
Gaun berwarna baby blue menjadi pilihannya hari itu. Melekat indah di tubuhnya, gaun selutut itu begitu elegan dan mempesona di kulit putih Bee.
Rambut panjang nya yang di gerai, dengan beberapa helai di jepit dan di hiasi permata kecil. Bee bak princess muda yang sangat cantik.
Dia sendiri tidak tahu akan di bawa kemana oleh Bintang. Pagi tadi, pria yang baru siap mandi, masih dengan kimono mandi nya, mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.
Hari Minggu harus nya menjadi hari kebebasannya untuk bangun siang. Mager seharian hingga lapar menerjang. Tapi si pengetuk pintu tak membiarkan harapannya terkabul. Terus mengetuk Hinga Bee. terpaksa membuka matanya.
Dengan kesal dan mata terpejam Bee membuka pintu. "Ada apa?" tanya nya masih terpejam, tak memperdulikan siapa pun yang ada kini di hadapannya.
Reaksi Bintang berbeda. Dia justru tersenyum melihat istrinya dengan piama pendeknya. Wajahnya begitu menggemaskan, terlebih melihat rambut Bee yang acak-acakan. Belum selesai dengan rasa gemas nya, mata Bintang turun sedikit ke bawah dagu Bee. Tonjolan itu begitu kentara puncaknya, mengeras di pagi hari.
Bee memang biasa, tidur tanpa Bra, dan pagi itu, piama tipis nya memamerkan nya pada Bintang.
Hasilnya ada yang berdenyut di bawah sana. Bukan salah Bintang jika dia mengambil apa yang di tawarkan. Dengan cepat Bintang mendorong tubuh Bee masuk ke kamar, menutup pintu itu dengan kakinya sementara bibir Bintang sudah ******* habis bibir Bee.
Gadis itu gelagapan mendapat serangan tiba-tiba. Tak ada persiapan, bahkan keterkejutan nya membuat nya membuka mata ingin protes, tapi ciuman itu begitu menuntut hingga tubuh nya sudah di tekan ke atas tempat tidur dengan tenaga yang begitu kuat.
Ronta-an itu berubah menjadi jinak. Bee tak lagi memukuli dada Bintang, justru mengendor. Kini tangan gadis itu bahkan sudah dikalungkan di leher Bintang. Ikut berpartisipasi dengan ciuman itu. Lidah saling mengait, sesekali Bintang akan menyapu langit-langit mulut Bee dengan lidahnya yang membuat rintihan kecil keluar dari bibir gadis itu.
Bahkan Bee sudah terbakar, bibir bintang di tarik dan di gigit nya pelan, di hisap berlama-lama, hingga deru nafas mereka saling berkejaran.
Kerjasama yang baik diantara keduanya membuat pino kini berdiri tegas, menyeruak dari balik boxer Bintang.
Pria itu menghentikan ciuman mereka dan merebahkan wajahnya di ceruk leher Bee. "Aku menginginkan mu Bee" bisik nya parau. Dan Bee tahu arti kalimat itu.
Diam sesaat. "Ini belum awal bulan, jatah kakak kan cuma sekali sebulan, kalau kakak ngambil sekarang, bulan depan kakak puasa loh" ucap nya malu.
Serasa menadapat lampu hijau, Bintang segara melepas dekapannya. Kalap membuka kimono nya, lalu melepas semua yang ada di tubuhnya, setelah nya membuka pakaian Bee. Persetan kalau bulan depan dia puasa, yang dia tahu, Pino saat ini ingin di puaskan, masuk dalam sarangnya.
Bee membuat tatapannya ke arah kamar mandi. Tak ada protes saat Bintang menelanjangi nya. Dan ketika Bintang sudah mulai mencumbu nya kembali, Bee terhanyut arus. Bintang menjelajah tubuh nya, meremas mencium, menghisap dan melakukan apa pun yang membuat Bee terasa terbang, dan dia suka!
Penyatuan itu Bintang lakukan dengan lembut, lalu setelahnya melesak dengan cepat, memompa tubuh Bee dengan cepat hingga keduanya meledak bersamaan. Puas dan nikmat.
