
Malam hari, baru lah Bintang pulang, dengan perut kenyang setelah menyantap pindang patin buatan Bee yang katanya rasa nya sangat nikmat. Bahkan tiga kali tambah nasi.
"Aku pulang dulu sayang. Istirahat lah. Aku ga mau kamu nanti kelelahan dan jatuh sakit. Apalagi kita mau nikah kan?" ucap Bintang mencium puncak kepala Bee. Gadis itu masih tidak mau di cium bibirnya, sebelum sah menjadi istrinya kembali.
Oke, untuk saat ini Bintang akan coba bertahan. Dia akan menuruti apa pun keinginan gadis itu.
"Jangan ngomongin yang jauh-jauh dulu, kakak selesaikan masalah mu sama mbak Kinan" ucap Bee meminta kesungguhan pria itu.
"Pasti. Besok aku akan menemui Kinan. Dan masalah ibu, aku akan coba bicara pada nya. Buang pikiran buruk mu, percaya lah ibu pasti senang kita rujuk"
Dan setelah kepergian pria itu, Bee merenung, memikirkan nasib cinta mereka. Tak lupa dia berdoa, agar jalan untuk bersama di mudahkan oleh yang Kuasa.
***
Besok nya, Bintang berencana untuk menemui Kinan malam hari nya. Dia sudah meminta kesediaan gadis itu untuk bertemu di salah satu restoran, tapi Kinan menolak, meminta Bintang datang menemuinya di rumah nya.
Terlalu beresiko jika mengatakan kejelasan hubungan mereka di tempat gadis itu, Bintang tahu, dia tidak akan bisa terima perpisahan mereka, tapi Bintang tidak punya pilihan lain, karena Kinan tetap memaksa untuk bertemu di rumah
Selepas membereskan barang nya, Bintang bersiap untuk pulang dari kantor. Janji ketemu pukul tujuh malam, masih ada dua jam lagi waktu yang bisa dia gunakan untuk mandi.
Bintang sudah mengatur, dia hanya butuh satu jam untuk menjelaskan semua pada Kinan, dan setelahnya dia akan pulang menemui Bee.
Siulan riang sejak tadi tak henti dia perdengarkan ungkapan suka citanya. Masih baru keluar dari parkiran kantor, ponselnya berdering.
"Hai..my queen..ada apa sayang?"
"Tutup mulut mu dan segera kemari" suara ibu terdengar begitu serius. Hingga mampu menghilangkan senyum di wajah Bintang.
"Ada apa my lady, serius amat" Bintang masih coba mengajak nya bercanda, namun sedetik kemudian, bibir nya terkatup. Hanya diam mendengar rentetan kalimat dari sang penguasa hidupnya.
Bergegas Bintang mencari ibu ke setiap ruangan. Dia tidak punya waktu. Begitu banyak yang harus dia selesaikan hari ini hingga hanya butuh waktu 30 menit dia gunakan membelah jalanan menuju kemari.
"Nyonya besar sedang goya tuan, ada di dekat kolam renang" suara Yati menghentikan langkahnya dianak tangga kedua.
"Bukan nya biasa nya pagi ya?"
"Iya tuan, tapi tadi pagi nyonya tidak mood. Sore ini tiba-tiba meminta instruktur datang ke mari"
Untuk membunuh kebosananya menunggu, Bintang menghubungi Bee. Rasa rindu nya begitu bergelora, padahal tadi malam mereka bertemu. Seperti coklat, Bee juga buat nagih. Membayangkan wajah cantik Bee kembali menerbitkan satu senyuman di bibirnya.
"Hai sayang..lagi dimana?"
"Di rumah"
"Saga?"
"Ini lagi nen"
Dan otak mesum Bintang dengan cepat bekerja. Pikirannya bisa bercabang ke setiap Senti kulit Bee.
"Kapan kamu akan menyapih Saga, Bee? dia kan udah gede, masa nen terus"
"Waduh..jangan dong yang. Giliran aku kapan? itu kan juga punya aku"
"Dasar omes. Kakak mikirin apa sih. Udah, ga usah di bahas deh kak. Lagi dimana?"
