
"Sudah..hentikan drama ini" Piter datang melerai pelukan mereka. Lalu menarik tubuh ibunya agar menghadap padanya. Sambil memegang pundak Bu Salma, Piter juga mencium kening sang ibu. "Sekarang aku udah bisa kan ngucapin selamat ulang tahun?" Bu Salma mengangguk manja.
Peraturan di tiap ulang tahun sang ibu suri adalah, anak sulung yang harus mengucapkan lebih dulu, sebelum Bintang memberi ucapan, Piter di larang keras untuk mendahului.
"Selamat ulang tahun, wanita tercinta kami. Sehat selalu Bu, dan cepat punya cucu" ucap Piter tersenyum, seraya mengedipkan matanya.
Bu Salma paham arti seringai itu. Lalu ikut tersenyum. "Jangan coba untuk pulang sebelum ibu kasih izin, Tang!" wajah serius Bu Salma menatap Bintang yang tak mengira akan mendapat serangan.
Acara berlangsung meriah. Banyak pengusaha, artis senior yang ikut datang merayakan ulang tahun sang ibu. Piter dan Bintang hanya mengamati dari kejauhan.
Kedua kakak adik itu walau jarang bertemu, tapi jelas saling menyayangi satu sama lain. Bintang tahu kelakuan urakan adiknya, tapi Piter tetap bertanggung jawab dengan pendidikannya, nilai nya pun sangat memuaskan. Tiap semester dia selalu meraih IP tinggi.
Kesamaan kedua nya hanya satu. Suka berpetualang dari satu wanita ke wanita lain.
"Kau tahu kak, ibu selalu menanyakan padaku, siap wanita yang kini tengah dekat denganmu. Ibu ingin kau segera menikah, yang aku setuju memang sudah waktunya" ucap Piter di sela acara minum wine mereka.
"Kenapa harus aku? ibu punya dua orang putra. Aku sudah mengurus perusahaan, jangan beban kan aku dengan hal pemberi penerus keluarga. Itu aku serahkan tanggung jawab nya pada mu. Jadi lah berguna brader!" ucap nya mengerlingkan sebelah matanya.
"Aku? tangan ku belum ingin terikat oleh satu wanita. Tapi.." tiba-tiba Piter mengingat sesuatu.
"Siapa tahu aku berubah, ya kan.." ucap nya mengubah arah mata angin.
"Kenapa jadi berubah dalam hitungan detik?apa ada sesuatu yang menarik? siapa? istri siapa?janda? atau gadis? lupakan kau paling tidak suka dengan gadis polos!" ucap Bintang tertawa renyah.
"Kali ini berbeda. Aku menyukai yang belum tersentuh kali ini!" ucap nya dengan tersenyum. Sosok wanita itu kini menghiasi pikirannya.
"Dasar pedofil!" umpat Bintang enek melihat seringai serigala sang adik.
"Ini tidak bisa di katakan bocah lagi. Tubuhnya bahkan terbentuk dengan sempurna. Dan. jika tersenyum, mata nya bersinar indah" balas nya serius. Tak terima jika dirinya disebut om genit oleh sang kakak.
"Berarti kau sudah mendapatkan nya?"
"Nope!"
"Lantas, bagaiman kau tahu tubuhnya terbentuk sempurna?" suara Bintang jelas mengejek hayalan adik nya.
"Minggu lalu, saat pagelaran show oleh desainer kondang bertubuh semok itu, aku bertemu dengannya. Dan kau tahu kak..saat itu hati ku langsung terpikat oleh nya. Dan fyi, kami udah saling tukar nomor ponsel, dan someday, dia janji mau jalan bareng aku" seru Piter bangga.
"Segitu cantik nya kah?" tanya Bintang tak berminat. Baginya tak ada yang lebih cantik dari gadis itu, yang akan dia simpan dalam kenangannya saja.
"Dia sempurna. Cantik seperti namanya, Bella"
Alis Bintang naik ke atas saat mendengar nama yang disebutkan Piter begitu familiar.
"Bella?" tanya nya ingin memastikan.
