Sold

Sold
Berkata jujur



Langkah Bee yang kecil menyusuri jalanan yang di penuhi banyak lampu jalan. Dia sengaja menghentikan taxi di tengah jalan tak jauh dari rumah, karena tak ingin ketahuan sudah kabur dari rumah.


Diliriknya jam di pergelangan tangannya, pukul delapan malam. Bee merogoh ponselnya, melihat apakah ada yang mencarinya, tapi sial ponselnya mati.


"Kayak nya lima belas menit lalu masih hidup deh, kok udah habis aja baterai nya" sungutnya menatap ponselnya.


Dengan menunduk, dia terus berjalan, memasuki pekarangan rumah yang terlihat sepi.


Mungkin para ART udah pada tidur, dan Bintang juga pasti ga pulang. Dia lagi senang-senang kan sama cewek cantik itu?!


"Beruntung banget gue, pagar ga di kunci, satpam ga ada. Yes.. gini dong gue kan ga perlu lagi ngendap-ngendap kayak maling.."cicit nya tergelak pelan.


Ngeeeet...


Pintu rumah yang asal di dorong nya juga langsung terbuka, tanda tak di kunci sama sekali. Di sini Bee mulai curiga. Rumah sepi, tak tampak seorang pun.


"Kok sepi ya? mana gelap amat, cuma lampu teras aja yang hidup. Apa gue salah masuk rumah ya?" ucapnya semakin janggal.


"Aku rasa ada syarat yang sudah kamu langgar, tentang boleh pergi atas persetujuan dari ku!"


Suara itu menggelegar di kegelapan malam. Hanya siluet tubuh itu yang tampak oleh pencahayaan dari sinar rembulan yang masuk lewat jendela, berhasil membuatnya terkejut hingga terjungkal kebelakang.


"Ngapain sih? ngagetin tahu ga!" salak nya marah.


Bintang masih diam tak bergeming. Amarah nya sudah sampai ke ubun-ubun. Saat pak Jarwo mengabarinya sore tadi bahwa Bee keluar rumah dengan menyusup, Bintang sudah kalang kabut. Khawatir berlebihan akan keselamatan gadis itu. Karena selama ini setiap pergi, dia selalu bersama tante Di, ataupun dengan temannya.


Bintang langsung meninggalkan Stella dan Mivan Gunawan di mall, saat membicarakan masalah pagelaran untuk karya terbaru sang desainer yang memang bekerja di Garmen milik Bintang. Hanya saja saat Bee melihat Bintang di sana, Mivan sedang ke toilet.


Amarah dan ketakutan membuatnya berang, memerintahkan Riko mengutus anak buah nya mencari keberadaan Bee. Sayangnya susah di lacak. Dari IMEI ponsel Bee lah, anak buah Riko menemukan jejak gadis itu. Perintah Bintang adalah hanya memantau, tanpa diketahui sedang di ikuti.


"Siapa yang ngizinin kamu keluar rumah? bagian kalimat yang mana yang kamu tidak mengerti dari ucapan Pak Jarwo?"


"Gue bosan di rumah. Lu ga bisa kurung gue di rumah kayak tadi" salak Bee. Mengingat kembali Bintang yang semena-mena memberi perintah untuk mengurung nya di rumah, sementara dia asik pacaran di mall, oh..sumpah demi koleksi buku porno Elang, dia ga mau!!


"Ya..aku berhak melakukan apa pun, selama ada dalam perjanjian kan? kamu udah setuju nurut sama omongan aku, dan aku setuju sama omongan kamu, so perintah Aku adalah, kamu ga boleh keluar tanpa izin dari aku!"


"Gue benci sikap seenak nya lu ini. Gue lu kurung di rumah, sementara lu enak-enakan pacaran di mall, dasar br*ngsek!" umpat nya kesal dan berlari ke atas menuju kamarnya.


Bintang sempat terpaku sesaat. Mencerna ucapan Bee, lalu paham lah dia. Tubuh nya begitu lelah saat ini, tapi pikirannya jauh lebih capek.


Sebelum mengajak Bee bicara, Bintang lebih dulu mandi, lalu menemui Bee di kamarnya. Semua pelayan memang di minta Bintang untuk pergi, bermalam di hotel malam ini.


Dengan alasan ingin berduaan dengan sang istri.


Bintang tak ingin, pertengkaran mereka nantinya akan jadi bahan ghibah para pelayannya.


Tok..tok..tok..


Tak ada sahutan. Kembali Bintang mengetuk, namun masih tak mendapat sahutan. Perlahan di buka knop pintu yang ternyata tidak di kunci. Bintang masuk perlahan, lalu suara gemericik air di kamar mandi menandakan pemilik kamar tengah mandi.