Masih tersengal-sengal, Bintang menghempaskan tubuh nya ke sisi Bee. Menarik wajah cantik itu menghadapnya lalu, mencium lembut kening Bee dalam dan lama.
"Terimakasih sayang untuk kenikmatan Ini.." bisik nya.
Wajah memerah Bee begitu panas terasa. Terlebih saat ini mereka masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
"Mandi ya, aku mau mengajak mu ke suatu tempat" ucap nya parau. Bee hanya mengangguk. Tak bisa berkata apa-apa. Jantung nya masih berdebar cepat. Bintang memperlakukan nya begitu lembut dan penuh kasih. Saat Bintang mencium keningnya tadi, ada perasaan nyaman dan hatinya menghangat.
Bintang seperti biasa tampan dan gagah. Kaos oblong putih pas badan dan jas slim fit membuat penampilan Bintang mempesona.
Dengan sabar pria itu menunggu di ruang tamu. Senyum-senyum sendiri membayangkan pergulatan mereka satu jam lalu. Bahkan pangkal pahanya masih terasa berdenyut karena membayangkan.
Kepala nya menoleh ke arah bunyi langkah sepatu yang semakin mendekat. Senyum melengkung di wajah tampannya melihat gadis cantik yang begitu mempesona. Ada perasaan bangga di hatinya. Gadis cantik itu istrinya. Miliknya..yah..walaupun bukan seutuhnya karena hati gadis itu masih jauh dari jangkauannya.
"Istri siapa sih, kok cantik banget.." ucapnya sambil tersenyum, mengusap pipi lembut Bee.
"Yuk.." Bintang menggandeng tangan Bee.
Ini aneh. Setiap bersama Elang, jantung nya tak pernah berdetak secepat ini. Kenapa tiap di dekat Bintang justru bergetar dan membuat dadanya seperti sesak untuk bernafas.
Ga bisa nih..semakin lama gue dekat dengan doi, semakin sekarat gue..mana tiap hari makin cakep aja..
Sesekali Bee mengikuti kata hatinya untuk melirik Bintang yang sedang menyetir. Demi mengurangi rasa canggung, Bee ingin memutar lagu. "Masih lama ga nyampe nya kak?"
"Kenapa?" Bintang masih fokus melihat jalanan.
"Boleh putar lagu?"
Dengan gemas, Bintang mengusap kepala Bee. "Kok pake nanya sih?"
Bee sibuk membuka tas tangannya, mencari ponselnya, tapi tak ada.
"Kayak nya ponsel gue tinggal deh kak" sungutnya kesal masih sibuk ngecek tas nya sekali lagi.
"Kita balik aja" seru Bintang.
"Jangan lah, udah jauh juga. Biarin aja deh" ucap Bee membenarkan gaunnya yang naik hingga menunjukkan paha mulusnya.
"Nih, pake punya aku" Bintang menyodorkan ponselnya yang di terima Bee senang.
"Pw nya?"
"1602xx" sahut Bintang. Bee mengerutkan kening. Itu bukan tanggal lahir Bintang. Dia tahu karena di minta Bintang untuk mengarsipkan akte nikah mereka.
Itu juga bukan tanggal lahir nya atau tanggal mereka nikah. Terus itu tanggal apa? kalau lihat tahunnya, masih tahun ini.
Mau nanya, tengsin. Ga nanya penasaran. Tanya aja deh..
"Tanggal apa ini?" tanya nya berusaha terlihat cuek.
"Tanggal pertama kali aku ketemu sama bidadari, cantik banget" ucap Bintang tersenyum. Membawa dirinya kembali pada kenangan di malam itu. Malam yang mengubah hidupnya.
"Oh.." ada nada sedih di suara Bee. Kalau lah dia mau mengakui, itu bukan hanya sekedar kesedihan tapi juga cemburu.
Hatinya tak mengizinkan Bintang menyukai gadis lain selain dirinya. Egois kan? Kalau dirinya boleh menyukai Elang, bahkan bertemu walau masih berstatus istri Bintang.
Tak lama mobil memasuki halaman rumah besar bernuansa Eropa. Megah bak puri. Bee masih manyun. Sibuk dengan pikirannya. Hati nya dongkol, mood nya hilang.
"Kok cemberut? kenapa?" tanya Bintang yang sudah mematikan mesin mobil.