Sold

Sold
Nasi sudah menjadi bubur



Elang harus menerima kenyataan dirinya menikahi putri dari seorang pengusaha yang kaya raya kalau ingin tidak masuk bui. Itu penawaran mutlak yang tidak bisa di tawar.


Riska, salah satu wanita yang menjadi teman kencan Elang saat band nya masih jaya. Hubungan yang mereka jalin bukan hubungan berlandaskan cinta. Hanya ada n*fsu dan berbagi kesenangan. Bahkan saat masih bersama Bee, Elang sudah pernah tidur dengan Riska.


Saat Elang tertangkap, papa Riska lah yang mengurus nya untuk di sembuhkan, dengan perjanjian harus menikahi putri semata wayangnya. Ketakutan masuk bui membuat Elang menyetujui permintaan papa Riska. Toh tidak ada salahnya, Riska adalah anak orang kaya, justru hal itu akan membawa dampak positif buat hidup Elang. Papa Riska juga menawarinya sejumlah uang, dan memberikan satu anak perusahaan yang coba di kelola Elang sebagai imbalan.


Tapi kenyataannya tidak selamanya seindah angan. Riska mempunya sifat buruk, yang memandang rendah siapa pun, termasuk Elang.


Pertengkaran dalam rumah tangga mereka yang masih seumur jagung kerap terjadi. Riska wanita bebas, yang hobby keluyuran dari malam hingga pagi, mabuk dan bersenang-senang tanpa memikirkan anak nya dan juga Elang.


Saat elang menuntut nya untuk menjadi istri yang melaksanakan tanggung jawabnya, Riska hanya menertawakan dan mencemooh dirinya.


"Lo hanya sampah, yang gue pungut buat jaga anak gue. Ga usah ngatur-ngatur hidup gue. Semua yang Lo nikmati saat ini itu karena gue. Kalau bukan karena bokap gue udah nolongin lo udah membusuk di penjara" kalimat itu selalu keluar dari mulut Riska setiap mereka bertengkar. Dan Elang hanya diam, nyatanya dia tidak bisa berkutik.


Pernah suatu kali pertengkaran hebat terjadi diantar mereka, kesabaran Elang sudah habis, dan sikap serta ucapan Riska tidak bisa di tolerir lagi, Elang sudah mengangkat tangan ingin menampar Riska, tapi justru wanita itu yang lebih dulu menampar pipi Elang.


"Berani lo nyakitin gue, gue minta papa buat ngabisin hidup lo, brengsek!" umpat Riska pergi menikmati kesenangan nya bersama teman-temannya.


Dan tentang Celo, anak itu juga bernasib sama dengan nya. Terbuang dan tidak diinginkan. Bahkan Riska sendiri tidak tahu siapa ayah biologis Celo karena suka berganti-ganti pasangan.


Penyesalan selalu datang belakangan. Itu lah yang selalu menggerogoti hati Elang. Dia silau dengan uang, hingga menerima pernikahan terkutuk itu. Harga dirinya sudah tidak ada lagi. Dia membuang wanita berharga demi mengejar ambisinya yang justru membawanya dalam kehancuran.


Kembali Elang menatap Bee yang sedang mengetik pesan pada ponselnya. Wajah yang seharusnya ada di tiap pagi nya, menemaninya saat matahari muncul.


"Sorry Lang, aku harus balas pesan suamiku" ucap Bee meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kami tampak bahagia Bee. Aku lihat berita tentang pernikahan mu dengan Bintang. Ternyata dia lah cinta sejati mu" ucap Elang. Ada sudut di hatinya yang sakit seakan di remas hingga membuat nya sesak.


Ucapan itu mungkin sesuai dengan kenyataan yang Bee tunjukkan tapi kenapa Elang seakan tidak terima. Dia ingat bagaimana Bee dulu sangat mencintainya, melakukan apa pun untuk bisa bersamanya, tapi dia menyia-nyiakan semuanya. Cinta, perasaan dan perjuangan Bee Kini dia menyesal. Tapi apa guna? nasi sudah menjadi bubur.


