Sold

Sold
Tamu spesial



Agenda anggota keluarga Danendra hari ini, berkumpul di rumah utama. Selagi masih mau dianggap anak dan mantu dan cucu yang baik, wajib hukum nya datang ke rumah ibu suri!


Berbeda dengan tahun sebelumnya, ulang tahun Bu Salma tertutup bagi umum. Tidak ada pesta, tidak ada tamu undangan. Oh..lupa, ada satu tamu undangan. Andri Setiawan akan menjadi tamu khusus hari ini.


Sudah sejam lalu Bu Salma berdandan. Menatap wajah nya di depan cermin dengan senyum puas. Dia tampak cantik dan kata Yati, asisten pribadinya, dia tampak lebih muda tiga puluh tahun. Sementara hair stylist masih menata rambutnya, bu Salma sibuk memposting foto yang sejak tadi diambil Yati ke akun fesbuk nya.


"Yati, semua menu sudah siap?" tanya tanpa mengalihkan keseriusan nya dari layar ponsel.


"Rebes nyah.."


"Good!"


Member pertama yang tiba adalah Piter dan istri. Bu Salma sudah menanti di depan rumah dengan gaun indah serta riasan bak ratu sejagad.


"Selamat ulang tahun queen.." Piter memeluk dan mencium kedua pipi, kening, dan puncak kepala ibu.


"Terimakasih Malin, akhirnya kau berguna juga jadi anak. Ibu gembira sekali, melihat kau dan istrimu yang cantik ini bisa datang ke merayakan ulang tahun ibu" ucap nya menepuk pipi kanan Piter pelan.


"Wahai Bundo kanduang, jangan lah memanggil den dengan nama Malin"


Keduanya pun tertawa bersama. Hati Kinan menghangat melihat kekompakan ibu dan anak itu. Sebenarnya dia sangat senang bisa menjadi bagian dari keluarga ini, penuh dengan kehangatan dan juga kasih sayang. Sayang, dirinya bukan di ditakdirkan untuk seterusnya menjadi bagian keluarga ini.


Piter tidak mencintainya! itu kenyataan yang harus dia terima. Kalau pun beberapa hari lalu dia mengatakan tidak ingin bercerai, tapi itu hanya demi senyum ibu.


Maaf, tapi Kinan tidak bisa hidup dengan pria yang tidak mencintai nya.


"Ibu, selamat ulang tahun, aku doakan yang terbaik untuk ibu" ucap Kinan mencium pipi kanan dan kiri Bu Salma. Baru akan menjauh dari wanita tua itu, Bu Salma menarik Kinan dalam pelukannya.


"Terimakasih. Umur ibu semakin panjang melihat kau masih bersama Piter, si berandalan itu. Ibu mohon Kinan jangan tinggalkan dia" ucap Ibu lirih di telinga Kinan yang masih bisa di dengar Piter.


Sudut hati Piter bergetar mendengar ucapan ibundanya karena itu juga lah yang dia inginkan. Bersama dengan Kinan selamanya. Sementara Kinan mengucap kata maaf dalam hati karena mungkin keinginan Bu Salma tidak akan bisa di penuhi.


Sembari menunggu kedatangan anak mantu dan cucunya, Bu Salma mengajak keduanya untuk menikmati secangkir teh di ruang tamu.


Tak lama Yati datang bersama seorang gadis cantik yang tersenyum mempesona. Ketiga nya melihat gadis itu penuh tanya akan siapa gerangan dirinya.


Namun itu hanya sesaat. Piter lah orang pertama yang mengenalinya. "Ranika..." pekiknya.


"Hai..long time no see" ucap nya menghambur kepelukan Piter yang sudah berdiri.


"Hai Bu" ucap nya pada Bu Salma. Tapi wanita itu masih belum bisa bekerjasama dengan memorinya untuk mengingat keberadaan gadis itu.


"Ini Ranika Bu, Icha..masak ibu lupa" ucap nya manyun. Suara manja nya lah yang membuat Bu Salma mengingat tentangnya.


"Ya Allah..Ranika...kamu nak. Ya ampun..udah lama ga ketemu. Cantik kamu sekarang nak" ucap Bu Salma girang karena sudah berhasil mengingat Ranika.


"Emang dulu aku ga cantik?" ujar nya manyun.


