Sold

Sold
Say no to masa lalu



Suasana canggung yang terjadi diantara mereka mencair saat Saga datang menghampiri Bee. "Mama.."ujar nya menghampiri.


"Ini pasti Saga kan?" ucap Elang menunduk agar bisa setatap dengan anak itu.


"Iya..om siapa?" Saga membalik tubuh nya membelakangi Bee.


"Om teman mama mu"


"Saga sayang, mau tolong mama ga, gambarkan bunga untuk mama?"


Saga mengangguk dan berjalan ke kamar nya di ikuti Mira dari belakang.


"Kamu kok tahu aku pulang Lang?" banyak hal yang ingin di tanya Bee pada pria itu. Melihat kondisi fisik Elang saat ini, sudah lebih baik dari saat terakhir mereka bertemu.


"Iya, dari etek Komariah" sahut nya singkat. Elang melempar senyum pada Bee sekilas, tapi karena Bee buru-buru menunduk, Elang paham mungkin wanita itu tidak suka akan kedatangannya.


"Apa aku sudah mengganggumu Bee?"


"Hah? oh..ga. Aku juga lagi tidak mengerjakan apa pun. Hanya menunggu suamiku pulang dan kami akan kembali ke Jakarta"


"Oh.." kembali sepi. Padahal banyak yang ingin Elang perbincangkan dengan wanita itu hanya saja jarak mereka yang sudah sangat jauh membuat keduanya tampak jadi orang asing.


"Kamu sekarang tinggal di sini atau hanya berkunjung?" tanya Bee asal. Tidak bisa menemukan pembahasan yang cocok.


"Aku sudah sebulan di sini. Yah..aku pulang kampung. Di Jakarta aku ga bisa mendapatkan pekerjaan. Hidup aku miris banget ya Bee, impian kandas, bahkan menjadi gelandangan"


"Bagaimana dengan istri mu?" Bee mengutuk lidah nya yang berujar tanpa komando dari otaknya.


"Kami bercerai, dan dia sudah bersama orang lain. Jalan yang terbaik buat kami" Elang tampak menghela nafas. Berat beban di pundaknya membuatnya tampak jauh lebih tua dari Bee, bahkan Bintang tampak lebih segar di usia nya yang terpaut hampir tujuh tahun dari Elang.


"Jadi apa rencana mu sekarang?" lagi-lagi Bee tidak bisa merem mulutnya.


"Itu lah Bee. Aku senang bertemu dengan mu di sini. Begitu aku mendengar kamu pulang, aku langsung datang menemui mu"


"Untuk apa?" Bee pasang wajah serius. Dia tidak mau kedatangan Elang merusak kebahagiaannya dengan Bintang. Baru juga mereka bicara tentang cinta tadi malam, masa harus bertengkar lagi karena pria ini.


"Aku mau minta tolong, bantu aku mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Aku malu harus tinggal di sini lebih lama dengan cibiran para tetangga"


"Pekerjaan?"


"Iya Bee. Minta pada suami mu, agar menerima aku bekerja di salah satu perusahaan nya. Aku bersedia kerja jadi apa aja"


Dahi Bee berkerut. Menatap heran pada Elang akan permintaannya. Apa pria ini lupa atau sudah amnesia? dia dan Bintang adalah orang yang saling membencinya, bagaimana bisa dia minta agar Bintang memberikan pekerjaan pada Elang?


"Tolong lah Bee. Bantu aku. Demi persahabatan kita selama ini"


Bee ingin tegas menolak sebenarnya, tapi melihat wajah Elang yang memohon dengan sungguh-sungguh membuat nya merasa tidak enak hati.


"Nanti aku usahakan ya Lang, aku tanya teman yang tahu lowongan buat kamu"


"Hai sayang.." sapa Bintang yang melihat Bee duduk sembari mengamati pintu masuk. Bintang masih di depan pintu, melepas sepatu boot nya lalu melangkah masuk. Matanya sama sekali belum menangkap kehadiran orang lain di ruangan yang minim cahaya itu.


"Kak, udah pulang?" Bee berdiri menyambut Bintang. Dia harus gerak cepat untuk menenangkan suaminya jika kehadiran Elang membuat nya marah.


Senyum di bibir Bintang menghilang, tak kala menyadari tidak hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.


