Sold

Sold
Ciuman pertama



Saat memanjakan matanya menikmati pertunjukan gadis yang belum tahu siapa namanya, seseorang tengah berbisik di dekat pria itu, lalu kedua nya menghilang, dari pintu sisi panggung yang lain.


Acara fashion show itu berjalan sukses. Bee benar-benar memukau semua yang hadir, tak hanya para pria, banyak wanita sosialita mengagumi penampilannya. Namun tetap, dia hanya muncul untuk sekali peragaan, tapi itu sudah lebih dari cukup baginya. Dia puas. Dia masih pemula, di izinkan ikut berpartisipasi dengan top model senior lainnya saja adalah sebuah kehormatan sekaligus prestasi baginya.


Bee menarik diri dari keramaian, menenangkan hati nya dengan pergi ke belakang gedung yang di sekitar taman tempat itu. Ada air mancur yang menarik perhatiannya, hingga menyeret langkahnya sekedar untuk menghirup udara segar di sana.


Terlalu banyak kebisingan, teriakan dan kehebohan, oh..jangan lupakan kepalsuan. Dunia artis, model, dunia hiburan yang sarat akan kemunafikan!


Bee menyelinap, toh tak seorang pun yang akan mencari nya. Siapa dia? ibarat main film, dia adalah cameo yang bertugas lewat sekali saja dalam satu adegan, paling berdurasi dua menit, udah, selesai!


Gadis itu duduk di bangku di dekat air mancur itu. Patung Cupid yang berdiri di tengah kolamnya, memuntahkan air jernih, terdengar gemericik, di telinganya. Bee sudah melepas topengnya. Membebaskan kulit wajahnya yang harus tampil sempurna penuh senyum bagi orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal di dalam sana.


Dengan kegembiraan seorang bocah, Bee menyentuh air itu, membasahi tangannya, lalu sisa air yang membasahi telapak tangannya, di sentuh kan ke sepanjang leher jenjangnya, yang tanpa di sadari nya, seseorang sedari tadi menikmati adegan erotis itu dalam diam di tempat gelap nya berdiri.


"Harus nya kamu tak melakukan hal itu, bisa membasahi gaun (tubuh) indah mu nanti" ucapnya tidak sejalan antara pikiran dan bibirnya.


Mendengar suara itu, Bee kaget hingga hampir terjungkal kebelakang. Dia pikir hanya dirinya yang ada di tempat itu. Perlahan pria itu keluar dari tempat persembunyiannya, masih lengkap dengan stelan jas mahalnya dan topeng yang melekat di wajahnya.


"Siapa kamu?" bentak Bee tak suka. Kesal melihat sikap pria itu yang mengintipnya diam-diam. Well, ok bukan mengintip, tapi pria itu lebih tepatnya memperhatikan tingkah nya diam-diam.


"Aku..? hanya orang yang sama dengan mu, ingin mencari udara sejuk, di dalam terasa pengap penuh hiruk-pikuk" jawabnya santai, kini sudah berada berdiri menjulang di depan Bee.


Dengan mata penuh amarah, Bee menatap pria arogan itu dengan mata indahnya. Berharap tampang galak nya bisa membuat pria itu takut, lalu pergi meninggalkannya sendiri.


"Siapa kamu?" ulang Bee. "Sedang apa kamu disini? kamu ga boleh sembarangan masuk ke tempat pribadi seseorang" ucapnya semakin kesal karena melihat wajah santai sang pria misterius.


"Kamu sendiri, kenapa bisa kemari? taman ini juga pastinya bukan milik kamu kan?" ucapnya tersenyum, memamerkan deretan gigi putih yang berbaris rapi.


"Bagaimana kalau aku bilang, aku pemilik tempat ini? aku yang mengadakan acara ini? secara langsung berarti aku pemilik taman ini" kali ini pria itu terkekeh, geli rasanya saat hampir seluruh model di dalam sana, baik senior atau pemula mengenal dirinya, bahkan sudah banyak jadi teman kencannya, ada satu jentik yang sama sekali tak perduli, bahkan tak berusaha untuk menarik simpatinya.


