
Ekor mata Bintang menangkap gerakan Bee yang pamit pada Mark seusai dansa mereka. Arah toilet menjadi tujuan langkah Bee saat itu.
"Nan, aku ke toilet dulu" ucap nya meletakkan gelas wine yang sedari tadi sudah berulang kali di isi ulang nya.
Bersandar di dekat pintu toilet wanita, Bintang cuek dengan tatapan para wanita yang lalu lalang dan juga keluar masuk dari ruangan itu. Hingga sosok yang di nanti keluar, Bintang bergegas menyeret tangan itu menuju pintu darurat tak jauh dari toilet.
"Lepaskan kak, sakit" Bee menghentak pergelangan tangannya yang di cengkram kuat oleh pria itu.
"Apa tidak bisa kau jaga sikap?" salak nya mengunci pandangan Bee.
"Maksud kamu apa?" nyali Bee ciut hanya dengan menatap netra pria itu.
"Apa kau mengenal Mark?" Bee menggeleng.
"Lalu kenapa kau menerima ajakan nya untuk berdansa? mana pengacara busuk yang kau bilang kau cintai itu, hah?"
Bee masih tidak mengerti arah pembicaraan Bintang yang menyeretnya ke tempat ini, lalu marah-marah. Jujur dia tidak kenal dengan Mark, bahkan belum pernah melihatnya. Dia menerima ajakan pria bule itu agar bisa lepas dari Bintang.
"Kia maksudnya?"
"Kau boleh menyebutnya sesuka mu, bagi ku dia pria brengsek, yang tidak bisa menjagamu!"
"Dia ada kok, izin tadi nelpon, dan dia bukan pria brengsek" bela Bee. Geram karena Bee membela Kia, Bintang menendang tembok di sisi Bee.
"Ambil tas mu, pulang sekarang"
"Apa-apaan sih kak. Acaranya belum selesai. Lagian tadi pria bule itu ingin bicara sesuatu dengan ku. Katanya urusan kerja sama"
"Aku bilang pulang sekarang"
"Ga mau? ok..kalau begitu, Saga akan aku ambil. Aku bawa tinggal dengan ku" ancam Bintang menggunakan kartu AS nya. Dia tidak bisa membiarkan Mark lebih jauh berhubungan dengan Bee. Menghalau seorang Kia saja dia sudah pusing, jangan lagi di tambah si bule itu.
"Kakak kok gitu, ngancam aku? lagian Kia bilang tunggu sebentar, dia lagi nunggu seseorang di bawah menyerahkan berkas buat sidang besok"
"Ga pake. Kau pulang dengan ku. Lagian Saga pasti udah nyariin mama nya yang genit ini" mata Bee membulat. Tega sekali pria itu mengatakan dirinya genit!
"Hmmm?" Bintang menaikkan sebelah alisnya. Menunggu perlawanan Bee yang dia yakin tidak akan di lakukan gadis itu.
"Dasar menyebalkan. Yang brengsek itu bukan Kia, tapi kau Bintang Danendra!"
Bee sudah bergegas meninggalkan Bintang, tapi di tahan pria itu dengan menyandarkan tubuh Bee kembali ke tembok, mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka. Bee bisa mencium wangi parfum maskulin dari tubuh Bintang, hingga membuat jantung nya berdegub kencang.
Dasar sial! kenapa lo ganteng banget sih kak..pengen cium tahu ga!
"Lepas kak!" ucap nya yang lebih ke bentuk bisikan. Matanya terbuai dengan tatapan menguasai dari pria itu.
"Pulang!"
"Iya, aku kan harus ngambil tas aku dulu" dada Bee bergemuruh, hingga membuat nya sulit bernafas. Bibir mereka begitu dekat, bahkan ujung hidung mereka bersentuhan.
"Aku tunggu di parkiran. Jangan lama!" peringat nya mengendus wangi vanila di leher Bee yang berhasil membuat Bee hampir pingsan. Bagian lehernya panas di sengat bibir Bintang. Kecupan itu seperti setrum menyerang leher nya. Bee memejamkan mata, meremat pinggiran gaun nya.
