
Hanya dari sinar pencahayaan dari gedung tinggi di depan sana yang masuk ke dalam kamar itu. Cahaya temaram yang menerobos masuk ke dalam ruangan itu, menerangi kedua insan yang tengah berpelukan dalam diam di atas ranjang.
Kirei sudah tidak menangis lagi. Bahkan kini dia bisa menggesek-gesek kan pipinya di dada bidang Piter sembari melengkung kan sebaris senyum yang tidak terlihat oleh Piter.
Kesepakatan sudah tercapai. Posisinya tetap aman. Hanya itu yang dia butuhkan saat ini. Masalah yang lain, nanti dia bisa atur kembali.
"Jadi kau mau nya gimana?" tanya Piter setengah jam lalu, meneruskan perdebatan alot mereka. Kirei yang menangis sesunggukan tidak mau diam walau sudah dibujuk.
"Pokoknya aku mau kita tetap bersama"
"Kan aku udah bilang Rei, ibu minta aku nikahin wanita itu"
"Ya sudah. Nikahi saja dia. Sampai anak itu lahir, lalu kau bisa menceraikannya. Dan sempai masa itu datang, aku akan selalu di sisimu" ucap Kirei menghapus air mata.
Menjadi gadis polos tidak bisa lagi menggugah hati Piter, jadi Kirei memutuskan berubah jadi gadis cerdik. Biarlah Piter menikahi wanita itu. Mereka tetap bisa bersama. Piter tetap bisa bercinta dengan nya, menjadi miliknya, sampai bayi itu lahir dan Piter akan menceraikan wanita itu.
Tampaknya apa yang di ucap kan Kirei, sedikit banyaknya diakui Piter sebagai solusi yang tepat. Bukan kah ibu hanya minta menikahi Kinan demi bertanggung jawab atas anak yang dia kandung?
Dan dari pemikiran itu lah, keduanya sepakat. Kini mereka berbaring berdua setelah lelah melepas hasrat yang bergelora. Kirei wanita lihai yang begitu membuatnya tergila-gila di atas ranjang.
"Kenapa sih beb, kamu harus pakai pengaman? harus nya tadi kamu lepas aja, biar aku hamil, jadi ibu bisa merestui kita nikah" ucap Kirei bermain dengan bulu-bulu halus di dada bidang Piter.
"Kamu tahu sendiri aku ga suka anak kecil. Ini aja kepala ku udah puyeng, bakal punya anak"
Kirei hanya bisa diam. Dia tidak ingin memaksa. Dia tidak sebodoh Ela, teman satu kerjaan nya yang lebih dulu menjadi teman kencan Piter. Ela yang terlalu menuntut membuat Piter gerah dan memilih meninggalkan Ela. Lihat sekarang bagaimana nasib Ela, tetap miskin dengan mengharapkan uang tip dari pelanggan bar.
Walau Kirei masih tetap bekerja di bar itu, tapi tujuan utama nya bukan lah uang. Kalau masalah jumlah tabungan, isi nya saja bisa menjamin hidup nya tetap mewah dalam tiga tahun ke depan tanpa bekerja. Memilih tetap di bar terbesar di kota ini hanya ingin membunuh kesendirian dan rasa sepi nya jika Piter sedang tugas ke luar kota atau ke luar negri.
Alasan lain nya juga karena Kirei memang pecandu alkohol. Gadis itu bahkan tidak bisa nyenyak tidur kalau tidak diantar dua hingga tiga gelas alkohol.
***
"Pagi bos.. wajah bos tampak cerah, apa nilai saham kita naik lagi bos?" sapa Riko mendekati meja Bintang guna meletakkan map berisi file yang harus mendapat persetujuan Bintang.
"Ini lebih dari itu, ko" ucap nya dengan senyum manis. Justru Riko bergidik menatap wajah bos nya itu. Tampang iblis berubah bak malaikat hanya dalam dua hari. Perasaan Riko, Jumat kemarin terakhir mereka bertemu di kantor, wajah bos nya masam seperti belimbing asam yang di petik paksa, kini sudah berubah semanis madu.
"Ada apa bos? saya jadi penasaran"
"Coba tebak. Kalau benar, mobil merah yang di parkiran buat lo!"