"Kalau mimpi jangan ketinggian, nanti lo jatuh. Ga sekalian lo ngaku yang jadi investor kita?pihak garmen yang mau kerjasama dengan kak Seba? hah?" bentak Bee sudah habis kesabarannya.


"Tepat sekali nona, gue lah orangnya, gue yang bayar kalian, gue yang kasih kerjaan sama Seba , hingga buat fashion show malam ini" ucapnya jumawa.


"Dasar sarap, lo kepedean banget ya ngaku-ngaku tuan Danendra! Dasar ga tahu malu. Kalau mau bokis, kira-kira dong lo! Kalau lo bilang lo itu supirnya atau lo pacar salah satu model itu, gue masih percaya, tapi lo ngaku jadi tuan Bintang? dasar Psycho!" maki nya lalu bangkit dari duduknya untuk beranjak pergi, namun baru selangkah, pria itu sudah mendorong dan mengunci tubuh ramping itu ke tembok di dekat pintu masuk, lalu tanpa di duga, menempelkan bibir nya pada bibir lembut kenyal milik Bee. Masih terkejut, sekuat tenaga Bee mendorong tubuh pria itu, namun sungguh terasa tak berdaya. Pria kekar itu menguncinya sangat sempurna dengan tenaga yang kuat.


Ingat jurus yang diajarkan Kia padanya, Bee menendang ************ pria itu, hingga mengaduh kesakitan, melepas pegangannya pada Bee, hingga dia bisa kabur, menyelinap masuk ke dalam.


Rasanya ingin menangis, sungguh tragedi. Dia mengutuk pria itu berpuluh kali malam itu. Ciuman pertamanya yang dia jaga, yang ingin dia persembahkan untuk Elang saat mereka bertemu lagi nanti, kini sudah di renggut pria br*ngsek itu. Jika bisa menjerit, dia akan menjerit, tapi rangkaian acara masih berjalan. Dia tidak mungkin mengacau kan acara kak Seba, terlebih mempermalukan dirinya sendiri.


Saat masuk, Bee sempat melihat tante Di yang asik ngobrol dengan teman sosialitanya, sambil mengemil kudapan yang di sediakan yang semuanya tampak enak.


Bee memilih untuk masuk ke toilet, menangis sejadinya. Setelah puas, memperbaiki riasannya lalu berjalan ke back stage lagi, hingga asisten kak Seba memintanya untuk bergabung bersama model yang lain.


Nampak wajah-wajah berseri para model cantik itu, menyalami menyambut kedatangan beberapa pengusaha top di Indonesia yang sudah memasuki ruangan yang di sediakan untuk para tamu khusus.


Kak Seba tiba-tiba menarik tangannya, lalu membawa dirinya ke tempat kak Seba tadi sempat ngobrol dengan dua pria ber jas, yang salah satunya gendut dan sudah berumur, mungkin seumuran papanya atau lebih, tersenyum ke arahnya, menarik tangan Bee lalu membawa punggung tangan mulus Bee untuk diciumnya.


Bee hanya pasrah, dengan senyum agak dipaksakan, menerima buket bunga yang di berikan pria genit itu padanya. Semua orang di ruangan itu juga tahu kalau si om genit tertarik pada Bee.


Sempat Bee melayangkan tatapan ke sekelilingnya, saat mengambil minuman untuknya, rasanya malam ini terlalu banyak kejutan yang dia terima, walau semua nya menyebalkan dan membuatnya kesal dan marah. Matanya tertuju pada beberapa model yang berkerumun, berbisik-bisik membicarakan dirinya, namun masih bisa dia dengar. "Eaaak..bentar lagi juga bakal di bungkus, bawa ke hotel..dasar pec*n, sok suci lo!"