Dengan sabar, Bintang duduk menunggu di tepi tempat tidur. Dia harus menjelaskan kesalahpahaman ini. Ga ingin Bee memikirkan hal-hal aneh tentang pertemuannya dengan Stella dan Mivan tadi. Untuk apa? ga tahu juga. Hanya saja kata hati Bintang ingin Bee tahu, dia tidak ada apa-apa dengan Stella.


"Aaaa..ngapain lu di situ" pekik Bee saat keluar pintu kamar dengan handuk melilit di ketiaknya.


"Aku mau ngomong" ucap Bintang lembut, menyembunyikan senyumnya.


"Kenapa lu senyam-senyum? pasti otak lu lagi mikirin yang jorok ya?" salak Bee menyilangkan tangan di tubuh nya.


Deg!


Debaran itu muncul lagi. Bertalu cepat. Bee cuek melangkah ke lemarinya, mengambil piama motif unicorn nya lalu masuk kembali ke kamar mandi.


Bee memutuskan untuk keluar, tanpa memperdulikan kehadiran Bintang di kamarnya.


Toh kalau gue usir juga dia ga mau pergi. Ini kan rumah dia, gue yang numpang. Gue sadar diri kok!


Kini gadis itu sibuk di depan meja rias. Mengoleskan berbagai carian bening ke wajahnya. Bintang masih menatap, dan menyukai apa yang sedang di lakukan. Menatap Bee ga ada bosan nya.


"Tadi aku di sana untuk membahas masalah pekerjaan dengan Mivan Gunawan" Bintang mulai percakapan dan tetap konsen memandang Bee.


"Sejak kapan kak Mivan pake Beha?" salak nya semakin kesal. Jelas-jelas yang dia lihat itu Stella dan bukan Mivan.


"Mivan ngajak Stella yang memang akan jadi ambasador produk kali ini. Mungkin waktu kamu lihat tadi, Mivan lagi ke toilet"


Hanya dengusan kesal yang terdengar dari gadis itu, menandakan tak percaya atas ucapan Bintang.


"Ok, kalau gitu, aku hubungi Mivan, kita Video call an, biar bisa ngomong langsung ke kamu" Bintang sudah bersiap untuk melakukan panggilan, tapi Bee dengan cepat menyambar ponsel itu.


"Gila aja, kakak mau ya kalau kak Mivan tahu kita nikah?" gerutunya.


"Jadi kamu percaya apa ga nih?"


"Apa bedanya sih percaya atau ga, toh kita juga bukan pasangan yang sebenarnya, yang harus jujur satu sama lain" ucap Bee yang tanpa dia sadari melukai lagi dan lagi perasaan Bintang.


Bintang menarik tangan Bee agar duduk di dekatnya. "Entah kamu menganggap hubungan ini ga ada artinya tapi bagi aku, selama kamu menjadi istriku, aku wajib jujur tentang segala hal sama kamu. Sebagai bentuk aku menghargai keberadaan mu sebagai istri ku"


Deg!


Nah kan, berdentum lagi. Terharu lagi. Kenapa Bintang selalu bisa membuatnya melted gini sih?


"Kamu udah makan?" ucap nya membelai wajah Bee.


Gadis itu mengangguk, terlalu malu untuk situasi saat ini.


"Istirahat lah, aku ke kamar ku dulu" ucap Bintang seperti bisikan.


Baru dua langkah, Bee sudah menghentikan langkah Bintang.


"Itu.."


Kembali Bintang menoleh, menunggu kalimat Bee.


"Kak..itu..aku mau kita melakukannya malam ini, di sini" ucap nya menatap mata Bintang dengan segala sisa keberanian nya, lalu menunduk kembali.


*Hai readers kesayangan emak, maaf kalau up nya ga jelas, tapi kalau sampai jam 7 malam ga up, berarti hari itu ga up ya.🙏🙏😁


Untuk HDLUB, emak mungkin up nya ga sebanyak sold, karena apah? karena emak lagi kesemsem sama Bintang, lagi jatuh cinta banget sama kisah mereka ini. 😀😀😁😁❤️❤️


Mak sanggup ber bab-bab kalau disini, tapi untuk HDLUB, seadanya aja dulu ya. Bukan bermaksud menganak tiri kan, tapi ya begitu lah..😀😀🙏😔


Jadi enjoy aja semua readers menanti, pas up ya di baca, kalau ga up, mohon bersabar, ini ujian..🙏🙏😁😘