"Kak, Elang datang berkunjung. Masih ingat Elang kan?" ucap Bee menyentuh dada Bintang dan mengusapnya seolah ingin mengatakan agar tenang, dan jangan marah.


Bintang tidak suka akan kehadiran Elang di rumah mertuanya. Itu sudah jelas. Tapi dia juga tidak ingin mempertontonkan amarah nya. Jadi dia hanya mengangguk ke arah Elang.


Hanya saja Bee yang sudah lama mengenal perangai Bintang tahu benar, rahang tegas itu mengeras karena memendam rasa kesalnya. "Kenapa lama sekali pulang nya kak? apa semua berjalan lancar?" Bee merangkul lengan Bintang dan mengajaknya duduk. Setelahnya yang di lakukan Bee adalah membuat Elang melihat bahwa dirinya sangat mencintai Bintang. Dan itu juga jadi salah satu cara menenangkan hati Bintang, dia ingin pria itu membuang kecurigaan dalam pikirannya saat melihat Elang ada di rumah ini.


"Semua lancar" Bintang menatap mata Bee. Coba mencari apakah ada tanda-tanda Bee masih tertarik pada pria itu. Dasar Naif!


"Kalau begitu kenapa kau tidak mengecup keningku tadi?" ucap Bee manja. Memberi senyum terindah nya pada Bee. Tidak perduli ada Elang di sana, Bee ingin Bintang tahu, bahwa hatinya kini hanya untuk suami tercintanya itu.


Bintang mengabulkan permintaan istrinya. Mengecup kening Bee penuh kasih.


"Ehem.." suara kikuk dan Elang membuat keduanya menoleh.


"Oh, sorry. Istriku ini begitu manja. Susah kalau tidak dituruti kemauannya" ucap Bintang sembari tersenyum. "Kamu apa kabar?" basa basi Bintang hanya untuk sekedar menerapkan etika pada tamu.


"Baik.." sahut Elang yang jengah melihat gaya sombong Bintang setiap bicara padanya.


"Ada keperluan apa dengan istri saya?" Bintang menyandarkan punggungnya. Menatap lurus pada Elang. Bee kembali menjadi penawar amarah Bintang yang coba kembali bangkit. Ditautkan nya jemarinya pada jari Bintang dan meletakkan di pahanya.


"Elang mau tanya, apa ada lowongan yang mungkin bisa kamu berikan padanya di perusahaan" ucap Bee hanya menatap Bintang. Sedikitpun tidak menoleh ke arah Elang. Dia ingin memastikan amarah Bintang masih bisa dia kontrol. Sebenarnya Bee lah yang terlalu, masih bisa mengharapkan bantuan untuk sang mantan pada suaminya sendiri. Jelas-jelas masa lalu mereka bertiga sangat serius.


Tidak melayangkan pukulan saja dari Bintang harusnya Elang sudah bersyukur, ini malah minta bantuan.


"Maaf, tapi kayaknya ga ada. Nanti deh kalau ada" sahutnya cuek, melihat pada Bee lalu ke arah Elang. Tapi dari tatapan nya pada Bee, gadis itu sadar bahwa suaminya Mera kesal padanya. Masih bisa berniat menolong mantannya, padahal hal buruk dulu sudah sering dia dapatkan dari pria menyedihkan itu.


"Baik lah. Kalau begitu aku permisi dulu" ucap Bintang undur diri. Hanya Bintang yang mengantar Elang hingga ke halaman. Dia tidak ingin memberikan ruang pada istri dan sang mantan untuk berduaan lagi.


"Sayang..." ucap Bee ingin menjerat Bintang. Kalau tidak, bisa-bisa pria itu akan marah padanya.


"Kenapa dia kesini?"


"Mau nanya kerjaan"jawab Bee tenang.


"Bukan mau ngerayu kamu kan yang?"


"Ga lah. Say no to masa lalu. Lagian aku juga ga akan bisa di rayu oleh pria lain. Hati adek kan udah untuk abang seorang" ucap Bee dengan suara genit sembari mengedipkan mata.


"Ah..manisnya. Abang jadi ingin ajak adek main kuda-kudaan lagi!"


Dan Bintang hanya mendapat raut wajah jutek dari Bee untuk jawaban atas perkataan Bintang.