"Iya. Aku sangat bahagia Lang. Dan aku berharap kamu juga bahagia. Coba lah meraih kebahagiaan mu" ucap Bee tulus. Apa yang sudah di ceritakan Elang membuat nya merasa iba. Rasa perduli pada Elang masih ada. Tapi hanya sebatas itu.


"Aku menyesal Bee sudah menyia-nyiakan cinta mu.."


"Sudah Lang. Ga usah di bahas lagi. Kita sudah memilih jalan masing-masing. Biar lah itu menjadi kenangan yang tidak perlu di ingat lagi" ucap Bee.


"Tapi aku ga bisa Bee. Semakin aku merasa tersiksa, semakin berat penyesalan ku dan aku semakin menyadari hati ku hanya menginginkan dirimu"


"Aku tahu. Aku tidak akan merusak kebahagiaan mu. Kau pantas mendapatkan pria sebaik dia, asal kamu bahagia Bee, aku ikhlas"


Tidak ada lagi yang mereka bahas mengenai masa lalu. Sisa waktu yang ada mereka gunakan membicarakan hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa lepas, tanpa ada canggung. Kedua nya sepakat kalau hubungan yang ada diantara mereka hanya sebatas teman.


***


Saga rewel malam ini, mungkin geraham nya mau tumbuh hingga tubuh nya hangat. Sudah satu jam Bee menggendong anak itu agar berhenti menangis.


"Udah gimana Saga?" tanya Bintang untuk kesekian kalinya. Per-setengah jam Bintang akan menghubungi nya menanyakan keadaan Saga.


Ini semua Mira punya pasal. Harus nya dia tidak usah memberitahukan kalau Saga demam. Bee bisa mengurusnya sendiri. Dia tidak ingin membuat Bintang khawatir, apa lagi saat ini dia lagi meeting dengan para dewan direksi.


"Kakak ga usah cemas. Saga udah ga nangis lagi. Udah tidur malah dalam gendongan ku" ucap Bee mengarahkan layar ponselnya ke arah wajah Saga yang sudah tertidur.


"Aku usahakan cepat pulang ya sayang. Maaf karena saat seperti ini aku ga ada di samping mu" Bintang merasa tidak sangat bersalah. Tapi senyum lembut Bee mampu menenangkan nya.


Seminggu sudah Bintang pisah dari kedua pemilik hati nya, tapi rasanya sudah se abad lamanya. Ingin segera terbang kembali ke sisi mereka.


Tidak terasa, hari yang ditunggu Bintang tiba, saat ini dia sudah dalam pesawat. Bayangan wajah gembira Bee dan Saga menyambut kepulangannya membuat nya mengembangkan senyum sedari tadi.


"Hai, Bintang, lama tidak ketemu. Apa kabar?" sapa seorang wanita yang tampak akrab dalam ingatan Bintang, tapi lupa akan namanya. Melihat reaksi Bintang yang hanya diam dan terus menatapnya, gadis itu melanjutkan perkataannya.


"Ranika.." ucap nya memberi umpan pada memori Bintang.


Senyum Bintang terbit pertanda ingatannya yang menyimpan kisah wanita itu sudah muncul. "Rani.." ucap nya terbodoh mengulang nama gadis itu.


"Iya, gue Rani. Udah kayak lihat setan aja lihat gue" ucap wanita itu terkekeh.


"Gue kira lo udah mati"


"Sue lo. Kalau gue mati, lo bakal sedih. Cinta lo kan belum gue terima" tawa wanita itu terus bergema dan menular hingga Bintang ikut tertawa.


Pembicaraan itu terhenti kala keduanya tiba di pintu keluar. "Lo lama di Indonesia?" Bintang ikut berhenti di sisi gadis itu, menunggu supir Rani memasukkan kopernya ke bagasi.


"Emang kenapa? lo mau gue tinggal di sini? tenang aja, gue ga akan pergi sebelum lo traktir gue" ucap nya sambil mengedipkan sebelah mata yang membuat Bintang tertawa untuk kesekian kalinya.