Saat Bintang mengangkat wajahnya, Bee masih terpejam, hanyut dalam buaian gairah nya sendiri. Bintang tersenyum melihat reaksi Bee yang sudah menjadi jawaban atas tanya dalam hatinya.
Kamu masih mencintai ku, dasar gadis keras kepala!
"Cepat lah ambil tas mu, sebelum aku menggendong mu ke pangkuan ku" bisik Bintang di atas bibir Bee sembari tersenyum.
Suara Bintang menarik Bee kembali ke alam nyata. Bergegas dia mendorong perut Bintang, dan segera berlalu.
Setelah memilah, sakit perut menjadi alasan Bee pada Kinan, Hera dan Zen untuk pamit pulang. Tanpa curiga mereka pun menyampaikan simpati agar Bee lebih banyak istirahat.
"Halo, Kia" Bee menghubungi pria itu yang hingga kini belum kembali ke ballroom.
"Sebentar Bee. Sepuluh menit lagi gue naik"
"Oh..ga perlu Kia. Ga papa. Lanjut aja. Gue cuma bilang, gue pulang duluan. Saga.. Saga cengeng. Sorry ya.." ucap nya minta ampun karena sudah berbohong dan membuat Saga sebagai alasan.
"Tapi siapa yang ngantar? udah deh lo tunggu, gue ke sana sekarang" balas Kia cepat. Tidak tega membiarkan Bee pulang dengan Ojol.
"Ga papa Kia. Ini juga taxi nya udah datang. Aku tutup dulu ya, bye"
Tidak susah untuk mengenali mobil Bintang yang dulu juga sudah biasa menjemput nya di sekolah, setiap ada masalah yang terjadi dengannya. Bintang sudah duduk di balik kemudi, sementara pak Komar, supir pribadinya menunggu di luar.
"Nyonya.." sapa Komar saat membuka pintu mobil. Bee hanya memberi senyum dan masuk ke dalam. Duduk di samping Bintang yang menutup rapat mulutnya.
Mobil melaju, tidak satu pun dari mereka buka suara. Hingga tiba di rumah, Bee memilih untuk naik ke kamar. Mira yang mendengar suara pintu di buka, beranjak dari duduk nya di sofa. Dari raut wajah nya, Bee bisa menangkap kalau Mira sudah sempat tertidur menjaga Saga yang sudah terlelap di tempat tidur.
"Sudah pulang Nyah?" tegurnya bangkit.
"Iya. Udah lama dia tidur?" Bee mencium kening Saga sekilas.
"Sudah Nyah"
"Ya udah. Kamu istirahat aja Mir, terimakasih" ucap Bee tersenyum.
Pintu kamar sudah terdengar di tutup Mira seiring langkah nya yang menjauh, baru lah Bee tersadar gaun yang dia kenakan harus di bantu membukakan rentetan kancing di punggungnya.
Untuk kembali memanggil Mira, rasa nya Bee tidak enak hati, terlebih wajah kantuk Mira tadi sudah hampir membuat matanya susah terbuka.
Tapi gue ga mungkin tidur pake gaun ini kan?
Mengerahkan segala usahanya, Bee berhasil membuka kancing yang pertama, lalu saat hendak membuka yang kedua, seperti apa pun usahanya tetap tidak berhasil.
Keseriusan nya dalam membuka kancing itu, membuat telinga nya tidak mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat dan kini berdiri di belakangnya.
Seperti di sengat aliran listrik, saat jemari Bintang menyentuh punggung Bee yang sisi kiri kanan nya terbuka. Serta merta Bee menoleh, tapi Bintang menahan tubuh itu agar tetap membelakangi nya.
"Ka-kak..kau belum pulang?" lagi-lagi Bee berusaha untuk berputar, ingin melihat wajah Bintang.
"Diam lah.." sekali putaran Bintang membalikkan posisi Bee lagi. Dalam hening tangannya bergerak-gerak membuka kancing gaun Bee hingga batas pinggangnya. Tangan Bee menahan gaun itu di dada, tapi punggung t*lanjang nya sudah di nikmati Bintang sepuas yang dia mau.