengan tatapan penuh amarah.
Kenapa lagi ini? kok tatapan nya udah kayak mau nelan gue hidup-hidup sih?gue salah apa??!