"Cantik, tapi sekarang tambah cantik" ucap ibu.


Ketiga nya asik bercanda mengenang masa lalu mereka, seolah lupa Kinan ada di sana. "Mau minum apa?" tanya Kinan seolah ingin mengingatkan mereka kalau masih ada manusia lain yang ada di ruangan itu selain mereka bertiga.


"Oh..sampai lupa. Kenalkan Ran, ini Kinan. Mantu ibu. Istri Piter" ucap Ibu membelai rambut Kinan


"Hai..aku Ranika. Putri Bu Salma" ucap nya memamerkan senyum. Bu Salma hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Ranika seraya membenarkan dalam hati. Ranika memang sangat di sayang semua anggota keluarga Danendra, bahkan almarhum suaminya. Bahakan dulu, sangking sayangnya pada Ranika, kedua keluarga berencana menjodohkan Bintang dengan Ranika.


Tapi karena keluarga Ranika pindah ke Singapura, hubungan kedua keluarga itu jadi semakin renggang.


"Kinan. Sebentar aku buatkan minum" ucap Kikan pamit. Dari dapur, Kinan masih bisa mendengar gelak tawa ketiganya. Berharap seseorang bisa membawanya keluar dari situasi menjengkelkan ini.


Doa Kinan seakan terjawab. Seseorang yang diminta untuk bisa menyelamatkan nya datang dalam bentuk seorang wanita yang sudah dianggap mengerikan oleh Ranika. Bellaetrix Elaina atau si lebah.


Bintang dan keluarga nya tiba dengan kehebohan dari Saga. Anak itu sudah berlari melihat aquarium raksasa yang ada di ruang keluarga rumah nenek nya.


"Itu pasti cucu kesayangan ku.." ucap Bu Salma bangkit. Dengan semangat dia menyongsong ke depan.


"Nenek.." ucap Saga dengan suara cadel khas anak-anak nya.


"Uduh..cucu kesayangan nenek"


"Hai queen, cakep amat hari ini. Mau lamaran ya?" celetuk Bintang yang mendapat jitakan di kepala Bintang.


"Bee, apa kau tidak bisa menggiling cabe dan memasukkan nya ke mulut suamimu agar tahu akhlak kalau bicara pada orang tua?" sungut ibu mendelik pada Bintang.


"Tidak mungkin Bee mau melakukannya Bu, bisa kepedesan dong nanti bibirnya kalau kita lagi ciuman" ucap nya tanpa beban yang membuat wajah Bee memerah dan mata membulat melihat Bintang.


"Dasar anak durjana, tidak tahu malu. Sudah, ibu tidak mau dengar lagi"


"Ga usah di tanggapi Bu. Ini hari istimewa ibu. Selamat ulang tahun ibu, sehat selalu dan panjang umur" ucap Bee mencium pipi mertuanya dan seperti pada Kinan, Bu Salma menarik Bee dalam pelukannya.


"Queen, bertambah nya usiamu, semakin tua pula ibu, jadi lah ibu yang baik, jangan nakal" ucap Bintang menarik paksa bu Salma dalam pelukannya.


"Aku tidak mau meladeni mu. Aku sudah berjanji pada diriku, asal kau bisa membawa mantu ku ini kembali pada keluarga kita, apa pun tingkah gila mu akan ibu maafkan" ucap nya mengelus pipi Bee.


"Ayo masuk. Ada tamu spesial yang ingin bertemu dengan kalian" ucap ibu melangkah bersama tangan Saga dalam genggamannya.


"Paling juga papa nya Kinan. Lama-lama aku curiga yang, jangan-jangan janda dan duda itu ada niat" Bee reflek mengikut perut Bintang hingga mengaduh sakit.


"Yang.." ringis nya.


"Makanya, kalau ngomong jangan suka ngaco!"


"Sakit yang.." Bintang menunduk memegangi perutnya. Wajah nya tampak kesakitan.


"Beneran sakit kak? coba lihat" ucap Bee mendekat, memeriksa perut Bee. Tapi hal terkahir yang dia sesali adalah percaya pada singa jantan nya. Secepat kilat Bintang menangkup wajah Bee dengan kedua tangannya, lalu menarik wajah cantik itu untuk dia nikmati bibirnya.