
Ancaman Ranika bukan main-main. Setelah pergi dari kantor Bintang, Ranika pergi ke rumah ibu Salma.
"Bagaimana kabar ibu? ini aku bawakan buah untuk ibu" ucap nya manja, menyerahkan buah tangannya ke pelayan dan menghambur memeluk ibu.
"Ibu sudah mendingan. Walau kadang sakit kepala ini terus saja lengket" ucap Bu Salma duduk berdampingan dengan Ranika.
"Ibu senang kamu datang. Sedikit banyak ibu jadi terhibur. Ada yang menemani ibu"
"Aku mau menemani ibu selamanya di sini" ucap nya tersenyum.
"Terimakasih. Seandainya ibu punya anak laki-laki satu lagi, ibu pasti akan menjodohkan nya dengan mu" ucap ibu mencubit dagu Ranika lembut.
Serasa mendapat tangga untuk naik atas omongan ibu, Ranika bersemangat menjalankan misinya. Digenggam nya tangan ibu, dan mulai menyatakan niatnya.
"Kalau begitu, jadikan Ranika mantu ibu. Aku mohon Bu"
Senyum yang sedari tadi menghiasai wajah ibu menghilang mendengar ucapan Ranika. Bu Salma menatap wanita itu mencari tanda-tanda kalau gadis itu sedang bercanda. Tapi genggaman tangan Ranika padanya meyakinkan ibu bahwa Ranika bersungguh-sungguh.
"Ran, kau tahu sendiri kalau anak ibu ada dua, dan keduanya sudah menikah, beristri. Tapi tunggu.." ibu tampak berpikir.
"Maksud mu, kau mau sama Piter? kau tahu kalau dia akan segera bercerai?" tebak ibu arah tujuan ucapan Ranika.
Ranika segera menggeleng. Dia tidak mau, ibu salah tanggap. Piter tidak ada dalam kamus nya, yang dia mau hanya Bintang.
"Bukan Bu, aku sudah menganggap Piter seperti adik ku. Nikah kan aku sama Bintang Bu.." Bola mata ibu yang tadi nya sayu membulat, terkejut atas apa yang dia dengar.
"Kau tahu sendiri Bintang memiliki istri, kenapa kau bicara seperti itu. Ucapan seperti itu tidak baik di buat becandaan, Ran"
"Aku ga bercanda Bu, aku mencintai Bintang. Dan aku siap jadi istri keduanya, dan tinggal di sini menemani ibu"
Bu Salma menarik tangannya dari genggaman Ranika. Dia tidak menyangka Ranika punya pikiran buruk seperti itu. Menginginkan suami wanita lain adalah perilaku wanita yang tidak punya akhlak.
"Jangan pernah mengatakannya lagi. Ibu tidak mau mendengar lelucon seperti itu lagi!" Bu Salma mengambil cangkir keramik yang berisi air jahe hangat, meminum sedikit demi sedikit.
"Maaf kan icha bu. Tapi ga ada yang bisa aku lakukan lagi. Tidak akan ada yang bisa menerima ku lagi Bu. Aku cuma berharap Bintang mau bertanggung jawab" Ranika merosot di kaki bu Salma, memeluk dengan erat kaki wanita tua itu.
Penuh tanda tanya Bu Salma memandang Ranika. Kepalanya kembali nyut-nyut. Pelan di pijit nya keningnya, berharap sakit kepalanya bisa berkurang.
"Maksud mu apa, Ran?"
Mulai lah Ranika menceritakan semua peristiwa dari masa lalu mereka. Cerita itu di kemas dengan sangat epic, seolah dia sudah menulis skenario nya berhari-hari lalu, menghapal nya hingga begitu bisa di hayatinya dengan sebaik mungkin. Bisa di tebak dari semua penuturannya, yang benar hanya 60%, sisa nya adalah bumbu yang sudah di perhitungkan nya bisa membuat ibu tergugah.