"Serius bos?" wajah Riko sumringah. Gila, mobil sport itu sudah lama di idamkan nya. Pajak nya saja sudah setengah dari gaji nya. Riko akan buka mulut untuk menjawab, tapi berhenti karena mendengar ucapan Bintang.
"Kesempatan lo cuma sekali buat nebak. Kalau salah, wassalam!"
Riko harus memutar otak. Berfikir keras. Sudah bertahun mengikuti bos nya, dia tidak pernah tampak sebahagia ini. Apa yang bisa membuat raja sadis ini begitu gembira. Harta, wanita, hal yang biasa buat nya, kecuali..satu! Senyum kemenangan terbit di wajah Riko. Tebakan nya pasti benar. Bahkan dia rela mempertaruhkan lehernya.
"Ayo cepat. Sebelum gue berubah pikiran!" hardik Bintang yang membuat Riko tersentak dari lamunannya.
"Kalau bos se-senang ini, hanya ada satu penyebabnya. Bos pasti rujuk sama mantan nyonya kan?" ucap Riko yakin seribu persen!
"Yang bisa mencerahkan hidup bos yang seperti zombi kan cuma nyonya Bee, bos. Ga jauh-jauh deh, ibarat nya bos nyonya itu udah kayak matahari, kalau ga ada beliau, dunia bos gelap! Bos kan bucin gila sama nyonya bos"
"Apa aku selemah itu?" tangan Bintang mengepal, geraham nya bergemeretak ingin menghabisi pria yang terlalu jujur ini.
"Iya. Bos memang lemah. Di luar aja bos tampak garang. Sama siapa aja, bos suka maki, bahkan setahu saya hobby bos itu mukul orang, kalau ga berkelahi dalam sebulan kayak mau mati rasa badan bos itu"
"Se br*ngsek itu?"
"Iya, bos emang rada br*ngse.." kalimat itu berhenti di ujung lidah Riko saat melihat Bintang sudah mengambil tongkat bisbol di samping nya dan melayangkan nya ke udara.
"Tapi bos tetap yang terbaik. Hati bos lembut dan begitu pemaaf.." cepat-cepat Riko mengumandangkan kalimat penyelamat lehernya.
"Nih.." Bintang memungut kunci di atas meja kerjanya dan melemparkan pada Riko yang dengan sigap di tangkap pria itu.
"Cepat lo angkat kaki dari sini, sebelum kepala lo gue jadiin bola" Bintang masih mengayun-ayun kan tongkat nya ke udara. Riko buru-buru melangkah mundur dengan senyum di tampang bodoh nya dan segera cabut menghilang di balik pintu.
Tidak ada satu pun yang boleh dan bisa mengubah suasana hatinya saat ini. Dia bahkan sudah tidak sabar menghitung hari, bulan depan dia akan menikah untuk kedua kalinya dengan wanita yang sama.
Dan kali ini, dia menikahi wanita itu bukan karena rasa tertarik dan obsesi nya semata, tapi karena mereka saling mencintai.
Lengkap lah sudah kebahagiaan nya kini. Tidak henti-hentinya senyum terkembang di wajahnya. Ada keinginan untuk menghubungi gadis nya yang sudah tidak gadis lagi itu.
"Hai.." sapa nya menatap layar ponselnya. Tampak wajah cantik itu cemberut menatapnya.
"Ada apa kak?" Bee mengerucutkan bibirnya tanda tidak senang.
"Kok cemberut sayang?"
"Ga papa"
"Kenapa? siapa yang buat kamu bad mood? bilang sama aku. Biar ku habisi dia!" ucap Bintang serius. Dia tidak ingin siapa pun mengganggu kekasih nya.
"Yakin kakak bisa menghabisi orang yang udah buat aku bad mood?"
"Yakin. Siapa Bee, bilang"
"Nih, yang lagi nelpon aku. Habisi lah"
Bintang diam sesaat. Yang lagi menghubungi Bee adalah dirinya, jadi maksud Bee..
"Kan itu aku, yang.."
"Iya, emang.."
"Tapi kenapa? kamu ga suka apa kita video call an kek gini?"
"Bukan ga suka kak, tapi kita baru siap video call an lima belas menit yang lalu, sekarang Kakak udah nelpon. Aku lagi di jalan mau ke kampus. Ada kuliah, udah ya!" blam! sambungan di putus sepihak.