Pertanyaan Bee tidak mendapat jawaban, kerena tepat saat itu suara yang dia kenali mengajak Bintang bicara.
"Udah yoga nya queen?"
"Udah. Seger banget ibu" Bu Salma masih berdiri di samping Bintang menatap wajah anak nya penuh bahagia
"Ibu aneh, kok lihatin aku kayak gitu. Jadi merinding nih. Horor tatapan ibu. Ada apa Bu?"
"Ga..ibu cuma lagi senang aja. Dan ibu mau berterimakasih sama kamu udah kabul kan harapan ibu"
Semakin bingung, Bintang memutuskan untuk bertanya. Sambungan telepon dengan Bee juga sudah terlupakan oleh nya hingga setiap percakapan mereka dapat Bee dengar.
"Harapan apa Bu? yang jelas dong. Aku ga ngerti ini"
"Idih..dasar pura-pura polos. Sampai kapan kau mau rahasia kan sama ibu, kalau kau udah punya kekasih? bahkan sudah akan menikah?"
Bintang sempat tertegun. Dari mana ibu nya tahu kalau dia dan Bee berencana rujuk dan akan menikah lagi. Niat nya tadi, Bintang akan selesaikan dulu dengan Kinan, setelah beres baru akan membawa Bee kehadapan ibu.
"Maksud ibu?" satu alis Bintang terangkat, benar-benar tidak paham.
"Tadi siang kekasih mu kemari. Cantik deh. Ibu suka sama dia, dan ibu setuju kalau kau dan Kinanti segera menikah. Pokoknya ibu hanya mau Kinanti yang jadi mantu ibu!"
Serasa di sambar petir, jantung Bee hampir berhenti berdetak mendengar ucapan ibu. Berarti ibu tidak akan bisa menerima nya. Dan Bintang? pria itu kembali membohongi nya. Mengatakan tidak ada hubungan dengan Kinan, nyata nya mereka bahkan akan menikah!
"Ibu ketemu sama Kinan?" Bintang masih shock. Menatap ibu dengan pucat.
"Tadi kan ibu udah bilang. Kinanti datang kemari ketemu sama ibu. Kami ngobrol lama, dan cocok. Anak nya juga baik. Ga hanya itu saja, ibu juga ngobrol lewat Video call dengan orang tuanya. Baik ibu atau pun orang tua Kinanti sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian" lanjut ibu begitu gembira.
Bintang ingin sekali menyangkal dan menjelaskan semuanya, tapi hati nya tidak tega melihat raut gembira ibunya.
Satu hal yang tidak di ketahui Bee, setelah perpisahan mereka, kesehatan ibu drop. Hanya termenung dan menyendiri, tidak melakukan rutinitas nya seperti biasa. Bahkan hobby nya berolah raga, senam dan yoga juga sudah dia tinggalkan.
Lalu bagaimana dia bisa merusak kebahagiaan ibu nya?
Sementara jauh di sana, Bee sudah menangis tanpa suara, mendengar dengan jelas setiap perkataan ibu. Tidak ada lagi tempat dan harapan untuk dirinya bersatu dengan Bintang.
Perlahan, Bee memutus sambungan telepon itu. Dia sudah cukup mendengar apa yang ingin dia dengar. Bee tidak ingin jadi egois, merusak kebahagiaan ibu. Satu hal benar yang harus dia lakukan adalah mundur teratur. Mengubur rasa cintanya pada Bintang.
Bintang yang duduk di sofa, tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Pikirannya kini kacau. Bingung harus apa. Ibu sudah pergi ke kamarnya untuk mandi. "Jangan lupa jumpai orang tua Kinanti, mereka sedang menunggu mu saat ini" ucap ibu sebelum berlalu.
Semangat yang tadi dia rasakan, kini menguap hilang dari tubuhnya. Terbayang wajah sedih Bee kalau sampai dia tahu apa yang barusan ibu ucapkan. Bee?
Tiba-tiba Bintang tersadar, lalu mengambil ponselnya. Wajah merana tampak pada wajahnya. Bee sudah mematikan ponselnya. Dan hati nya bilang, gadis itu mendengar semuanya.
Hidupnya kembali terhempas pada kehancuran.