Bu Salma menyodorkan tisu ke hadapan Ranika yang di terima gadis itu lemah. "Sudah Ranika, nanti kau sakit. Kalau begini ibu jadi pusing. Kalau benar apa yang kau katakan tadi, seharusnya Bintang memang bertanggung jawab padamu. Tapi.." ibu menarik nafas berat lalu membuangnya. Tampak alis nya bertaut memikirkan masalah yang tidak ada habis nya.
"Tapi apa Bu? aku ga meminta lebih, hanya menjadi istrinya."
"Apa Bee mau di madu?"pertanyaan itu di tujukan lebih ke dirinya dari pada ke Ranika.
"Ibu harus janji, menolong ku Bu. Bantu membujuk Bintang"
Ibu tidak bisa memberikan jawaban apa pun lagi. Kepalanya semakin sakit. Dia kenal anak sulung nya. Bagaimana pun dia membujuk Bintang untuk membantu Ranika, belum tentu akan di dengar. Apa lagi ibu tahu Bintang sangat mencintai istrinya.
"Pulang lah Ranika"
"Tapi Bu.."
"Ibu minta kau nurut. Kau pulang dulu, kepala ibu sakit. Ibu janji akan bicara dengan Bintang" mendengar janji Bu Salma hati Ranika melambung. Jika ibu sudah ada di pihaknya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan nya lagi.
***
"Nyonya Danendra ini lagi buat apa?" bisik Bintang memeluk tubuh Bee dari belakang. Gadis itu sontak tersentak baru menyadari kehadiran pria itu saat melingkarkan tangannya di pinggang ramping Bee.
"Kakak..ngagetin" balasnya memiringkan wajah nya hingga Bintang bisa menyatukan bibir mereka.
"Aku rindu.." bisik Bintang yang sudah bermain di leher Bee. Suara ******* pria itu berhasil membuat bulu kuduk Bee meremang. Pria itu selalu tahu titik lemah nya.
"Aku juga rindu. Tapi aku ga bisa sekarang, nih" ucap nya mengangkat tangannya memperlihatkan jemarinya yang penuh dengan tepung.
"Ada air buat nyuci. Aku juga ga keberatan kita main tepung tepung-an juga"ucap nya masih menggoda.
"Nanti malam, kalau kakak jadi anak baik"
"Pengen nya sekarang sayang"
"Nanti malam kak. Atau tunggu adonan donat nya jadi dulu" ucap nya tersipu. Semakin hari Bintang selalu meminta dirinya. Melahap tubuhnya hingga pagi. "Biar kamu cepat hamil yang" ucap nya setiap Bee protes untuk bertempur untuk ke empat kali nya malam itu.
Tapi demi menyenangkan suaminya dan menebus rasa bersalahnya, Bee dengan senang hati melakukan apa pun permintaan sang Raja.
"Kenapa cepat pulang?" lanjut Bee. Yang di tanya justru sibuk menciumi daun telinga dan tengkuk nya.
"Kak, kenapa kok udah pulang? ga ada kerjaan?" Bintang bukan tidak mengerti, tapi dia masih memilah apa yang harus dia sampaikan pada Bee. Tentu saja harus sekarang sebelum nenek lampir bernama Ranika itu mendahului nya mengatakan pada Bee.
"Sayang..aku ingin membicarakan sesuatu yang serius" Bintang menegakkan tubuhnya walau tangan nya enggan untuk enyah dari pinggang Bee.
"Sebentar aku tutup dulu adonan ini, biar ragi nya buat mengembang adonan nya" ucap Bee melihat keseriusan di wajah Bintang. Hati nya mulai berpacu, berharap bukan hal buruk lagi yang akan di sampaikan Bintang.
Bintang menuntun Bee ke luar dari dapur menuju kolam bereng. Mereka perlu privasi. Niatnya Bintang ingin membawa ke kamar, tapi Bee menolak, tidak ingin mengambil jarak yang jauh karena sudah tidak sabar ingin mendengarkan.
Mereka duduk di tepi kolam, dengan kaki berendam di dalamnya. Matahari mulai malu untuk menunjukan cahaya, hanya sebagian tempat yang tampak kena pencahayaan.
"Bee..sayang..Ranika datang ke kantor ku lagi hari ini" ucap Bintang berhati-hati.