"Apa dia baik-baik saja?" susul Bintang. Ada gemuruh di hati nya hanya dengan mendengar nama gadis itu.
"Siapa? Bella? dia baik, kenapa.." Piter diam sesaat. Memandang kakak nya yang juga diam sambil menyesap anggurnya.
"Jangan bilang, kau juga mengencaninya? ayolah kak, kita sudah sepakat untuk tidak meniduri wanita yang sama!" umpat Piter kesal. Dari raut wajah kakak nya bisa dia tebak, ada cerita antara mereka.
"Lupakan dia. Dia tak akan tertarik padamu, begitu juga dengan ku. Hati nya sudah menjadi milik orang lain!" ada sakit dan kepahitan dalam suara yang bergetar itu. Lama Piter menatap wajah sendu kakak nya, tak pernah seperti itu riak wajah tampan itu setiap mereka membahas wanita.
Dulu bahkan mereka pernah menyukai wanita yang sama. Wanita itu terlalu rakus untuk memiliki kedua kakak adik itu. Untung lah Bintang lebih dulu sadar, dan meninggalkan wanita itu untuk adiknya. Tapi tidak sesedih seperti ini.
Saat itu lah baru Piter sadar, wanita ini berbeda. Bella telah berhasil masuk kedalam hati Bintang yang paling dalam. Menyimpan dengan sejuta perasaan yang terhempas, karena penolakan gadis itu.
Yang Piter tak habis pikir, kenapa Bintang tak menaklukkan gadis itu dengan kekuasaannya? gadis mana yang tidak akan tergugah akan pesona Bintang, yah..walau pun gadis itu berbeda dengan gadis pada umumnya.
Piter tak mengatakan apa pun lagi. Menemani kakak nya dalam diam, namun pikirannya dia yakin ada bersama gadis itu. Ingin sekali membantu sang kakak, karena bisa di tebak, sang Don Juan paling di minati ini sudah jatuh cinta pada gadis bau kencur.
"Sampai kapan kalian akan duduk berdua disitu?ini ulang tahun ku, tidak kah harus nya kalian memberiku kado?" ucap Bu Salma memecah kesunyian.
Kedua putranya saling berpandangan dan tersenyum ke arah sang ibu. Ada saja tingkah ibu mereka. Kali ini sudah mengganti kostum kedua, dress merah berkerah rendah dengan topi di kepala. Bahkan topi Bu Salma lebih besar dari tubuhnya.
"Ini untuk the most beautiful women in the world" Bintang mengaitkan kalung indah di lehar Bu Salma yang sengaja dia bawa dari London.
"Kau pintar mengambil hati. Tapi perjanjian kita tetap berlaku. Tahun ini tidak menikah, ibu akan menikahkan mu dengan Lilis, putri pak Kumis juragan kambing.."
"Dari Subang.." sambung Bintang dan Piter kompak sambil tertawa menyambung ucapan Bu Salma.
"Dasar! kalian berdua suka sekali menggoda ibu. Tapi kali ini ibu serius Bintang. Mungkin usia ibu sudah tidak lama lagi" ucap Bu Salma dengan raut sedih.
"Oh...my lady.." Bintang menarik sang ibu kepelukannya. Mendekap wanita paling dikasihinya itu dengan erat. "Ibu akan berumur panjang. Jadi hentikan drama ini, Bu" ucap Bintang mencium puncak kepala Bu Salma.
Piter melihat kedua orang yang di sayangi itu saling berpelukan. Dengan senyum, dia menjauh, mengambil ponselnya mengamati satu nomor seolah ingin menimbang langkah yang akan dia lakukan.
Dengan penuh percaya diri, dia menekan nomor itu. Dua kali dering hingga orang di seberang sana menjawab telponnya.
"Halo.." suara merdu itu begitu nyaman untuk di dengar.
"Hai..apa kabar? lagi apa?"
"Lagi belajar. Ada ulangan besok" sahut gadis itu ramah.
"Bisa kah besok aku menjemputmu sepulang sekolah?